Kemenkes RI Temukan Lebih dari 75 Ribu Balita Alami ISPA di Daerah Terdampak Karhutla

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 15:27 WIB
Ilustrasi kasus ISPA melonjak akibat karhutla. [Suara.com/Syahda]
BACA 10 DETIK
  • Kementerian Kesehatan mencatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut akibat kebakaran hutan di tujuh provinsi pada 2026.
  • Sebanyak 75.172 dari total kasus infeksi saluran pernapasan akut tersebut menyerang kelompok balita di wilayah terdampak.
  • Tren kasus infeksi saluran pernapasan akut tahun ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

Suara.com - Lebih dari 75 ribu balita tercatat mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan alias karhutla 2026.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat total kumulatif kasus ISPA di tujuh wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 kasus.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Dr.dr.Then Suyanti, M.M. mengatakan dari total data kasus tersebut, sebanyak 75.172 kasus terjadi pada kelompok usia di bawah lima tahun atau balita. Sementara itu, kelompok usia di atas lima tahun mencatat 258.298 kasus.

Then menambahkan, masih terdapat 4.522 kasus ISPA harian pada saat pemaparan data tersebut. Angka ini menggambarkan kasus harian yang masih tercatat di tujuh provinsi terdampak, sedangkan angka 333.470 merupakan akumulasi kasus.

Ketujuh provinsi tersebut adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, Riau, dan Jambi.

"Dan saat ini kondisi situasi ISPA pada wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah secara kumulatif itu ada 333.470 kasus ya, kasus ISPA dengan kasus hariannya yang masih menderita ISPA adalah 4.522," ujar Then saat konferensi pers daring di kanal YouTube BNPB Indonesia, Kamis (22/10/2026).

Besarnya jumlah kasus pada kelompok balita menjadi perhatian karena anak-anak termasuk kelompok yang perlu dilindungi dari paparan asap kebakaran.

Data Kemenkes RI juga menunjukan tren ISPA di tujuh wilayah terdampak ini lebih tinggi dibanding periode tahun sebelumnya.

Kondisi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah menunjukkan tren yang mulai menurun, tetapi jumlah kasusnya masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Sementara itu, Sumatera Selatan dan Riau juga mencatat kasus yang lebih tinggi dibandingkan periode tahun sebelumnya.

"Jadi masih dibandingkan tahun lalu masih meningkat ya, walaupun ada tren sudah penurunan," papar Then.

Adapun di Kalimantan Barat, tren kasus ISPA dilaporkan mulai menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Kalimantan Timur menunjukkan jumlah kasus yang relatif sama dengan tahun lalu.

Untuk Jambi, Then turut menampilkan perbandingan tren dengan tahun sebelumnya dalam paparannya.

Adapun asap kebakaran hutan memang mengandung partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik lainnya yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya meliputi ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata, hingga gangguan kulit.

"Kelompok rentan sangat kita perhatikan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, maupun pekerja di luar ruangan," pungkas Then.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com