Prof Marcus mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan kornea dan tidak menunggu hingga gangguan penglihatan menjadi berat.
Menurutnya, beberapa gejala seperti mata merah atau nyeri, penglihatan buram yang tidak kunjung membaik, sensitif terhadap cahaya, serta rasa seperti ada benda asing di mata harus segera diperiksakan ke dokter.
"Gejala-gejala tersebut dapat menjadi tanda awal masalah atau infeksi kornea yang dapat memburuk dengan cepat jika tidak segera ditangani," ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan saat menggunakan lensa kontak. Penggunaan lensa kontak yang tidak sesuai aturan masih menjadi salah satu penyebab umum infeksi kornea yang serius.
Masyarakat dianjurkan selalu mencuci tangan sebelum memegang lensa kontak, tidak tidur menggunakan lensa kontak tanpa anjuran dokter, menghindari penggunaan lensa saat berenang atau mandi, serta mengganti lensa dan tempat penyimpanannya secara rutin sesuai petunjuk.
Selain itu, penggunaan pelindung mata saat berolahraga, bekerja dengan bahan kimia, atau melakukan pekerjaan yang berisiko juga penting untuk mencegah cedera kornea.
Dampak Besar pada Kehidupan Sehari-hari
Kerusakan kornea bukan hanya persoalan medis. Dampaknya dapat menjalar ke berbagai aspek kehidupan pasien, terutama pada kelompok usia lanjut.
Pasien sering mengalami penglihatan buram, berkabut, atau tampak terdistorsi. Akibatnya mereka kesulitan membaca, mengenali wajah anggota keluarga, menonton televisi, hingga berjalan dengan aman di lingkungan sekitar.
Baca Juga: 4 Risiko Kerusakan Mata akibat Penggunaan Softlens yang Tidak Tepat
"Kebutaan kornea dapat sangat memengaruhi kemandirian dan kualitas hidup pasien," kata Prof Marcus.
Ketika kemampuan melihat menurun, risiko jatuh dan cedera juga meningkat. Pada lansia, kondisi ini dapat berdampak lebih besar karena menurunkan kemandirian dan membuat mereka semakin bergantung pada bantuan orang lain dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Kapan Transplantasi Kornea Diperlukan?
Tidak semua penyakit kornea harus ditangani dengan transplantasi. Pada tahap awal, beberapa kondisi masih dapat diobati menggunakan obat tetes mata atau terapi lainnya.
Namun ketika kerusakan kornea sudah berat, pilihan pengobatan menjadi lebih terbatas.
"Jika kornea mengalami kerusakan berat akibat infeksi atau kondisi degeneratif, satu-satunya cara untuk memulihkan penglihatan adalah melalui transplantasi kornea," jelas Prof Marcus.
Transplantasi biasanya diperlukan ketika penglihatan tidak lagi membaik dengan kacamata maupun obat-obatan, terdapat jaringan parut permanen pada kornea, pembengkakan kornea yang menetap, atau ketika jumlah sel endotel yang berfungsi menjaga kejernihan kornea berkurang secara signifikan.
Dalam kondisi tersebut, transplantasi kornea menjadi harapan utama untuk mengembalikan kualitas penglihatan pasien.
Krisis Donor Kornea di Dunia
Meski transplantasi kornea dapat mengembalikan penglihatan, pelaksanaannya menghadapi tantangan besar, yaitu keterbatasan donor kornea.
Menurut Prof Marcus, kekurangan donor kornea merupakan masalah global yang hingga kini masih menjadi perhatian banyak negara.
"Penelitian menunjukkan bahwa hanya satu dari 90 pasien di dunia yang membutuhkan transplantasi kornea dapat menerima transplantasi tersebut," ungkapnya.
Kondisi ini terjadi karena hingga saat ini belum tersedia pengganti buatan yang dapat sepenuhnya menggantikan fungsi kornea manusia.
Karena itu, donor kornea manusia masih menjadi sumber utama bagi pasien yang membutuhkan transplantasi.
Untuk membantu mengatasi kebutuhan tersebut, Singapore Eye Bank yang didirikan pada tahun 1991 terus berupaya menyediakan kornea donor berkualitas tinggi guna membantu pasien mendapatkan kesempatan melihat kembali.
DMEK, Generasi Baru Transplantasi Kornea
Kemajuan teknologi juga menghadirkan teknik transplantasi kornea yang lebih modern dan minim invasif, salah satunya adalah Descemet Membrane Endothelial Keratoplasty atau DMEK.
Teknik ini berbeda dengan transplantasi kornea konvensional yang mengganti seluruh lapisan kornea. "Dalam prosedur DMEK, hanya lapisan terdalam kornea yang rusak yang diganti, bukan seluruh ketebalan kornea," terang Prof Marcus.
Pendekatan tersebut memberikan sejumlah keuntungan bagi pasien. Masa pemulihan menjadi lebih cepat, risiko penolakan jaringan lebih rendah, dan tindakan operasi menjadi lebih ringan dibandingkan transplantasi kornea penuh.
Karena itu, DMEK kini menjadi salah satu pilihan utama pada berbagai kasus penyakit kornea yang melibatkan kerusakan lapisan endotel.
Tag
Berita Terkait
-
1 Dari 1000 Orang Indonesia Alami Buta Akibat Kerusakan Kornea, Donor Mata Jadi jadi Terbaiknya
-
Duh, Gegara Tenis Kornea Mata Nagita Slavina Robek: Ini Cara Memberikan Pertolongan Pertama
-
4 Risiko Kerusakan Mata akibat Penggunaan Softlens yang Tidak Tepat
-
Apa Itu Astigmatisme yang Diderita Eiichiro Oda? Ini Penyebab dan Gejala Penyakit Sang Mangaka One Piece
-
Kisah Haru Fransiska Ncis: Meninggal Setahun Usai Donor Ginjal, Kini Relakan Kornea Mata
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum