-
Orang kurus tetap berisiko terkena kolesterol tinggi dan penyakit jantung tanpa gejala.
-
Penumpukan lemak visceral menjadi penyebab utama timbulnya dislipidemia pada orang kurus.
-
Dokter merekomendasikan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui kadar kolesterol LDL secara akurat.
Suara.com - Banyak yang berpikir orang bertubuh kurus akan aman dari kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Namun, anggapan itu hanyalah mitos belaka. Bahkan, orang bertubuh kurus dapat mengalami sumbatan pembuluh darah jantung tanpa gejala.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Eropa, orang dengan tubuh kurus tetap bisa mengalami kolesterol tinggi atau penyakit jantung, hanya saja cenderung tidak bergejala.
Kondisi ini berbeda dengan orang berbadan besar atau memiliki berat badan berlebih yang cenderung lebih dulu mengalami gejala, seperti sesak napas hingga mudah lelah apabila memiliki penyakit jantung.
"Hati-hati loh orang yang kurus. Kalau kita kurus, kita relatif tidak ada peringatan-peringatan sebelum nanti muncul keluhan atau serangan jantung. Peringatannya bisa berupa nyeri dada, sesak, kalau beraktivitas mudah capek," jelas Dr. dr. Susetyo Atmojo dalam sesi edukasi media PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan PERKI di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dr. dr. Susetyo Atmojo menambahkan, ketiadaan gejala ini disebabkan orang dengan tubuh kurus cenderung memiliki beban tubuh yang lebih ringan sehingga lebih mudah bergerak. Akibatnya, mereka sering tidak menyadari telah memiliki sumbatan pada pembuluh darah jantung.
Temuan ini tercantum dalam Nurses' Health Study serta kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia pada 2019 dan Endocrinology and Metabolism pada 2020. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dibandingkan populasi Barat, orang Asia cenderung mengalami penumpukan lemak visceral pada indeks massa tubuh atau berat badan yang lebih rendah.
Kondisi ini juga berlaku pada kolesterol. Dr. dr. Susetyo mengatakan orang dengan tubuh kurus tetap bisa mengalami kolesterol tinggi yang dipengaruhi banyaknya lemak visceral, yaitu lemak yang berada di rongga perut dan membungkus organ-organ seperti hati, usus, serta pankreas.
Karena itu, tidak memiliki lemak yang tampak di luar rongga perut atau memiliki tubuh kurus bukan berarti seseorang aman dari kolesterol tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai dislipidemia.
"Penumpukan lemak visceral dapat memicu resistensi insulin serta meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui kadar LDL-C secara akurat. Karena itu, pemeriksaan secara berkala sangat penting," paparnya.
Dr. dr. Susetyo Atmojo. menjelaskan bahwa pedoman terkini merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan sedikitnya 50 persen dari kadar awal.
"Pada kelompok pasien tersebut berlaku prinsip semakin rendah, semakin baik. Berbagai bukti klinis menunjukkan bahwa semakin rendah kadar LDL-C yang dicapai, semakin rendah pula risiko serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular," ujarnya.
Karena itu, pasien dengan kolesterol tinggi perlu mengontrol kadar LDL-C secara optimal. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah terapi kombinasi yang bekerja melalui dua jalur untuk mengatasi keterbatasan terapi tunggal sekaligus mengoptimalkan penurunan LDL-C.
Pendekatan ini menggabungkan statin yang menghambat pembentukan kolesterol di hati dengan ezetimibe yang mengurangi penyerapan kolesterol di usus.
"Sesi ini bertujuan meluruskan anggapan bahwa orang bertubuh langsing terbebas dari risiko penyakit kardiovaskular," ujar Head of Brand and Marketing Daewoong, dr. Wicak Prasetiadi, pada kesempatan yang sama.