- Pekerja laboratorium di Irkutsk, Siberia, Rusia, meninggal pada awal Oktober 2026 akibat dugaan infeksi pes.
- WHO berkoordinasi dengan otoritas setempat karena kematian tersebut belum dipastikan disebabkan oleh penyakit pes.
- Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan dapat disembuhkan menggunakan antibiotik secara dini.
Suara.com - Kematian seorang pekerja laboratorium di Irkutsk, Siberia, Rusia, pada awal Oktober 2026 menjadi perhatian setelah muncul dugaan infeksi penyakit pes atau plague.
Dugaan tersebut memicu kekhawatiran karena penyakit pes pernah menyebabkan wabah besar yang menewaskan jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kasus kematian pekerja laboratorium Rusia itu.
Meski demikian, penyebab kematian pekerja laboratorium itu belum dipastikan sebagai penyakit pes sehingga masyarakat perlu memahami fakta tentang penyakit ini tanpa terburu-buru menarik kesimpulan.
Apa Itu Penyakit Pes?
Penyakit pes adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bakteri ini umumnya ditemukan pada hewan pengerat, seperti tikus, serta dapat menular kepada manusia melalui perantara kutu yang terinfeksi.
Penyakit pes dikenal luas melalui wabah Black Death di Eropa pada abad ke-14. Namun, penyakit ini bukan sekadar bagian dari sejarah karena kasusnya masih ditemukan di sejumlah wilayah dunia.
Infeksi pes dapat berkembang dalam beberapa bentuk, bergantung pada bagian tubuh yang terdampak. Tiga bentuk utamanya adalah pes bubonik, pes septikemik, dan pes pneumonik.
Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum dan ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Pes septikemik terjadi ketika bakteri menginfeksi aliran darah, sedangkan pes pneumonik menyerang paru-paru dan dapat menyebar antarmanusia melalui droplet pernapasan.
Penyakit pes dapat menjadi kondisi serius dan sangat berbahaya apabila tidak segera ditangani. Meski begitu, infeksi ini dapat diobati menggunakan antibiotik jika terdiagnosis dan mendapatkan penanganan medis sedini mungkin.
Penularan Pes
Penularan pes paling sering terjadi melalui gigitan kutu yang membawa bakteri Yersinia pestis. Kutu tersebut dapat hidup pada hewan yang terinfeksi, termasuk tikus dan beberapa jenis mamalia lainnya.
Manusia juga dapat tertular ketika melakukan kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Risiko ini dapat muncul saat menangani hewan sakit atau bangkai hewan tanpa perlindungan yang memadai.
Cara penularan lainnya terjadi pada pes pneumonik. Bakteri dapat menyebar melalui droplet pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi mengalami batuk, terutama dalam kontak dekat dengan orang lain.
Paparan terhadap sampel biologis yang terkontaminasi juga berpotensi menyebabkan infeksi, khususnya dalam lingkungan laboratorium apabila prosedur keselamatan tidak dijalankan dengan benar. Namun, dugaan paparan di suatu laboratorium tidak serta-merta membuktikan bahwa penyakit pes menjadi penyebab suatu kematian.
Untuk mengurangi risiko penularan, masyarakat sebaiknya menghindari kontak dengan hewan pengerat yang sakit atau mati, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengendalikan keberadaan kutu dan tikus. Orang yang mengalami gejala mencurigakan setelah kemungkinan terpapar perlu segera mencari pertolongan medis.
Gejala Pes
Gejala penyakit pes dapat muncul secara mendadak dan berkembang dengan cepat. Keluhan awal yang umum meliputi demam tinggi, menggigil, sakit kepala, lemas, dan nyeri pada tubuh.