Health / Women
Senin, 04 Mei 2026 | 22:10 WIB
Dera Nur Tresna. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Dera Nur Tresna mendapati suaminya terdiagnosis GERD kronis pada tahun 2019 yang berdampak buruk bagi kondisi fisik serta mental.
  • Dera menerapkan pendekatan nutrigenomik, perbaikan pola makan, dan manajemen stres untuk memulihkan kesehatan suaminya secara bertahap hingga kembali beraktivitas.
  • Hasil dari pengalaman tersebut, Dera meluncurkan Nutriged sebagai solusi pangan fungsional berbahan alami untuk mendukung proses pemulihan lambung masyarakat.

Suara.com - Di tengah ritme hidup urban yang serba cepat, masalah kesehatan seperti GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) kerap dianggap hal biasa. Padahal, bagi sebagian orang, kondisi ini bisa menjadi pengalaman yang mengubah hidup secara drastis—bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.

Hal itulah yang dialami oleh seorang perempuan muda, Dera Nur Tresna, M.Kes (35), yang perjalanannya bermula bukan dari ruang laboratorium atau ruang rapat bisnis, melainkan dari sebuah malam yang penuh kepanikan di tahun 2019.

Saat itu, suaminya tiba-tiba terbangun dalam kondisi yang mengkhawatirkan: napas tersengal, jantung berdebar kencang, dan rasa takut yang sulit dijelaskan. Ia merasa seperti berada di ambang kehilangan nyawa.

Di tengah kepanikan itu, Dera yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan justru mengaku sempat blank. Pengetahuan yang ia miliki seolah tidak cukup cepat untuk menjawab situasi darurat yang terjadi di depan mata.

Setelah pemeriksaan medis, diagnosis pun datang: GERD kronis.

Diagnosis tersebut menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak mudah. Selama dua tahun, sang suami harus bergantung pada obat-obatan untuk mengendalikan gejala. Namun, di balik itu, ada hal lain yang tak kalah berat: kecemasan yang terus-menerus.

Rasa takut tidur, takut kambuh, bahkan takut meninggal, perlahan menjadi bagian dari keseharian.

“Dia sampai takut tidur sendiri,” kenang Dera, menggambarkan bagaimana sebuah penyakit lambung bisa merembet menjadi beban psikologis yang dalam.

Berbagai upaya kemudian dicoba—mulai dari perubahan pola makan hingga berbagai pendekatan alternatif. Namun tidak semua membawa hasil yang diharapkan. Sebagian bahkan justru membuat kondisi semakin tidak stabil.

Baca Juga: Puasa Bikin GERD Kambuh? Dokter Penyelamat Deddy Corbuzier Ungkap Faktanya

Saat Ilmu dan Pengalaman Bertemu

Di tengah kebingungan itu, Dera mulai mencari pendekatan yang lebih menyeluruh. Ia kemudian mendalami konsep hubungan antara nutrisi, tubuh, dan respons biologis manusia, termasuk bagaimana makanan dapat memengaruhi kondisi kesehatan jangka panjang.

Dari proses belajar itu, ia mulai melihat satu hal penting: tubuh tidak hanya butuh diobati, tetapi juga dipahami.

Bersama sang suami, ia perlahan menerapkan perubahan gaya hidup secara lebih terstruktur—mulai dari pola makan yang lebih sadar, manajemen stres, hingga kebiasaan harian yang lebih seimbang.

Perlahan, kondisi mulai membaik. Sang suami kembali bisa beraktivitas normal, bahkan mulai berolahraga lagi.

Namun di balik perbaikan itu, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya:

Load More