- Warga melakukan unjuk rasa di depan DPRD DKI Jakarta pada 7 Mei 2026 menuntut penutupan RDF Plant Rorotan.
- Massa mengeluhkan gangguan kesehatan serius seperti ISPA pada anak-anak akibat operasional fasilitas yang menimbulkan bau menyengat tersebut.
- Warga berencana menempuh jalur hukum melalui gugatan class action setelah merasa keluhan mereka tidak direspons oleh Pemprov DKI.
Suara.com - Operasional RDF Plant Rorotan kembali dikeluhkan warga di sekitar lokasi. Mereka yang datang menyuarakan kritik di depan Gedung DPRD DKI Jakarta pada Kamis (7/5/2026) kompak menyinggung gangguan kesehatan serius, terutama bagi anak-anak.
Cerita kali ini identik dengan keluhan warga medio November 2025, yang menyebut 20 anak jatuh sakit imbas operasional RDF Rorotan. Gangguan kesehatan yang dirasakan pun beragam, mulai dari sakit mata, batuk pilek, muntah, dan Inspeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA).
"Kami mendesak agar RDF Plant Rorotan ditutup atau berhenti beroperasi demi menjaga kesehatan, kenyamanan, dan kualitas lingkungan hidup warga," tuntut Ketua RT 18 Cakung Timur, Wahyu Andre Maryono saat itu.
Kini, warga terdampak operasional RDF Rorotan mulai hilang kesabaran. Ancaman menyeret Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta ke ranah hukum pun sudah digaungkan.
"Gugatan class action, kami tidak mediasi lagi," tegas Tomi, Kepala Dusun Harapan Indah Desa Pusaka Rakyat sebagai salah satu perwakilan kawasan terdampak.
Apa Itu RDF Plant Rorotan?
Pemprov DKI Jakarta memulai babak baru pengelolaan lingkungan melalui pembangunan RDF Plant Rorotan. Kehadiran fasilitas ini dianggap sebagai langkah transisi besar dari pola lama yang sekadar membuang sampah, menjadi sistem modern yang mampu mengubah limbah menjadi sumber energi.
Di dalam RDF Rorotan, sampah tidak langsung dibakar, melainkan melewati serangkaian tahapan teknis untuk meningkatkan nilai kalornya. Proses diawali dengan penyaringan ketat untuk memisahkan material logam, kemudian dilanjutkan dengan pencacahan sampah menjadi ukuran kecil yang seragam. Melalui sistem pengeringan yang canggih, kadar air pada sampah ditekan hingga di bawah 20 persen agar material lebih mudah terbakar dan efisien saat digunakan.
Ya, setiap gram sampah yang masuk ke RDF Rorotan akan langsung diproses menjadi produk baru yang bernilai guna, bukan dibiarkan menumpuk hingga menggunung seperti di TPST Bantargebang.
Baca Juga: Hasil Studi IHDC: 1 dari 5 Anak Jakarta Alami Gangguan Memori Akibat Anemia
Hasil akhir dari pengolahan ini adalah bahan bakar alternatif berkualitas tinggi yang menyerupai bongkahan kecil atau serbuk kasar. Produk ini siap dikirim ke berbagai industri, seperti pabrik semen atau PLN, sebagai pengganti batu bara yang lebih ramah lingkungan.
Kenapa RDF Bisa Menimbulkan Bau Menyengat?
Meskipun dirancang dengan teknologi modern, RDF Plant Rorotan tetap memiliki tantangan operasional yang bisa memicu bau tak sedap. Penyebab utamanya mencakup masalah teknis operasional dan proses pengangkutan sampah.
Dari sisi operasional, deodorizer atau alat penghilang bau sempat diakui eks Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto memang belum berfungsi dengan baik. Pengolahan limbah cair atau wastewater treatment serta penyaringan cerobong yang belum optimal juga disebut sebagai pemicu lain.
