- WHO mencatat 2,2 miliar orang mengalami gangguan penglihatan global yang memicu kerugian ekonomi mencapai US$411 miliar per tahun.
- dr. Sharita R. Siregar menjelaskan perubahan ukuran kacamata cepat dapat menandakan gangguan kornea seperti astigmatisme tidak teratur dan keratoconus.
- JEC Eye Hospitals and Clinics menyediakan beragam prosedur seperti LASIK, SMILE Pro, dan ICL berdasarkan diagnosis komprehensif.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi kornea tidak memungkinkan untuk dibentuk ulang, dokter dapat mempertimbangkan Implantable Collamer Lens (ICL). Berbeda dengan Lasik maupun Smile, ICL merupakan lensa tambahan yang ditanam di dalam mata tanpa mengubah bentuk kornea.
Pemeriksaan Menyeluruh Jadi Kunci
Pemilihan metode koreksi penglihatan tidak hanya ditentukan oleh besarnya minus atau silinder.
Dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan, mulai dari tes refraksi, pemetaan bentuk kornea menggunakan topografi atau tomografi, pengukuran ketebalan kornea, evaluasi lapisan air mata, tekanan bola mata, ukuran pupil, hingga pemeriksaan retina dan kondisi mata secara keseluruhan.
"Secara umum, kandidat Laser Vision Correction harus berusia minimal 18 tahun, memiliki ukuran minus atau silinder yang stabil setidaknya selama 12 bulan, tidak sedang hamil atau menyusui, serta memiliki kondisi kornea yang memenuhi parameter keamanan," ujar dr. Sharita.
Pengguna lensa kontak juga disarankan menghentikan pemakaiannya selama beberapa waktu sebelum pemeriksaan agar hasil pemetaan kornea lebih akurat.
Lebih lanjut, menurut dr. Sharita, tujuan utama koreksi penglihatan bukan sekadar terbebas dari kacamata, melainkan memperoleh kualitas penglihatan yang optimal dengan prosedur yang paling sesuai dan aman.
Karena setiap mata memiliki karakteristik berbeda, keputusan menjalani prosedur koreksi penglihatan apa pun harus selalu didasarkan pada hasil pemeriksaan komprehensif dan diskusi bersama dokter spesialis mata.