9 Orang Gugur saat Padamkan Karhutla, Puan Desak Negara Jamin Keselamatan Petugas dan Relawan

Jum'at, 23 Oktober 2026 | 14:05 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani
BACA 10 DETIK
  • Ketua DPR RI Puan Maharani pada Jumat (23/10/2026) meminta pemerintah memberikan jaminan keselamatan bagi petugas dan relawan karhutla.
  • Sembilan petugas dan relawan dilaporkan gugur saat memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan Tengah, TNBTS, dan Kalimantan Selatan.
  • Puan Maharani menegaskan pentingnya dukungan layak bagi kelompok perempuan serta bantuan jangka panjang bagi keluarga korban yang ditinggalkan.

Suara.com - Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan pentingnya perlindungan dan perhatian penuh dari pemerintah bagi para petugas serta relawan yang berjuang di garda terdepan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal tersebut disampaikannya menyusul gugurnya sejumlah petugas dan relawan saat bertugas memadamkan kobaran api di berbagai wilayah.

“Tentunya kita banyak berterima kasih atas dedikasi para petugas dan bantuan relawan dalam proses penanganan Karhutla,” kata Puan kepada wartawan, Jumat (23/10/2026).

“Kami atas nama DPR juga menyampaikan dukacita mendalam atas gugurnya sejumlah petugas dan relawan saat berjibaku memadamkan api,” sambungnya.

Diketahui, duka mendalam menyelimuti penanganan karhutla setelah setidaknya sembilan petugas dan relawan dilaporkan meninggal dunia saat bertugas. Korban gugur tersebar di beberapa daerah, di antaranya tiga orang di Kalimantan Tengah, lima petugas/relawan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Probolinggo, serta seorang relawan bernama Nurdin di Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Tak hanya itu, seorang warga lanjut usia di Samarinda, Kalimantan Timur, juga mengembuskan napas terakhir usai berusaha memadamkan api agar tidak menjalar ke permukiman warga.

Menanggapi deretan peristiwa tragis tersebut, Puan menegaskan bahwa pemerintah harus bergerak cepat untuk mengendalikan karhutla sekaligus menjamin keselamatan para petugas di lapangan.

“Selain untuk warga, perhatian pemerintah juga perlu menjangkau petugas dan relawan yang membantu pemadaman api Karhutla. Harus ada jaminan keselamatan dan kesehatan bagi para petugas dan relawan, keluarga menunggu mereka pulang,” tuturnya.

“Para petugas dan relawan yang membantu penanganan berangkat dengan harapan dapat menyelamatkan sesama dan kembali kepada keluarganya. Pengabdian itu perlu ditopang perlindungan yang dapat diandalkan,” tambahnya.

Ia menilai tingginya angka korban gugur di lapangan menjadi sinyal kuat bagi negara untuk segera mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) pemadaman api, khususnya yang berkaitan dengan keselamatan personel.

“Petugas dan relawan pemadaman Karhutla adalah pahlawan kemanusiaan karena berjuang demi membantu keselamatan masyarakat. Pengorbanan mereka seharusnya mendapat perlindungan dan penghargaan yang layak dari Negara,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Puan juga memberikan perhatian khusus pada keberadaan para perempuan yang aktif terlibat dalam penanganan karhutla.

Di berbagai daerah, kelompok perempuan mengambil peran penting, seperti kelompok relawan The Power of Mama di Kalimantan yang giat berpatroli, memantau titik api, hingga ikut memadamkan kebakaran.

Perempuan juga tercatat aktif sebagai petugas dan relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam di lapangan, hingga mahasiswa, tokoh publik, dan lansia yang membantu penyediaan logistik di dapur umum.

“Keterlibatan para perempuan, kelompok ibu-ibu yang ikut membantu pemadaman Karhutla juga perlu memperoleh dukungan yang layak dan kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan serta pengalaman selama bertugas,” ungkap Puan.

Terkait
Terpopuler
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com