Sementara dari sisi pengangkutan sampah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sempat menyinggung kebocoran truk pengangkut material sebagai biang kerok. Kondisi bak truk yang tidak sesuai standar operasional, membuat cairan hasil pembusukan sampah atau lindi tercecer.
Benarkah Bau Sampah Bisa Membuat Anak Sakit?
Lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO) menyatakan pencemaran udara dari limbah dan sampah dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Pembusukan dan pengolahan sampah dapat menghasilkan hidrogen sulfida (HS), amonia, metana, senyawa organik volatil (VOC) hingga partikel debu halus. Bau menyengat sering menjadi indikator adanya gas dan polutan tersebut di udara.
Paparan polusi udara dari sampah dapat memicu batuk dan pilek, iritasi mata dan tenggorokan, sesak napas dan kambuhnya asma, mual dan sakit kepala hingga gangguan saluran pernapasan seperti ISPA.
Kata WHO lagi, anak-anak lebih rentan terserang penyakit imbas polusi udara dari sampah karena mereka bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa. Paru-paru dan organ tubuh anak masih berkembang, dan sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa. Dengan demikian, anak dapat menyerap polutan lebih banyak terhadap ukuran tubuhnya.
Sementara dalam kasus RDF Plant Rorotan, warga pun melaporkan bau menyengat selama uji coba operasional. Sejumlah anak juga dilaporkan mengalami ISPA, batuk, dan iritasi mata.
Lantas, benarkah bau sampah hasil operasional RDF Rorotan membuat anak-anak sakit?
Secara teori, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Prof. Tjandra Yoga Aditama membenarkan bahwa udara yang tercemar memang lebih mudah menyerang anak-anak maupun lansia.
"Tentu saja yang daya tahan tubuh lebih rendah akan lebih rentan terkena, seperti anak-anak, lansia dan mereka yang memang punya masalah kronik di paru dan pernapasannya," terang Prof. Tjandra saat dikonfirmasi Suara.com melalui pesan tertulis.
Namun, Prof. Tjandra tidak lantas mengonfirmasi bahwa operasional RDF Rorotan jadi biang kerok timbulnya penyakit bagi anak-anak di sekitar fasilitas tersebut. Mengingat sampai hari ini, belum ada kajian khusus yang dilakukan untuk meneliti kemungkinan tersebut.
"Harus ada penelitian mendalam sebelum menyatakan apakah suatu sumber, apapun, menimbulkan dampak polusi atau tidak," tegasnya.
Apa Kata Regulasi?
Secara umum, fasilitas RDF modern menerapkan sistem pengendalian bau berlapis. Prinsip utamanya bukan sekadar menyemprot pewangi, melainkan mencegah bau keluar sejak awal proses pengolahan sampah.
Pada fasilitas RDF modern, area penerimaan dan pengolahan sampah umumnya dibuat tertutup dengan sistem tekanan negatif. Dengan sistem ini, udara dari luar masuk ke dalam bangunan, sementara udara dari dalam tidak keluar langsung ke lingkungan.
Udara yang mengandung bau kemudian dialirkan ke sistem pengolahan udara melalui ventilasi dan exhaust fan industri.
Selain teknologi pengolahan udara, fasilitas RDF ideal juga menekankan pengolahan lindi yang tertutup, pemrosesan sampah dalam kondisi masih segar, housekeeping ketat serta monitoring emisi dan bau secara berkala.
RDF Plant Rorotan diketahui menggunakan sejumlah perangkat pengendalian polusi udara, di antaranya deodorizer, cyclone separator, baghouse filter, wet scrubber, wet electrostatic precipitator, filter karbon aktif serta induced draft fan untuk mengarahkan udara ke cerobong pengolahan.
Dari sisi teknologi, sistem di RDF Rorotan dinilai sudah cukup lengkap dibanding banyak fasilitas pengolahan sampah di Indonesia.
