Indotnesia - Berwisata ke Yogyakarta tak lengkap jika tidak melewati kawasan rindang dengan bangunan peninggalan masa kolonial bergaya arsitektur Eropa di Kotabaru. Meski merupakan kawasan kecil, Kotabaru menyimpan sejarah penting sebagai saksi bisu peradaban masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui Peraturan Daerah Istimewa DIY (Perdais), Kotabaru telah ditetapkan sebagai kawasan heritage atau cagar budaya dan menjadi wilayah penopang keistimewaan Yogyakarta. Dilansir dari laman resmi Kelurahan Kotabaru, peninggalan sejarah di daerah tersebut telah banyak yang hancur atau dihancurkan untuk kepentingan tertentu dan hanya tersisa sekitar 45%.
Sejarah Kotabaru
Kotabaru dibangun pada 1917-1920 sebagai kota yang didirikan dengan konsep taman kota (garden city) sekaligus merupakan kawasan elit khusus bagi orang-orang Eropa, terutama Belanda.
Arsitek pembangunan kawasan elit tersebut adalah Thomas Karsten, ahli perencanaan wilayah permukiman yang juga terlibat dalam proyek pembangunan Pasar Johar Semarang, Batavia hingga Stasiun Solo Balapan.
Berbeda dari Batavia yang dibuat menyerupai kota di Belanda, Kotabaru dibangun dengan mencontoh London, Inggris meski arsitektur bangunan bergaya Eropa secara umum. Kawasan dengan luas sekitar 71.305 ha ini dibangun oleh Belanda dengan dilengkapi boulevard dan sejumlah jalan arteri.
Selain itu, sebagai kawasan elit bagi penduduk Eropa, Kotabaru dibangun pula berbagai fasilitas lengkap, seperti pusat olahraga yang saat ini dikenal dengan Stadion Kridosono, Algemene Middelbare School (AMS), Christelijke MULO School, dan Normal School.
Selain pusat olahraga dan sejumlah sekolah, Belanda juga membangun Rumah Sakit Petronella yang sekarang menjadi Rumah Sakit Bethesda, serta tempat ibadah pertama, yaitu Gereja Kristen dan disusul pembangunan Gereja Katolik atau saat ini menjadi Gereja Kotabaru.
Pembangunan kawasan elit yang telah memiliki sejumlah fasilitas memadai tersebut jadi tempat tinggal para orang Eropa hingga Jepang datang pada 1942 dan membuat mereka meninggalkan Yogyakarta untuk menyelamatkan diri.
Baca Juga: Mitos Menakutkan Pohon Gayam hingga Seabrek Manfaatnya
Pada masa kepemimpinan Jepang, Kotabaru menjadi pusat militer. Bangunan perumahan dan fasilitas umum yang telah tersedia digunakan sebagai fasilitas pendukung pemerintahan Jepang, terutama militer. Sedangkan sebagian lainnya disewakan pada penduduk pribumi kalangan atas untuk tambahan penghasilan.
Setelah kepemimpinan Jepang di Indonesia runtuh, terdapat sejumlah peristiwa penting di Kotabaru setelah masa kemerdekaan Indonesia pada 1945, di antaranya serbuan Kotabaru atau pertempuran antara warga Yogyakarta dan sekitarnya pada 7 Oktober 1945, menjadi bagian dari Ibukota Sementara Indonesia, dan pembangunan Masjid Syuhada Kotabaru pada 1952.
Kotabaru Saat Ini
Meski tak lagi jadi kawasan utama perumahan elit, Kotabaru saat ini menjadi daerah di Yogyakarta yang masih asri dengan rimbunan pohonnya. Bahkan, sejumlah bangunan bersejarah tetap dipertahankan, meski beberapa telah disewakan sebagai tempat bisnis.
Kawasan yang menjadi wilayah jalur gerilya Jenderal Sudirman tersebut kini juga menjelma menjadi daerah bisnis dengan beberapa tempat makan, toko buku, hingga dikenal sebagai kawasan pendidikan yang terdiri dari sejumlah sekolah favorit, yaitu SMAN 3 Yogyakarta, SMP 5 Yogyakarta, SMA Bopkri I, dan SD Ungaran.
Uniknya, di salah satu sudut Kotabaru ada penjual nangka yang telah berjualan sejak 1975 hingga saat ini. Penjual nangka tersebut merupakan satu-satunya yang ada di daerah itu dan tidak ada pedagang lain dengan penjualan serupa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Daftar Saham Paling Banyak Dijual Asing, Emiten Konglomerat Rontok!
-
Muncul Isu Pocong Palsu di Banten, Polisi Siaga Antisipasi Modus Kejahatan
-
MK Tegaskan Kuota 30 Persen Perempuan Wajib! Parpol Melanggar Siap-siap Digugurkan dari Pemilu
-
Tak Masuk Skuad Spanyol ke Piala Dunia 2026, Bek Real Madrid Beri Respons Menohok
-
iQOO Z11 Resmi di Indonesia, HP Baterai 9.020mAh Pertama Pecahkan Rekor MURI
-
Harga Minyak Turun ke USD 90-an Usai AS-Iran Beri Sinyal Gencatan Senjata Jangka Panjang
-
Cesc Fabregas Tegaskan Bertahan di Como Usai Lolos ke Liga Champions
-
Paylater dan Normalisasi Utang Kecil-Kecil: Kebiasaan Baru Generasi Digital?
-
Kiandra Ramadhipa Petik Banyak Pelajaran dari Debut Moto3 Junior, Siap Bangkit di Estoril
-
Perang Obor Jepara, Tradisi yang Terus Menyala