Melihat Dunia Lagi Setelah Kornea Rusak, Ini Revolusi Teknologi Transplantasi Mata Modern

Minggu, 02 Agustus 2026 | 19:30 WIB
Singapore National Eye Centre (SNEC). (Suara.com)
  • Prof. Marcus Ang Han Nian dari Singapore National Eye Centre menyatakan gangguan kornea menyebabkan kebutaan di Asia.
  • Singapore National Eye Centre menerapkan teknik transplantasi kornea selektif untuk mengganti lapisan yang rusak tanpa mengganti seluruh kornea.
  • Teknik transplantasi kornea selektif memungkinkan satu jaringan donor digunakan untuk membantu dua pasien berbeda secara optimal.

Suara.com - Bagi banyak orang, gangguan penglihatan sering dikaitkan dengan mata minus, katarak, atau faktor usia. Padahal, ada bagian penting lain pada mata yang juga berperan besar dalam kemampuan melihat, yaitu kornea.

Kornea adalah lapisan bening berbentuk seperti “jendela” di bagian depan mata yang berfungsi meneruskan cahaya agar dapat masuk dan diproses oleh mata. Ketika kornea mengalami kerusakan, menjadi keruh, atau penuh jaringan parut, penglihatan bisa terganggu bahkan hilang.

Kondisi ini dikenal sebagai kebutaan akibat gangguan kornea (corneal blindness). Menurut Prof. Marcus Ang Han Nian, Head & Senior Consultant, Cornea & External Eye Disease Department, Singapore National Eye Centre (SNEC), gangguan kornea menjadi salah satu penyebab kebutaan yang cukup banyak terjadi di dunia, terutama di kawasan Asia.

“Ketika kornea mengalami jaringan parut permanen atau menjadi keruh, transplantasi kornea mungkin menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan penglihatan,” ujar Prof. Marcus.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi, melainkan juga ketersediaan donor kornea. Secara global, jumlah pasien yang membutuhkan transplantasi jauh lebih besar dibandingkan jumlah jaringan donor yang tersedia.

Dari Mengganti Seluruh Kornea, Kini Lebih Selektif

Dulu, sebagian besar pasien yang membutuhkan transplantasi kornea menjalani prosedur penetrating keratoplasty (PK), yaitu mengganti seluruh bagian kornea yang rusak dengan kornea donor.

Meski efektif, prosedur ini memiliki sejumlah tantangan karena seluruh lapisan kornea harus diganti dan membutuhkan jahitan untuk menjaga posisi jaringan donor. Risiko seperti penolakan jaringan, infeksi, hingga kebutuhan transplantasi ulang dapat terjadi.

Seiring perkembangan teknologi, pendekatan transplantasi kornea kini berubah. Dokter tidak lagi selalu mengganti seluruh kornea, melainkan hanya memperbaiki lapisan yang mengalami kerusakan.

“Perkembangan terbesar dalam transplantasi kornea adalah pergeseran dari mengganti seluruh kornea menjadi mengganti hanya lapisan yang sakit,” jelas Prof. Marcus.

Konsep ini disebut selective corneal transplantation atau transplantasi selektif. Dengan teknik ini, jaringan kornea pasien yang masih sehat dapat dipertahankan sehingga operasi menjadi lebih aman dan pemulihan lebih cepat.

Teknologi DMEK, Harapan Baru untuk Pasien Gangguan Kornea

Salah satu inovasi yang menjadi unggulan SNEC adalah Descemet Membrane Endothelial Keratoplasty (DMEK).

Teknik ini digunakan untuk pasien yang mengalami kerusakan pada lapisan terdalam kornea, yaitu sel endotel. Lapisan ini berfungsi menjaga kadar cairan dalam kornea agar tetap jernih.

Kerusakan sel endotel dapat terjadi, salah satunya, setelah operasi katarak. Beberapa pasien mungkin mengalami penglihatan yang tetap buram setelah operasi, sementara sebagian lainnya baru mengalami penglihatan berkabut beberapa bulan atau tahun kemudian.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com