Indotnesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jumlah kasus hepatitis akut di dunia meningkat. Kini, ada 650 anak yang dilaporkan menderita penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini.
Hingga 26 Mei 2022, WHO menerima 650 laporan kasus hepatitis misterius dari 33 negara, dengan 99 tambahan kasus yang masih menunggu klasifikasi. Sekitar sepertiga atau 222 kasus terjadi di Britania Raya, sementara sebanyak 216 kasus terjadi di Amerika Serikat.
Mengutip CNN, Jumat (27/5/2022), laporan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Eropa (ECDC) pada pekan lalu menyebutkan 614 kasus hepatitis akut dari 30 negara sedang diselidiki.
Kebanyakan anak-anak yang menderita hepatitis misterius mengalami sakit pada bulan Maret dan April 2022. WHO menyebutkan sebagian besar anak-anak tersebut atau sekitar 75% berusia di bawah 5 tahun. Sebagian besar pula sebelumnya dalam keadaan sehat sebelum jatuh sakit.
Melansir Reuters, otoritas kesehatan dari seluruh negara saat ini tengah menyelidiki kenaikan penderita kasus hepatitis parah atau radang hati pada anak-anak.
Hingga kini, tercatat ada 9 kematian akibat hepatitis misterius. Pihak berwenang di AS pada pekan lalu menyatakan infeksi adenovirus diduga sebagai pemicu utama dari kasus hepatitis parah yang belum diketahui penyebabnya itu.
Hepatitis yang terkait dengan adenovirus ini biasanya berhubungan dengan anak-anak yang punya gangguan kekebalan. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS juga sedang menyelidiki kemungkinan infeksi Covid-19 turut berperan, patogen, obat-obatan, dan faktor risiko lainnya.
Ilmuwan Inggris juga telah menemukan peningkatan aktivitas adenovirus, yang bersirkulasi bersama SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. WHO menyebutkan SARS-CoV-2 terdeteksi dalam sejumlah kasus.
Laporan CNN menyebutkan, peneliti juga sedang meneliti kemungkinan penyebab lainnya, termasuk paparan lingkungan, racun, dan infeksi dengan virus lain.
Di Inggris, peneliti menyelidiki kemungkinan paparan anjing pada kasus hepatitis misterius yang menyerang anak-anak ini. Para penderita itu masih terlalu muda untuk divaksin Covid-19 sehingga tidak dimasukkan sebagai langkah pencegahan.
Virus yang menyebabkan hepatitis A, B, C, D, dan E tidak ditemukan pada kasus hepatitis misterius. Kini, peneliti masih menyelidiki kasus ini.
Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI dr. Mohammad Syahril, Sp.P, MPH mengatakan kini tinggal menunggu informasi terbaru terkait hasil penelitian dugaan penyebab hepatitis akut.
“Nanti kita ikuti saja karena ini baru hipotesis, kita akan mengarah ke 6 hipotesis itu yang menjadi dugaan kuat oleh para ahli atau para ilmuwan,” ucapnya, seperti yang dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan.
6 dugaan penyebab kasus hepatitis akut itu adalah adenovirus biasa, adenovirus varian baru, sindrom post-infeksi SARS-CoV-2, paparan obat, lingkungan, atau toksin, patogen baru, kemudian varian baru SARS-CoV-2.
Di Indonesia, kasus kumulatif dugaan hepatitis akut mencapai 35 kasus per 23 Mei 2022 pukul 16.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 19 kasus di antaranya berstatus discarded, serta 16 kasus probable dan pending classification.
Berita Terkait
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Polemik RDF Rorotan: Benarkah Paparan Bau Sampah Bisa Ganggu Kesehatan Anak?
-
Ternyata Gejala Hepatitis A, Jessica Iskandar Kira Dirinya Cuma Demam
-
Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
21 Ribu Warga Yogyakarta Terdampak Perubahan Desil, Wali Kota Siapkan Refocusing Anggaran
-
Doa Shin Tae-yong: Semoga Ada Solusi Terbaik buat Jakmania dan Manajemen Persija
-
Persib Bandung Wajib Waspada! Teja Paku Alam Ungkap Ancaman Serangan Balik Manila Digger
-
Bisikan Sang Ayah Bikin Agil Bangkit, Mahasiswa UT Ini Raih Podium Campus League
-
Penanganan Karhutla Jangan Cuma Hitung Luasan, Pakar UGM Soroti Habitat Satwa
-
Kader PDIP Jadi Tersangka Kasus Intimidasi Dokter Icha di NTT, Hasto Buka Suara
-
Tangis Pecah Gus Yahya, LPJ PBNU 2021-2026 Diterima Muktamar ke-35 NU
-
Penuhi Panggilan sebagai Saksi, BPKH Tegaskan Komitmen Dukung Penegakan Hukum
-
Simak Rekayasa Lalu Lintas dan Lokasi Parkir Merdeka Run 81 Tahun Indonesia Besok
-
Geger Skandal Sekpri vs Wabup Sumedang: Rumah Dinas Jadi Sorotan, Pemprov Turun Tangan