Kesehatan Remaja Jadi Perhatian, Pencegahan Penyakit Tidak Menular Didorong Sejak Dini

Jum'at, 25 September 2026 | 22:08 WIB
Ilustrasi edukasi kesehatan remaja. (freepik.com/freepik)
BACA 10 DETIK
  • AstraZeneca dan UNICEF memperpanjang kemitraan kesehatan remaja dengan investasi 1,3 juta dolar AS di Indonesia.
  • Program ini telah menjangkau 2,5 juta remaja melalui edukasi pencegahan penyakit tidak menular sejak lima tahun lalu.
  • Kolaborasi lima tahun ke depan berfokus pada promosi perilaku sehat, penguatan layanan, dan pengembangan kebijakan kesehatan.

Suara.com - Risiko penyakit tidak menular (PTM) tidak selalu baru muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa. Sejumlah faktor risikonya, seperti pola makan tidak sehat, obesitas, dan penggunaan tembakau, dapat mulai terbentuk sejak masa remaja. Karena itu, edukasi dan pencegahan PTM sejak usia muda menjadi penting untuk membangun kebiasaan hidup sehat dalam jangka panjang.

Di Indonesia, terdapat sekitar 47 juta remaja berusia 10–19 tahun atau sekitar 17 persen dari total populasi. Kelompok usia ini masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan, termasuk masalah gizi, obesitas, dan penggunaan tembakau.

Upaya pencegahan pun perlu dilakukan melalui berbagai lingkungan yang dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari sekolah, layanan kesehatan, komunitas, hingga platform digital. Pendekatan ini diharapkan dapat membekali remaja dengan pengetahuan dan kemampuan untuk mengambil keputusan yang lebih sehat.

Hal tersebut menjadi bagian dari kelanjutan Young Health Programme (YHP), program global AstraZeneca yang memasuki fase baru lima tahun bersama UNICEF dan 60 organisasi nonpemerintah.

Di Indonesia, AstraZeneca kembali menggandeng UNICEF untuk lima tahun ke depan dengan dukungan investasi US$1,3 juta. Kemitraan yang telah berlangsung sejak 2020 ini berfokus pada peningkatan kesehatan remaja dan pencegahan PTM.

Selama lima tahun terakhir, YHP bersama UNICEF Indonesia telah menjangkau lebih dari 2,5 juta remaja. Program tersebut mencakup edukasi dan promosi kesehatan, aksi yang dipimpin generasi muda, penguatan layanan kesehatan, serta dukungan terhadap pengembangan kebijakan dan sistem kesehatan remaja.

Program ini juga telah memperkenalkan skrining penggunaan tembakau di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan. Selain itu, lebih dari 25.000 remaja dan 350 advokat muda telah mendapatkan pelatihan, sementara 120 pemimpin muda dibekali untuk berkontribusi dalam penyusunan pedoman kesehatan remaja nasional.

Thomas Davin, Perwakilan UNICEF Indonesia, mengatakan kemitraan tersebut ke depan akan membantu lebih banyak remaja menerapkan perilaku sehat sekaligus menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Untuk lima tahun mendatang, kolaborasi AstraZeneca dan UNICEF di Indonesia akan berfokus pada tiga hal, yakni mendorong perilaku hidup sehat dan peran aktif generasi muda, memperkuat lingkungan serta layanan yang responsif terhadap kebutuhan remaja, dan mendukung penguatan kebijakan, bukti, serta sistem kesehatan remaja dan pencegahan PTM.

Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan edukasi PTM di sekolah, komunitas, dan platform digital, peningkatan kesadaran serta skrining dan tindak lanjut, hingga penguatan kapasitas remaja, tenaga kesehatan, dan guru dalam pencegahan, konseling, serta pendampingan.

Secara global, AstraZeneca menyebut investasi melalui YHP telah mencapai lebih dari US$100 juta sejak program tersebut diluncurkan pada 2010. Selama 15 tahun, YHP telah menjangkau 23 juta anak muda secara langsung di lebih dari 60 negara.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com