Indotnesia - Belum lama ini ganja medis ramai jadi perbincangan publik. Hal tersebut dipicu oleh aksi viral seorang ibu yang memohon legalisasi ganja untuk pengobatan cerebral palsy sang anak.
Ganja di Indonesia termasuk narkotika golongan I yang telah diatur dalam Undang-undang No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Penggunannya dianggap ilegal, termasuk bagi kepentingan medis kecuali digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dilansir dari Suara.com, ganja termasuk jenis tanaman Cannabis sativa yang memiliki kandungan tetrahidrokanabinol, senyawa yang dapat menyebabkan efek euforia atau mabuk. Meski begitu, pemanfaatan ganja telah berkembang terutama bagi kebutuhan medis dalam obat-obatan.
Pada Desember 2020, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui penggunaan ganja medis bagi tujuan pengobatan. Kesepakatan yang diajukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tersebut telah membuat sekitar 30 negara melegalkan penggunaan ganja medis.
Terbaru, Thailand menjadi negara Asia Tenggara pertama yang melonggarkan aturan ganja, terutama untuk konsumsi dan pengobatan. Walau legal, penggunaan ganja di Negara Gajah Putih tersebut tetap wajib mengikuti aturan, yaitu produk harus mengandung kurang dari 0,2% tetrahidrokanabinol.
Perbedaan Ganja Medis dan Daun Ganja
Tanaman ganja bagi kebutuhan konsumsi memanfaatkan pucuk daun dan batangnya. Sedangkan untuk pengobatan, daun ganja akan diambil ekstraknya dengan dosis sesuai kebutuhan yang telah dianjurkan oleh dokter.
Menurut Guru Besar Farmasi UGM Zullies Ikawati, tanaman ganja memiliki kandungan sejumlah komponen senyawa sitokimia yang dapat bekerja pada reseptor karbinoid dalam tubuh manusia.
Reseptor yang sama seperti dalam kandungan tanaman ganja itu dapat menghasilkan berbagai efek tertentu. Kesamaan reseptor tersebut yang dimanfaatkan para peneliti untuk mengambil ekstrak ganja dan diolah menjadi obat.
Baca Juga: Sultan HB X Dapat Bintang Tanda Jasa dari Kaisar Jepang, Apa Maknanya?
"Jadi memang beberapa memberikan efek di dalam perkembangan riset kesehatan. Cannabis ini bisa diambil senyawa aktifnya, kemudian bisa dibuat jadi obat. Itu yang disebut dengan ganja medis," jelas Zullies, dikutip dari Suara.com.
Sejak zaman dahulu, sebenarnya ganja telah digunakan sebagai pengobatan secara tradisional. Sayangnya, riwayat pengalaman nenek moyang terkait efektivitas penggunaan ganja sebagai obat belum dibuktikan melalui penelitian secara mendalam.
Mengambil ekstrak tanaman ganja guna kebutuhan pengobatan, ganja medis di sejumlah negara yang telah melegalkannya memiliki bentuk yang beragam. Ada yang berbentuk kapsul, obat minum hingga spray, disemprotkan langsung ke bawah lidah untuk menambah nafsu makan pada pasien HIV-Aids.
Meski pemanfaatan tanaman ganja bagi konsumsi dan pengobatan berbeda, risiko efek sampingnya dapat menimbulkan gejala yang sama. Artinya, penggunaan ganja dapat menimbulkan efek euforia atau mabuk bagi pengguna.
Kendati begitu, ganja medis memiliki efek samping lebih ringan dan terkontrol karena ekstrak ganja yang digunakan telah sesuai kebutuhan berdasarkan anjuran dokter. Berbeda halnya dengan pemanfaatan ganja untuk rekreasional, umumnya dikonsumsi secara berlebihan dan tidak terkontrol hingga risiko efek samping memabukkannya lebih tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Proyeksi IHSG Usai Rp789 Miliar Dana Asing Kabur, Saham BUMI Disorot
-
Bocoran Mobil Baru GIIAS 2026 Ada Honda Brio Listrik Hingga SUV Legendaris Toyota
-
Eksperimen Berani Igor Tolic Berhasil, Persib ke Semifinal Piala Presiden 2026
-
Kalau Semua Orang Mau Naik Transum, Mungkin Kota Kita Tak Semacet Sekarang?
-
Surga Tersembunyi di Jalur Pantura Situbondo:Catatan Perjalanan ke Utama Raya Beach
-
Kumpulan Ide Lomba Agustusan Anak TK yang Mudah dan Seru, Bikin Murid-Murid Antusias
-
Masih Enggan Naik Transportasi Umum? Sudah Saatnya Mengubah Cara Pandang
-
Naik Transportasi Umum, Langkah Sederhana yang Bisa Bikin Kota Lebih Nyaman
-
Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
-
Terdampak kemarau, Ratusan Titik di Banten Kekurangan Air Bersih