/
Senin, 25 Juli 2022 | 10:32 WIB
Cacar monyet ditetapkan sebagai kondisi kesehatan global oleh WHO. (Freepik/ Freepik)

Indotnesia - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan cacar monyet atau monkeypox sebagai kondisi darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) pada Sabtu (23/7/2022) seiring meningkatnya penyebaran wabah virus di sejumlah negara.

“Saya telah memutuskan bahwa wabah cacar monyet global merupakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional,” tulis akun Twitter resmi WHO pada Sabtu (23/7/2022).

Virus cacar monyet mulai jadi perhatian publik setelah adanya laporan sejumlah kasus orang terinfeksi yang merebak di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat pada Mei 2022. 

Berdasarkan laporan yang didapatkan WHO, setidaknya hingga kini ada sekitar 16 ribu orang terinfeksi cacar monyet di 75 negara dan 5 kasus meninggal dunia.

Berikut 3 fakta seputar cacar monyet yang perlu kamu ketahui untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penularan antar negara dari virus tersebut:

1. Status PHEIC 

Menurut International Health Regulation (IHR), suatu penyakit bisa ditetapkan sebagai kondisi darurat kesehatan global jika telah memenuhi 4 aspek, yaitu termasuk kejadian luar biasa, menimbulkan risiko kesehatan masyarakat karena penularan antar bangsa, dideklarasikan secara formal oleh WHO, dan memerlukan kondisi penanganan secara internasional.

Meski telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global, virus tersebut belum tentu dinyatakan pandemi seperti halnya Ebola dan Polio karena status darurat kesehatan itu ditujukan terhadap penyakit yang menyebar.

2. WHO tetapkan 4 kelompok risiko penularan

Baca Juga: 219 Orang di Dunia Terkena Cacar Monyet, Paling Banyak Diderita Pria Muda

Untuk meminimalisir penularan cacar monyet, WHO membagi sejumlah negara ke dalam empat kelompok sesuai kategori terhadap kasus penyakit tersebut, yakni: 

- Kelompok pertama, negara yang belum melaporkan adanya kasus selama lebih dari 21 hari; 

- Kelompok kedua, negara yang telah melaporkan adanya kasus orang terinfeksi melalui penularan antar manusia;

- Kelompok ketiga, negara yang melaporkan adanya penularan virus dari hewan ke manusia;

- Kelompok keempat, negara yang memiliki kapasitas dan kemampuan dalam memproduksi vaksin serta memfasilitasi terapi bagi penderita cacar monyet.

3. Memiliki gejala yang berbeda dari kasus sebelumnya

Diketahui, cacar monyet bukan merupakan virus baru dan telah ada sejak 1958. Meski begitu, hingga kini belum ada pengobatan khusus untuk menangani virus tersebut selain diberikan obat guna mengurangi gejala, seperti vaksinasi dan obat antivirus.

Berdasarkan studi terbaru New England Journal of Medicine, tiga gejala cacar monyet yang lain dan lebih buruk diantaranya lesi genital tunggal, luka di mulut serta luka anus dengan gejala klinis miri infeksi menular seksual dan dapat dengan mudah menyebabkan kesalahan diagnosis.

Penularan cacar monyet di antara manusia bisa terjadi melalui kontak langsung, seperti adanya luka di kulit yang terbuka, melalui cairan tubuh, droplet atau percikan air liur saat bersin dan batuk, serta menyentuh permukaan yang telah terkontaminasi penderita virus monkeypox.

Sebagian besar kasus penularan cacar monyet saat ini lebih banyak terjadi melalui aktivitas seksual, khususnya antara pria dan pria.

Load More