- Operasi perut dapat menyebabkan perlengketan organ akibat jaringan parut, yang memerlukan penanganan berbeda sesuai kondisi pasien.
- Kasus perlengketan usus dekat saluran kemih memerlukan kolaborasi dokter bedah digestif dan spesialis urologi rekonstruksi.
- Direktur Bethsaida Hospital menyatakan evaluasi medis dan kolaborasi spesialis memastikan penanganan pasien dilakukan secara komprehensif.
Suara.com - Operasi di area perut, seperti operasi usus buntu dan operasi caesar, dapat meninggalkan jaringan parut sebagai bagian dari proses penyembuhan. Pada kondisi tertentu, jaringan tersebut dapat menyebabkan perlengketan antarorgan di dalam rongga perut.
Kondisi yang dikenal sebagai adhesi ini sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menjadi masalah ketika mengganggu fungsi organ di sekitarnya.
Penanganan perlengketan usus menjadi lebih kompleks apabila lokasinya berdekatan dengan atau melibatkan saluran kemih. Sebab, tindakan medis tidak hanya perlu memperhatikan kondisi usus, tetapi juga memastikan fungsi organ lain tetap terjaga.
Menurut dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, perlengketan usus merupakan kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Namun, tidak semua pasien memerlukan tindakan bedah.
“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pada kasus yang lebih kompleks, kolaborasi antar dokter spesialis menjadi penting untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat,” jelas dr. Eko.
Ketika Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih
Perlengketan usus dapat terjadi akibat pembentukan jaringan parut setelah operasi, peradangan, maupun infeksi di rongga perut. Pada sebagian pasien, kondisi ini dapat menimbulkan nyeri perut berulang, kembung, hingga gangguan pergerakan usus.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika perlengketan berada di dekat ureter, yaitu saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih. Keterlibatan struktur ini perlu diperhatikan karena cedera atau gangguan pada ureter dapat memengaruhi aliran urine.
Dalam situasi tersebut, penanganan membutuhkan pertimbangan dari dua bidang spesialisasi. Dokter bedah digestif berfokus pada kondisi usus dan pelepasan perlengketan apabila diperlukan.
Sementara itu, dokter spesialis urologi dengan kompetensi rekonstruksi urogenital mengevaluasi kemungkinan keterlibatan saluran kemih serta menentukan kebutuhan perbaikan atau rekonstruksi.
dr. Donny Eka Putra, Sp.U.(K), Subsp. Trauma and Reconstructive Urology, Dokter Spesialis Urologi Konsultan Trauma dan Rekonstruksi Urogenital Bethsaida Hospital Gading Serpong, menjelaskan pentingnya pendekatan tersebut.
“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” ungkap dr. Donny.
Pemeriksaan Menentukan Langkah Penanganan
Sebelum menentukan tindakan, dokter akan mengevaluasi riwayat operasi, melakukan pemeriksaan fisik, serta mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti CT scan sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan tersebut membantu menilai kondisi organ dan kemungkinan komplikasi, meskipun perlengketan tidak selalu dapat terlihat secara langsung melalui pencitraan.