- Peneliti Rusia Darya Shipilova meninggal akibat pneumonia pada Oktober 2026 setelah diduga terpapar bakteri pes di laboratorium Siberia.
- Otoritas AS dan WHO mendesak pemerintah Rusia agar secara transparan membagikan data medis serta informasi terkait insiden tersebut.
- Badan pengawas kesehatan Rusia membantah kecelakaan laboratorium dan menyatakan tidak ada bakteri pes yang terdeteksi pada sampel korban.
Suara.com - Otoritas kesehatan Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak pemerintah Rusia untuk membagikan informasi secara transparan terkait kematian seorang peneliti di fasilitas riset penyakit menular di Siberia.
Kematian tersebut memicu kekhawatiran internasional seiring beredarnya laporan mengenai dugaan paparan bakteri pes akibat kecelakaan kerja di laboratorium.
WHO menyatakan bahwa berdasarkan data yang ada saat ini, risiko kesehatan bagi masyarakat umum tergolong rendah. Kontributor medis CBS News, Dr. Céline Gounder, juga menyampaikan bahwa masyarakat dunia tidak perlu panik secara berlebihan atas insiden ini.
Kontroversi Penyebab Kematian dan Karantina Massal
Laporan media lokal menyebutkan bahwa peneliti perempuan berusia 28 tahun bernama Darya Shipilova dari Irkutsk Anti-Plague Institute dilarikan ke rumah sakit pada 29 September 2026.
Korban dilaporkan mengalami gejala pneumonia berat dan meninggal dunia pada 2 Oktober 2026 setelah menggunakan alat bantu napas.
Informasi awal menyebutkan Shipilova tidak sengaja memecahkan tabung reaksi berisi bakteri Yersinia pestis pada akhir September.
Pejabat dari wilayah tetangga Buryatia sempat mengonfirmasi bahwa korban meninggal akibat infeksi pes. Imbas insiden tersebut, fasilitas rumah sakit tempat korban dirawat langsung diisolasi dan hampir 200 orang kontak erat berada di bawah pengawasan medis.
Namun, badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, membantah kabar terjadinya kecelakaan laboratorium dan mengklaim Shipilova meninggal akibat pneumonia dari sumber yang belum diketahui.
Pada 6 Oktober 2026, pihak Rusia mengaitkan hasil pemeriksaan kepada WHO bahwa tidak ada bakteri pes yang terdeteksi pada sampel korban maupun 200 orang kontak dekat yang diuji.
AS Desak Rusia
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta pemerintah Rusia untuk membagikan data medis secara terbuka kepada dunia. Kedutaan Besar AS di Moskow juga telah menghubungi otoritas terkait untuk meminta informasi tambahan secara cepat dan transparan.
Di sisi lain, pakar senior dari Johns Hopkins Center for Health Security, Dr. Amesh Adalja, menilai respons serta dinamika kasus ini kurang konsisten dengan infeksi pes. Menurutnya, infeksi Yersinia pestis pada abad ke-21 umumnya dapat diatasi menggunakan antibiotik jika terdeteksi sejak dini.
Penyakit pes disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia pestis yang umumnya ditemukan pada mamalia kecil dan pinjal pengerat. Penyakit ini terbagi menjadi tiga jenis utama:
- Pes Bubok (Bubonic): Jenis paling umum dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening, demam, menggigil, dan nyeri tubuh.
- Pes Septisemia (Septicemic): Terjadi ketika bakteri masuk ke aliran darah, menyebabkan kerusakan jaringan hingga bagian kulit menghitam.
- Pes Pneumonik (Pneumonic): Bentuk paling berbahaya yang menyerang paru-paru. Varian ini dapat menular antarmanusia melalui percikan droplet saat penderita batuk dan dapat berakibat fatal jika tidak segera diobati.
Meskipun pernah menyebabkan pandemi besar pada Abad Pertengahan, penyakit pes saat ini dapat disembuhkan menggunakan antibiotik, dan para peneliti yang bekerja di laboratorium secara rutin dapat dilindungi melalui vaksinasi khusus.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai isu kesehatan global dan tata kelola keamanan hayati. Seluruh rincian kronologi, pengutipan sumber medis, dan tanggapan pejabat internasional dikutip secara presisi dari rilis resmi WHO, KFF Health News, serta laporan media internasional terpercaya.