- Fenomena gigi hiu terjadi saat gigi permanen anak tumbuh di belakang gigi susu yang belum tanggal.
- Kondisi tersebut dapat memicu gigi berjejal serta meningkatkan risiko karies dan peradangan gusi akibat penumpukan plak.
- Orang tua disarankan membawa anak ke dokter gigi untuk evaluasi medis dan menghindari pencabutan paksa.
Suara.com - Fase pergantian gigi pada anak merupakan bagian penting dari masa pertumbuhan. Namun, proses ini kerap diwarnai dengan kondisi medis yang disebut persistensi atau retensi gigi sulung, yang lebih dikenal oleh masyarakat awam sebagai fenomena “gigi hiu” (shark teeth).
Kondisi ini terjadi ketika gigi permanen telah mulai erupsi (tumbuh) di belakang gigi susu yang belum tanggal, sehingga anak seolah tampak memiliki dua baris gigi.
Dokter Gigi Spesialis Kedokteran Gigi Anak, drg. Hidayatullah, Sp.KGA, menjelaskan bahwa fenomena ini cukup sering dijumpai selama periode pergantian gigi dan tidak selalu membutuhkan tindakan medis darurat.
“Orang tua tidak perlu langsung panik ketika melihat gigi permanen anak tumbuh di belakang gigi susu yang belum tanggal. Kondisi seperti ini dapat ditemukan pada masa pergantian gigi. Namun, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan bahwa proses erupsi gigi permanen berlangsung dengan baik dan tidak terdapat faktor lain yang menghambat perkembangannya,” jelas drg. Hidayatullah.
Secara klinis, pergantian gigi yang normal dimulai ketika akar gigi susu mengalami resorpsi fisiologis. Proses ini menyebabkan gigi susu goyang dan akhirnya tanggal secara alami guna memberikan ruang bagi gigi permanen. Pada kasus gigi hiu, gigi permanen mengalami perubahan arah erupsi sehingga tumbuh lebih ke arah lingual (dekat lidah) atau palatal (dekat langit-langit).
Beberapa faktor yang dapat memicu kondisi ini meliputi belum sempurnanya resorpsi akar gigi susu, keterbatasan ruang pada lengkung rahang, riwayat karies atau restorasi pada gigi susu, hingga adanya gangguan erupsi gigi permanen itu sendiri.
Meskipun sebagian kasus gigi hiu tidak berbahaya dan gigi susu dapat tanggal dengan sendirinya, pemantauan klinis tetap diperlukan. Jika gigi susu bertahan terlalu lama sementara gigi permanen terus tumbuh, kondisi ini berpotensi menyebabkan susunan gigi berjejal.
Selain mengganggu posisi pertumbuhan gigi, susunan yang bertumpuk akan membuat area tersebut sulit dibersihkan. Akibatnya, sisa makanan dan plak mudah menumpuk, yang dapat meningkatkan risiko karies (gigi berlubang) dan peradangan gusi.
Terkait penanganannya, tidak semua kasus mengharuskan tindakan pencabutan segera. Dokter gigi akan melakukan evaluasi berdasarkan usia anak, tahap pergantian, tingkat kegoyangan gigi susu, hingga ketersediaan ruang rahang. Apabila gigi susu sudah sangat goyang, anak dapat diedukasi untuk menggoyangkannya secara perlahan menggunakan lidah.
Namun, jika gigi permanen telah tumbuh cukup tinggi sementara gigi susu masih sangat kokoh tertanam, orang tua disarankan untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Tindakan pencabutan paksa di rumah sangat tidak dianjurkan karena berisiko memicu trauma pada jaringan penyangga gigi dan tidak menyelesaikan akar masalah jika terdapat hambatan erupsi lain. Pada kasus tertentu, tenaga medis mungkin memerlukan pemeriksaan radiografis (Rontgen) untuk melihat posisi pasti akar gigi dan benih gigi di dalam gusi.
Pemeriksaan lebih lanjut ke dokter gigi sangat dianjurkan apabila fenomena ini disertai keluhan nyeri, pembengkakan, arah tumbuh gigi yang sangat menyimpang, atau ketika anak mulai kesulitan menjaga kebersihan area rongga mulut tersebut.
Melalui deteksi dini dan pemantauan secara berkala, masalah ruang maupun hambatan pertumbuhan dentisi pada anak dapat ditangani pada waktu yang tepat, guna memastikan susunan gigi permanen dapat tumbuh secara optimal.