Sering Terpapar Berita Krisis Iklim, Bisakah Picu Gangguan Kesehatan Mental?

Rabu, 15 Juli 2026 | 17:39 WIB
Sejumlah peserta membawa poster saat aksi krisis iklim di depan Kantor KPU, Jakarta, Jumat (3/11/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Perubahan iklim selama ini lebih sering dipahami sebagai persoalan lingkungan. Mencairnya es di kutub, gelombang panas, banjir, hingga kekeringan menjadi gambaran yang paling banyak muncul dalam pemberitaan.

Namun, dampak krisis iklim ternyata tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

Salah satunya ditunjukkan dalam penelitian yang dipublikasikan di Cambridge Prisms: Global Mental Health. Studi tersebut menemukan bahwa paparan terhadap ancaman perubahan iklim dapat memicu kecemasan dan tekanan psikologis, terutama ketika masyarakat merasa tidak memiliki kendali atas situasi yang dihadapi.

Penelitian ini melibatkan sekitar 2.900 responden dewasa di Mesir, Yordania, Lebanon, dan Palestina. Para peneliti mengukur tingkat kecemasan, harapan, serta tekanan psikologis yang berkaitan dengan perubahan iklim.

Hasilnya menunjukkan mayoritas responden merasakan kecemasan dan tekanan psikologis yang lebih besar dibandingkan rasa optimisme terhadap masa depan.

Temuan tersebut dinilai tidak terlepas dari kondisi kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang selama bertahun-tahun menghadapi gelombang panas, kekeringan, krisis air, serta urbanisasi yang cepat. Di saat bersamaan, masyarakat juga dibayangi persoalan ekonomi dan ketidakstabilan politik sehingga dampak perubahan iklim semakin memperberat beban psikologis.

Meski demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kecemasan terhadap perubahan iklim tidak selalu berujung pada keputusasaan. Harapan tetap dapat tumbuh ketika masyarakat merasa memiliki ruang untuk beradaptasi dan berkontribusi dalam menghadapi krisis tersebut.

Para peneliti menilai lingkungan tempat tinggal memiliki peran penting dalam membangun rasa optimisme itu. Kehadiran ruang terbuka hijau, taman yang mudah diakses, transportasi publik yang nyaman, hingga ruang sosial yang mendorong interaksi antarwarga dinilai tidak hanya membantu menurunkan emisi karbon, tetapi juga mendukung kesehatan mental masyarakat.

Sebaliknya, kawasan dengan minim ruang hijau, kualitas lingkungan yang buruk, serta terbatasnya ruang publik berpotensi memperbesar tekanan psikologis, terutama ketika masyarakat terus dihadapkan pada berbagai informasi mengenai krisis iklim.

Penelitian ini juga menekankan bahwa upaya adaptasi perubahan iklim tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur. Perlindungan kesehatan mental perlu menjadi bagian dari strategi adaptasi.

Sekolah, misalnya, dapat mengintegrasikan literasi iklim dengan pendidikan kesehatan mental agar siswa memahami risiko perubahan iklim sekaligus memiliki kemampuan menghadapi tekanan psikologis. Pemerintah daerah juga dinilai perlu memperbanyak ruang publik yang mendukung interaksi sosial, sementara penyedia layanan kesehatan perlu lebih peka terhadap munculnya kecemasan yang berkaitan dengan krisis iklim.

Bagi para peneliti, membangun ketahanan iklim bukan hanya soal mengurangi emisi atau mempercepat transisi energi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap memiliki harapan dan rasa percaya bahwa masa depan masih dapat diperjuangkan meski menghadapi ancaman perubahan iklim.

Penulis: Chairunisa

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com