- WALHI Sumatera Barat menuding Pemerintah Provinsi menerbitkan izin tambang andesit di Nagari Kasang pascabencana ekologis akhir 2025.
- Pemberian izin tambang tersebut diduga mengandung maladministrasi karena minim partisipasi publik serta penggunaan data peta bencana yang tidak akurat.
- Masyarakat adat Nagari Kasang menolak tegas operasi tambang karena daerah tersebut sangat rawan bencana dan berisiko bagi warga.
Suara.com - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat menuding Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tetap menerbitkan izin tambang batu andesit di kawasan rawan bencana meski daerah tersebut baru saja dilanda bencana ekologis yang menewaskan warga.
Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Barat, Tommy Adam, mengungkapkan izin operasi produksi tambang andesit diterbitkan sekitar satu bulan setelah bencana ekologis yang melanda Sumbar pada akhir November 2025.
"Di Nagari Kasang di Kabupaten Padang Pariaman, Gubernur Sumatera Barat kemudian mengeluarkan perizinan satu bulan pasca bencana itu di lokasi yang kemudian sudah terjadi bencana ekologis di Padang Pariaman di hulu perbukitan barisan," kata Tommy dalam konferensi pers WALHI bertajuk "Ketika Tambang Dibiarkan, Siapa yang Melindungi Warga?" di Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).
Menurut Tommy, hanya berselang 10 hari setelah persetujuan lingkungan diterbitkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Sumbar, izin tambang batuan andesit kemudian keluar untuk lokasi yang berada di kawasan hulu sungai.
"Sepuluh harinya kemudian diterbitkan persetujuan lingkungan melalui Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, kemudian satu bulannya dikeluarkan izin tambang batuan andesit di hulu sungai," ujarnya.
WALHI menilai penerbitan izin tersebut sarat dugaan maladministrasi, yakni penyalahgunaan wewenang. Salah satunya terkait penggunaan peta risiko bencana yang dinilai tidak sesuai untuk menilai tingkat kerawanan lokasi tambang.
"Kami menemukan beberapa fakta dugaan-dugaan maladministrasi pemberian izin yang kemudian tidak memenuhi kaidah-kaidah administrasi pemerintahan yang baik. Peta bencana yang kemudian dipakai itu bukan peta bencana yang detail," kata Tommy.
Ia menjelaskan, dokumen lingkungan menggunakan peta risiko bencana berskala besar yang tidak mampu menggambarkan kondisi rinci wilayah Nagari Kasang.
"Wilayahnya wilayah nagari dipakai peta bencana yang kemudian bersumber dari data INARISK yang 1:250.000 yang tidak bisa menggambarkan sebaran dampak yang pasti di lokasi itu sehingga lolos perizinannya," ujarnya.
Baca Juga: WALHI 'Semprot' Pemprov DKI: Bukannya Perluas Akses Transportasi Umum, Malah Naikkan Tarif
Sebelumnya, WALHI Sumatera Barat bersama masyarakat Nagari Kasang telah melaporkan Gubernur Sumatera Barat ke Ombudsman terkait dugaan maladministrasi dalam penerbitan izin tambang andesit pada Mei lalu.
Tommy menyebut temuan mereka mengarah pada minimnya partisipasi publik, penggunaan data lingkungan yang tidak memadai, hingga dugaan pemalsuan tanda tangan dalam dokumen pendukung.
"Beberapa temuan kami itu kemudian mengindikasikan setidaknya gubernur ini melakukan maladministrasi," ujarnya.
Masyarakat Mengaku Tak Pernah Dilibatkan
Penolakan terhadap tambang tersebut juga datang dari masyarakat adat Nagari Kasang. Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kasang, Bayu Permana, mengatakan warga tidak pernah dilibatkan dalam proses awal penerbitan izin.
"Awal mula perizinan ini tanpa adanya keterlibatan masyarakat adat dan masyarakat yang terdampak di daerah kami di lokasi tambang," kata Bayu.
Ia mengungkapkan masyarakat baru mengetahui keberadaan izin tambang pada Mei 2025, sementara izin tersebut disebut telah terbit sejak tahun sebelumnya.
Berita Terkait
-
WALHI 'Semprot' Pemprov DKI: Bukannya Perluas Akses Transportasi Umum, Malah Naikkan Tarif
-
WALHI Kritik Kenaikan Tarif Transjakarta, Krisis Udara Ibu Kota Bakal Makin Parah
-
Mantan Kapolda Kalbar Irjen Pipit Diduga Bekingi Bos Tambang Aseng, Kejaksaan Didesak Periksa
-
Dijuluki 'Banjir Abadi', Genangan di Joglo Kembangan Akhirnya Ditangani Pemkot Jakbar
-
Sisa Material Banjir Bandang Masih Selimuti Kawasan Muara Batang Kuranji
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
Terkini
-
Penumpang KA Jarak Jauh Wajib Tahu! Ada Pengalihan dari Gambir ke Jatinegara Imbas Demo di Jakarta
-
Siksa Bocah di Taman Kramat Pulo hingga Tersengat Listrik, 2 Remaja Ditangkap Polisi
-
Usut Gurita Suap Bea Cukai, KPK Periksa Sekretaris Pendiri IAW Iskandar Sitorus
-
Kemenag Gelar Nikah Massal Gratis, Peserta Terpilih Berkesempatan Dapat Modal Usaha
-
Menteri Hukum Dorong Penyelesaian Aduan Masyarakat Lewat Program Pasti Ada Solusi
-
Siaga di Bundaran HI! Mobil Tahanan Polda Metro Siap Angkut Perusuh di Demo Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Ahmad Luthfi Gandeng KPK Benahi Tata Kelola Tambang dari Hulu ke Hilir
-
Klaim Tanpa Senjata Api, 6.088 Personel Gabungan Amankan Demo Mahasiswa di Jakarta
-
Mahasiswa Bakal Gelar Aksi Menuju Indonesia Bangkrut di Bundaran HI, Tuntut Harga BBM Diturunkan