Benar Langgar AMDAL?
Sejumlah persoalan yang muncul sejak tahap commissioning atau uji coba awal memantik dugaan bahwa dampak lingkungan dan kesehatan warga dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) untuk RDF Plant Rorotan tidak diprediksi atau ditangani dengan baik dalam kajian maupun implementasinya.
Dokumen AMDAL juga dianggap kurang transparan karena dinilai tidak dibuka secara jelas ke publik sejak awal perencanaan hingga sudah mulai beroperasi.
"Banyak pertanyaan yang kemudian dari tahun 2024 sampai saat ini belum bisa dijawab oleh Pemprov DKI Jakarta tentang AMDAL," kata Acep Edi Setiawan, salah satu warga terdampak operasional RDF Rorotan saat menggelar aksi kemarin.
AMDAL sendiri sangat penting untuk memastikan bahwa suatu proyek tidak merusak lingkungan secara serius, memiliki rencana pengelolaan dampak negatif dan tetap ramah lingkungan.
Pemprov DKI, melalui Dinas Lingkungan Hidup, berkali-kali menyatakan RDF Rorotan memiliki AMDAL lengkap. Bahkan, sempat juga dilakukan revisi karena terdapat perubahan peralatan pengolahan sebelum commissioning dimulai.
"Nggak mungkin bikin bangunan nggak ada AMDAL," kata Asep Kuswanto, yang saat masalah RDF Rorotan mencuat masih berstatus Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI di 2025.
Jakarta pada akhirnya memang membutuhkan solusi sampah. Tetapi, pengelolaan dengan teknologi modern harus tetap memperhatikan kesehatan publik.
Persoalan RDF Plant Rorotan kini bukan sekadar soal bau sampah, melainkan soal seberapa aman proyek pengolahan limbah dijalankan di tengah permukiman padat penduduk. Terutama, ketika anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak.
Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahardiansah mengusulkan langkah yang sedikit keras untuk dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Daripada harus menonaktifkan RDF Rorotan, Trubus mendorong Pramono untuk berani merelokasi warga yang terdampak operasional fasilitas.
"Jakarta itu tidak punya tempat pengolahan sampah, masak mau menggantungkan pada Bekasi terus?," tuturnya kepada Suara.com melalui sambungan telepon.
Andai opsi relokasi dirasa terlalu membebani anggaran, Pemprov DKI bisa mengulang langkah pemberian uang kompensasi seperti yang dilakukan pada warga terdampak bau sampah di TPST Bantargebang.
"Ini kalau memang mau maju. Kalau hanya berdebat terus soal kayak gitu, ya nggak maju-maju Jakarta," pungkas Trubus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
Terkini
-
Polisi Ungkap Kondisi 11 Bayi di Penitipan Sleman: Tiga Masih Dirawat di Rumah Sakit
-
Perum Bulog Rayakan HUT ke-59 dengan Kegiatan Sosial dan Pelayanan Masyarakat
-
Menko Yusril Warning Sidang Penyiraman Air Keras Andrie Yunus: Jangan Sekadar Jadi Formalitas
-
Riset Soroti Dampak Krisis Iklim terhadap Ketahanan Pangan di NTT dan Flores
-
Viral Pria di Depok Halangi dan Tendang Ambulans Hingga Penyok, Kini Berakhir Diciduk Polisi
-
Fakta Baru 11 Bayi di Sleman: Mayoritas Lahir di Luar Nikah
-
Nadiem Makarim Akan Jalani Operasi Saat Sidang Kasus Chromebook
-
Vladimir Putin Isyaratkan Perang Ukraina Segera Berakhir
-
11 Bayi Ditemukan Dirawat di Satu Rumah di Sleman, Polisi Selidiki Dugaan Penitipan Ilegal
-
Front Anti Militerisme Gelar Aksi di Kementerian HAM, Soroti Konflik dan Kekerasan di Papua