Selama Ini Dikenal untuk Transfusi, Ternyata Plasma Darah Bisa Diolah Menjadi Obat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 17:26 WIB
Plasma darah hasil donor. (Shutterstock)
BACA 10 DETIK
  • Plasma darah manusia dapat diolah melalui proses fraksionasi khusus untuk menghasilkan Produk Obat Derivat Plasma.
  • Produk turunan plasma tersebut sangat bermanfaat untuk menangani pasien hemofilia serta gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Penyediaan Produk Obat Derivat Plasma menghadapi tantangan karena pasokannya sepenuhnya bergantung pada kontribusi pendonor.

“Pengobatan jangka panjang dan berkelanjutan menjadi hal yang penting,” katanya.

Dari donor hingga menjadi obat, ada proses panjang yang harus dijaga

Untuk menghasilkan PODP, plasma terlebih dahulu dikumpulkan dari donor yang memenuhi persyaratan. 

Pengambilan plasma dapat dilakukan menggunakan alat aferesis, yang memisahkan plasma dari komponen darah lainnya, kemudian mengembalikan komponen tersebut ke tubuh donor sesuai prosedur yang berlaku.

Plasma yang terkumpul selanjutnya diproses melalui fraksionasi untuk memisahkan protein tertentu dan mengolahnya menjadi produk terapi. Proses ini membutuhkan pengawasan ketat karena bahan bakunya berasal dari manusia, sehingga aspek keamanan tidak dapat diabaikan.

Teguh menjelaskan bahwa setiap tahapan, mulai dari pemilihan donor, pengumpulan plasma hingga pengolahan menjadi obat, harus dijaga untuk meminimalkan risiko penularan infeksi dari donor kepada pasien.

Persyaratan donor plasma juga perlu diperhatikan. Selain memenuhi kriteria umum donor, pemeriksaan tertentu, termasuk kadar protein yang diperlukan, dapat dilakukan untuk mendukung kualitas bahan baku. 

Dengan demikian, produk yang dihasilkan diharapkan memenuhi persyaratan mutu dan dapat digunakan sesuai indikasi medis.

Pasokan berkelanjutan menjadi tantangan

Tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan plasma dan produk turunannya. Berbeda dengan obat yang sepenuhnya dibuat melalui sintesis, PODP berasal dari plasma manusia sehingga pasokannya bergantung pada donor serta sistem pengumpulan dan pengolahan yang memadai.

Kebutuhan ini menjadi semakin penting bagi pasien yang memerlukan terapi berulang, seperti penyandang hemofilia dan imunodefisiensi primer. Terputusnya ketersediaan terapi dapat menjadi tantangan serius dalam menjaga kesinambungan perawatan mereka.

Dalam rangka International Plasma Awareness Week 2026 pada 5–9 Oktober, Takeda bersama Kementerian Kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan mendorong peningkatan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan peran donor. 

Takeda juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan regulasi yang berlaku.

“Di Indonesia, meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma dan mendukung pengembangan ekosistem plasma yang berkelanjutan merupakan langkah penting dalam memperkuat sistem kesehatan,” tambah dia.

Pemahaman mengenai plasma diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan tentang donor darah, tetapi juga mencakup perjalanan plasma hingga menjadi obat yang dibutuhkan pasien. 

Sebab, di balik satu donasi plasma, terdapat proses panjang yang menghubungkan kontribusi donor dengan kebutuhan pengobatan orang lain.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com