ISPA hingga Penyakit Jantung Jadi Masalah Kesehatan Sebagian Besar Karyawan Indonesia

Jum'at, 17 Juli 2026 | 07:30 WIB
Ilustrasi kesehatan karyawan (pexels/Kampus Production)
  • Halodoc merilis laporan kesehatan karyawan 2026 yang menyoroti kenaikan biaya medis hingga 15,1 persen di Indonesia.
  • Profil penyakit pekerja bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin, namun kendala akses layanan memicu penundaan pengobatan.
  • Pemanfaatan teknologi telemedicine dan ekosistem digital terbukti efektif menurunkan biaya serta mempercepat pemulihan kesehatan produktivitas karyawan.

"Aset paling berharga sebuah perusahaan adalah sumber daya manusianya. Saat ini masih banyak perusahaan mengelola kesehatan karyawan secara reaktif tanpa data yang memadai untuk mengetahui di mana risiko sebenarnya berada. Padahal, pemahaman tersebut menjadi dasar untuk merancang strategi kesehatan yang lebih tepat sasaran," ujar Fibriyani.

Ia menambahkan, salah satu hambatan terbesar dalam menjaga kesehatan tenaga kerja bukan terletak pada rendahnya kesadaran karyawan, melainkan akses terhadap layanan kesehatan yang masih belum mudah.

Akibatnya, banyak pekerja memilih menunda pemeriksaan hingga kondisi yang awalnya ringan berkembang menjadi penyakit yang lebih serius dan membutuhkan biaya jauh lebih besar.

Di sisi lain, layanan telemedicine dinilai mampu membantu mengatasi persoalan tersebut.

Data Halodoc menunjukkan konsultasi kesehatan secara digital menangani sekitar 24 persen dari seluruh kasus kesehatan, tetapi hanya menghabiskan 8 persen dari total biaya layanan kesehatan.

Lebih dari 95 persen kasus bahkan dapat diselesaikan tanpa perlu kunjungan langsung ke fasilitas kesehatan dalam waktu 30 hari setelah konsultasi.

Pada pasien dengan penyakit kronis, penggunaan layanan Digital Cashless Outpatient (DCO) juga tercatat mampu menekan biaya pengobatan hingga 66,4 persen dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak menggunakan layanan digital.

Menurut Fibriyani, temuan tersebut menunjukkan telemedicine bukan sekadar alternatif yang lebih murah, tetapi juga berperan dalam mempercepat penanganan pasien sehingga karyawan dapat lebih cepat pulih dan kembali bekerja.

"Telemedicine bukan sekadar menghemat biaya. Jika dimanfaatkan secara optimal, layanan ini membantu karyawan memperoleh penanganan yang cepat dan sesuai kebutuhan sehingga produktivitas tetap terjaga," katanya.

Untuk mendukung layanan kesehatan yang lebih menyeluruh bagi perusahaan, Halodoc menghadirkan ekosistem Halodoc for Business yang mengintegrasikan konsultasi dokter 24 jam, layanan Digital Cashless Outpatient (DCO), pengiriman obat, pengelolaan administrasi dan klaim kesehatan (Third Party Administrator/TPA), hingga pendampingan pasien saat menjalani perawatan di rumah sakit melalui layanan HaloAssist.

Halodoc juga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) untuk membantu proses verifikasi kepesertaan, pemantauan tagihan medis, hingga validasi klaim secara otomatis.

Teknologi ini diklaim mampu membantu perusahaan menekan biaya pengelolaan klaim kesehatan hingga 18 persen sekaligus mempercepat proses administrasi bagi rumah sakit maupun pasien.

Dengan pendekatan berbasis data dan layanan kesehatan yang terintegrasi, perusahaan diharapkan dapat menjaga kesehatan karyawan sekaligus mengelola biaya kesehatan secara lebih efektif dalam jangka panjang.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com