Health / Konsultasi
Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi sakit perut, IBD. (Pexels/Sora Shimazaki)
Baca 10 detik
  • Inflammatory Bowel Disease (IBD) adalah peradangan kronis non-infeksi pada saluran cerna yang berisiko menyebabkan kanker usus besar.
  • Kasus IBD di Indonesia meningkat karena faktor genetik dan lingkungan, serta semakin canggihnya teknologi alat diagnosis medis.
  • RSCM kini menyediakan layanan terpadu dan pengobatan mutakhir, sehingga pasien tidak perlu berobat ke luar negeri lagi.

Suara.com - Sakit perut, diare, atau buang air besar berdarah sering kali dianggap sebagai gangguan pencernaan ringan akibat salah makan atau infeksi bakteri sesaat. Namun, jika keluhan tersebut tak kunjung mereda dan disertai penurunan berat badan drastis, bisa jadi itu adalah alarm dari kondisi kesehatan yang jauh lebih kompleks: Inflammatory Bowel Disease (IBD).

IBD merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik pada saluran cerna yang secara garis besar mencakup penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan unclassified IBD (IBD-U). Berbeda dengan radang usus karena infeksi, seperti TBC usus, amuba, atau HIV, IBD tergolong peradangan non-infeksi yang penyebabnya sangat multifaktor. Kondisi ini bisa dipicu oleh kerentanan genetik, gangguan mikrobiota usus, disregulasi sistem imun, hingga faktor lingkungan dan pola makan.

Yang patut diwaspadai, penyakit ini seringkali mengintai kelompok usia produktif, yakni pada rentang usia 15–30 tahun. Jika tidak ditangani dengan tepat, perjalanan penyakit IBD yang tidak terkelola dengan baik dapat berujung menjadi kanker usus besar.

Meningkatnya Kasus dan Kemampuan Diagnosis di Indonesia

Di Indonesia sendiri, angka kejadian IBD menunjukkan tren peningkatan yang perlu menjadi perhatian serius. Berdasarkan penelitian Asia-Pacific Crohn’s and Colitis Epidemiologic Study (ACCESS), insidensi IBD di Indonesia tercatat sebesar 0,77 per 100.000 penduduk per tahun.

Prof. Ari Fahrial Syam, Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Gastroenterohepatologi, menjelaskan bahwa tingginya temuan kasus belakangan ini juga berbanding lurus dengan kemampuan diagnosis medis di Indonesia yang semakin canggih.

“Kenapa kasusnya makin tinggi dan makin kita banyak temukan? Karena memang pertama, kemampuan diagnostik kita juga semakin tinggi,” jelas Prof. Ari. “Kita kebetulan untuk Rumah Sakit Cipto sendiri memang punya pusat endoskopi saluran cerna, itu kebetulan kita bekerja sama dengan pemerintah Jepang. Alat itu mempunyai kemampuan yang tinggi sehingga dengan pemeriksaan itu sudah kita bisa mendeteksi kira-kira ini apakah ini suatu radang, apa ini suatu tumor, apa ini suatu kanker.”

Tak hanya itu, pengembangan metode diagnosis melalui intestinal ultrasound serta ketersediaan penanda biologis (biomarker) seperti Fecal Calprotectin, kian mempercepat deteksi dini IBD. Hal ini sangat krusial mengingat tantangan utama di Indonesia meliputi rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala penyakit, keterbatasan akses terhadap layanan, serta keterlambatan diagnosis yang berujung pada meningkatnya risiko komplikasi dan biaya pengobatan.

Tak Perlu Berobat ke Luar Negeri

IBD tetap menjadi penyakit kronik dengan beban kesehatan yang signifikan karena memerlukan penanganan jangka panjang dan pemantauan berkelanjutan. Namun, kabar baiknya adalah pasien di Indonesia kini tak perlu lagi repot terbang ke luar negeri untuk mendapatkan terapi mutakhir.

Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana resmi mendirikan IBD Center. (Dok. Istimewa)

Menjawab tantangan penanganan radang usus kronis ini, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana resmi mendirikan IBD Center sebagai pusat rujukan layanan terpadu. Fasilitas ini diharapkan dapat memaksimalkan proses diagnosis, terapi, edukasi, dan pendampingan pasien IBD secara komprehensif, sekaligus memperkuat layanan gastroenterologi terpadu dan meningkatkan kualitas hidup para pasien di Indonesia.

Baca Juga: 10 Rekomendasi Tensimeter Digital yang Akurat, Bagus, dan Murah Mulai Rp90 Ribuan

Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, dr. Renan Sukmawan, menekankan bahwa kualitas layanan medis dalam negeri kini sudah mampu bersaing secara global.

“Banyak layanan-layanan kita yang tidak kalah, dan bahkan mungkin lebih baik dari luar negeri. Dan ini kita lakukan, terus mengembangkan layanan supaya penduduk kita tidak perlu ke luar negeri. Kita tahu, kita kehilangan 200 triliun per tahun karena berobat ke luar negeri,” tegas dr. Renan.

Terkait pengobatan IBD, Prof. Ari Fahrial menambahkan bahwa obat-obatan mutakhir seperti agen biologik, yang sebelumnya mengharuskan pasien menyeberang ke negara tetangga, kini telah tersedia di Indonesia.

“Jadi buat masyarakat tidak usah susah-susah lagi misalnya untuk mendapatkan yang kita bilang salah satu biologic agent yang harganya memang sampai lebih dari sepuluh juta ya itu dalam satu pengobatan, itu tidak perlu datang ke Singapura atau ke mancanegara karena obatnya sudah tersedia di sini,” papar Prof. Ari. Kepercayaan ini bahkan mulai menarik pasien ekspatriat untuk rutin melakukan penyuntikan obat pemeliharaan (maintenance) di Indonesia.

Load More