- Profesor Ari Fahrial Syam menyatakan di Jakarta, Senin (21/9/2026), bahwa GERD memiliki tingkat keparahan luka kerongkongan dari Grade A hingga D.
- Perusahaan Daewoong meluncurkan obat Fexupraxan berteknologi P-CAB di Jakarta pada Senin (21/9/2026) untuk menjadi pilihan terapi utama pasien GERD.
- Hasil uji klinis fase 3 di Korea Selatan menunjukkan obat Fexupraxan mencapai tingkat penyembuhan luka kerongkongan sebesar 99,1 persen.
"Gejala memang biasanya hilang dalam satu sampai dua minggu. Tapi obat ini wajib terus dikonsumsi selama dua bulan untuk GERD standar, atau hingga tiga bulan jika asam lambung sudah menjalar sampai ke tenggorokan," paparnya.
“Penekanan asam lambung harus konsisten agar penyembuhan lukanya benar-benar tuntas. Kalau berhenti di tengah jalan, asam lambung akan naik lagi," sambung Prof.Ari.
Obat baru Fexupraxan ini ditujukan untuk pasien dewasa berusia 18 hingga 70 tahun. Prof. Ari menegaskan bahwa obat ini tergolong obat keras, sehingga pasien wajib berkonsultasi dengan dokter dan mendapatkan resep resmi sebelum mengonsumsinya.
Adapun obat P-CAB untuk terapi pasien GERD dengan esofagitis erosif sudah dilakukan uji klinis fase 3 di Korea Selatan, dengan melibatkan 263 pasien. Hasilnya menunjukan obat ini punya efektivitas klinis yang kuat.
"Dalam studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea dengan esofagitis erosif, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat," jelas Professor of Gastroenterology di Asian Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, Prof. Ahn Ji Yong.