350 Ribu Kematian Terjadi Setiap Tahun Akibat Stroke, Gimana Cara Penanganannya?

Sabtu, 26 September 2026 | 14:12 WIB
Ilustrasi stroke. (Pexels/Kampus Production)
BACA 10 DETIK
  • Kemenkes mencatat 3,9 juta penduduk Indonesia menderita stroke pada 2023 yang memerlukan penanganan dalam periode emas 4,5 jam.
  • Pemerintah memperkuat standar penanganan stroke melalui PNPK Tata Laksana Stroke pada 19 Agustus 2026 untuk menurunkan kematian dan kecacatan.
  • Siloam Hospitals Lippo Village telah menangani lebih dari 20.000 kasus neuroscience kompleks menggunakan teknologi dan protokol klinis terstandar.

Kecepatan penanganan ini bisa terjadi lantaran menerapkan layanan stroke didukung kemampuan diagnostik dan intervensi tingkat lanjut, stroke pathway terintegrasi, serta protokol klinis yang terstandar.

Spesialis bedah saraf sekaligus subspesialis neuro-onkologi Siloam Hospitals Lippo Village, Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS (K), M.Kes, IFAANS mengatakan, perkembangan penanganan penyakit saraf selama tiga dekade tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga teknik bedah dan kolaborasi multidisiplin.

"Dalam 30 tahun terakhir, kami melihat bagaimana perkembangan ilmu, teknik bedah, teknologi, dan kolaborasi multidisiplin mengubah penanganan berbagai kasus neurologis," ujar Prof. Julius dalam konferensi pers The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan ilmu dan teknologi tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan yang lebih tepat, aman, dan memberikan hasil yang lebih baik bagi pasien.

Persoalan stroke pun tidak berhenti ketika pasien berhasil melewati fase akut. Kemenkes pada Juni 2026 menyebut dampak stroke dapat berupa gangguan fisik dan kognitif jangka panjang yang memengaruhi kualitas hidup, produktivitas, serta kemandirian penyintas. Karena itu, rehabilitasi juga menjadi bagian penting dalam penanganan stroke.

"Tantangan berikutnya adalah bagaimana kita terus mendorong batas tersebut dan membawa manfaatnya lebih luas bagi pasien di Indonesia," pungkas Prof. Julius.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com