Ketika regulasi bertemu teknologi digital
Salah satu contoh yang disebut WHO berasal dari Indonesia.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan uji coba informasi produk elektronik pada periode 2023–2025. Dalam skema tersebut, informasi yang sebelumnya dicetak pada kemasan atau lembar kertas dapat diakses secara digital melalui kode QR.
Perubahan ini berpotensi mengurangi kebutuhan kertas, pencetakan dan distribusi informasi produk.
Pada saat yang sama, konsumen dapat memperoleh informasi obat secara lebih mudah melalui perangkat digital.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa perubahan dalam sistem regulasi tidak selalu harus menghasilkan aturan baru yang kompleks. Penyesuaian terhadap cara informasi disampaikan juga dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan akses terhadap informasi produk.
Jangan sampai dekarbonisasi mengurangi akses obat
Namun, upaya mengurangi emisi industri farmasi memiliki tantangan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar menurunkan jejak karbon.
Obat merupakan bagian penting dari sistem kesehatan. Karena itu, perubahan menuju produksi yang lebih ramah lingkungan tidak boleh membuat harga obat semakin sulit dijangkau atau mengganggu ketersediaannya.
WHO menekankan bahwa transisi menuju nol emisi bersih perlu mempertimbangkan keterjangkauan obat, ketahanan rantai pasok dan pemerataan akses.
Hal ini menjadi semakin penting bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah. Persyaratan keberlanjutan yang semakin ketat tidak seharusnya justru menjadi hambatan bagi produsen dari negara-negara tersebut untuk masuk dan bertahan di pasar.
Direktur Jenderal Badan Obat-obatan Afrika, Dr. Delese Mimi Darko, melihat regulator sebagai pihak yang ikut merancang sistem tempat industri berkembang.
“Dengan menanamkan keberlanjutan ke dalam kerangka kerja peraturan kita, kita dapat mendukung inovasi, memperkuat manufaktur lokal, dan membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh,” ujarnya.
Dekarbonisasi membutuhkan kerja lintas negara
Kerangka kerja WHO menunjukkan bahwa pengurangan emisi industri farmasi tidak hanya bergantung pada keputusan perusahaan untuk mengubah proses produksinya.
Regulator juga memiliki ruang untuk memengaruhi arah inovasi melalui standar, pengawasan, mekanisme pelaporan dan dialog dengan industri.
Namun, perubahan tersebut membutuhkan dukungan yang lebih luas, termasuk peningkatan kapasitas, transfer teknologi, pembiayaan berkelanjutan dan kerja sama internasional.
Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan tidak ditempatkan sebagai tambahan di luar sistem regulasi farmasi, tetapi menjadi bagian dari cara industri mengembangkan, memproduksi dan mendistribusikan obat.
Pada akhirnya, tantangannya bukan hanya membuat industri farmasi menghasilkan lebih sedikit emisi. Transisi tersebut juga harus memastikan bahwa obat yang lebih ramah lingkungan tetap aman, efektif, terjangkau dan tersedia bagi mereka yang membutuhkannya.