- Studi IHDC di Jakarta menemukan satu dari lima siswa sekolah dasar mengalami gangguan memori akibat masalah gizi.
- Anemia dan stunting meningkatkan risiko defisit memori hingga tiga kali lipat bagi anak usia sekolah dasar.
- Kurangnya asupan protein hewani dan zat besi menjadi faktor utama penghambat kemampuan kognitif generasi masa depan.
Suara.com - Masalah gizi kronis di Indonesia kini terbukti tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga mengancam kecerdasan kognitif generasi mendatang. Hasil studi terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) mengungkapkan fakta krusial: 1 dari 5 anak sekolah dasar di Jakarta mengalami gangguan memori atau working memory.
Kondisi ini ditemukan berkaitan erat dengan prevalensi anemia dan stunting yang masih menghantui anak-anak usia sekolah. Kurangnya asupan zat gizi mikro ini membuat otak anak sulit menyimpan dan mengolah informasi, yang menjadi faktor kunci dalam performa belajar sehari-hari.
Ancaman Kognitif: Fondasi Indonesia Emas 2045
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus mantan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM(K), menegaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas kesehatan sejak dini.
"Status gizi dan kemampuan kognitif anak adalah fondasi utama. Sayangnya, kekurangan asupan gizi hingga anemia defisiensi besi yang tinggi pada usia sekolah berpotensi menurunkan fungsi working memory yang krusial dalam proses pendidikan. Pemenuhan gizi optimal adalah langkah krusial untuk mendukung kualitas pembelajaran anak," ujar Prof. Nila dalam peluncuran studi tersebut di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Analisis Data: Risiko Defisit Memori hingga 3 Kali Lipat
Studi IHDC yang melibatkan 335 siswa di Jakarta ini menunjukkan data yang mengkhawatirkan:
- 22,1% anak mengalami kesulitan dalam working memory.
- 19,7% anak (sekitar 1 dari 5) terdiagnosis anemia.
- Kadar hemoglobin yang rendah terbukti berbanding lurus dengan performa daya ingat yang lemah.
Executive Director IHDC, dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa anak dengan anemia memiliki risiko 2 kali lebih tinggi mengalami kesulitan memproses informasi.
"Bahkan pada anak yang mengalami stunting, risikonya melonjak hingga 3 kali lebih tinggi untuk mengalami defisit working memory," jelas dr. Ray.
Baca Juga: Ironi Gizi di Negeri Kaya: Panganan Segar Melimpah, Tapi Produk Kemasan Jadi Jalan Pintas
Krisis Asupan Protein dan Zat Besi
Selain faktor klinis, studi ini juga memotret pola makan anak sekolah yang belum ideal. Anak dengan anemia ditemukan memiliki asupan protein yang sangat rendah, yakni hanya sekitar 46% dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang direkomendasikan.
President of Indonesian Nutrition Association, dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menekankan bahwa protein hewani dan zat besi adalah bahan bakar perkembangan otak.
"Penting untuk memastikan asupan seimbang setiap hari, seperti telur, ikan, dan daging, yang dikombinasikan dengan vitamin C untuk mengoptimalkan penyerapan zat besi," paparnya.
Sebagai riset berbasis data lokal, temuan IHDC ini diharapkan menjadi landasan bagi pemerintah, institusi pendidikan, dan keluarga untuk melakukan langkah preventif yang lebih terarah. Dukungan dari Danone Indonesia dalam riset ini memperkuat sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya asupan gizi sebagai investasi intelektual jangka panjang.
Dengan memperbaiki status gizi anak sekolah saat ini, Indonesia sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki ketajaman kognitif untuk bersaing di kancah global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Rekrutmen Nasional 30 Ribu Manajer Koperasi Desa Resmi Dibuka, Ini Syaratnya
-
Rismon Bantah Terima Uang Damai Kasus Ijazah Jokowi, Sebut Tuduhan Tak Masuk Akal
-
RUU PPRT Belum Tuntas usai 22 Tahun, Koalisi Minta Presiden Segera Ambil Sikap
-
Stok Bensin dan Gas LPG Aman? Simak 5 Fakta Indonesia Borong Minyak Rusia
-
Sambil Dekap Buku Jokowis White Paper, Rismon Mengaku Bisa Tidur Nyenyak usai SP3
-
YouTube Hapus Video Lego Kritik Trump, Iran Murka: Pembungkaman Ala Barat
-
Antisipasi Lonjakan ISPA, Sudinkes Jaksel Siagakan Puluhan Fasilitas Kesehatan dan Kader
-
Dunia Sibuk dengan Perang AS-Iran, Korut Diam-diam Percepat Produksi Bom Nuklir
-
Warga Terkaya Tercatat Penerima JKN Bersubsidi, Menkes Janji Benahi Data
-
AS Blokade Selat Hormuz, China-Rusia Bersatu Tekan Washington