Indotnesia - Nama aktor Kriss Hatta kembali menjadi perbincangan publik setelah mengaku pacaran dengan gadis remaja usia 14 tahun. Kisah cinta mereka menuai kontra dari warganet.
Kriss Hatta disebut pedofil karena memacari remaja yang usianya 20 tahun lebih muda. Bahkan menurut pengakuannya, pria berusia 34 tahun itu siap menikahi kekasih, yang identitasnya masih dirahasiakan.
Lalu, sebenarnya apa itu pedofil dan bagaimana ciri-cirinya?
Pedofil merupakan istilah bagi pelaku pedofilia. Pedo berasal dari Bahasa Yunani yang berarti ‘anak’ dan ‘phile’ yang dalam bahasa Yunani, Latin, dan Prancis berarti ‘cinta’.
Menurut Kamus Kementerian Kesehatan RI, pedofilia adalah aktivitas seksual yang melibatkan anak kecil, umumnya di bawah usia 13 tahun itu.
Pedofil biasanya berusia lebih dari 16 tahun dan minimal 5 tahun lebih tua dari si anak. Individu dengan gangguan ini dapat mengembangkan prosedur dan strategi untuk mendapatkan akses dan kepercayaan dari anak-anak.
Menurut Psychology Today, pedofilia adalah fantasi, dorongan seksual, atau perilaku seksual yang berulang dan intens yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak praremaja atau anak kecil, biasanya berusia 13 tahun atau lebih muda, selama tidaknya 6 bulan.
Ada sekitar 1-5% dari populasi pria yang termasuk pedofil, sementara hanya sedikit pelaku pedofilia yang berasal dari perempuan. Pelaku biasanya berasal dari keluarga, teman, atau kerabat korban.
Jenis tindakan pedofilia bervariasi, mulai dari hanya melihat anak yang membuka baju, menyentuh anak, bahkan hingga melibatkan tindakan pelecehan seksual.
Baca Juga: Tampil di Film Pendek Lokal sebagai Petani, Moeldoko Kenalkan Inovasi
Penyebab pedofilia belum diketahui secara pasti, namun beberapa bukti menyebutkan kelainan seksual ini dapat diturunkan dalam keluarga. Selain itu, riwayat pelecehan seksual pada masa kanak-kanak juga jadi faktor potensial.
Seseorang dapat disebut sebagai pedofil setelah mendapat diagnosis oleh psikiater atau psikolog.
Lalu, apa saja ciri-ciri pedofil secara umum? Berikut selengkapnya, seperti dikutip dari Mental Health Center:
- Lebih suka ditemani anak-anak, atau lebih nyaman dengan anak-anak ketimbang orang dewasa
- Menyukai anak-anak yang tampak bermasalah dan membutuhkan perhatian atau kasih sayang
- Melakukan kontak fisik dengan anak-anak mulai dari menyentuh, menggendong, hingga berciuman dsb
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Hujan Ringan Diprediksi Mengguyur Pekanbaru dan Padang Hari Ini
-
Review Film The Ribbon Hero: Dongeng Klasik Tezuka dalam Balutan Modernitas
-
Eks Penyidik KPK: Kasus Febrie Adriansyah Harus Dilakukan Menyeluruh
-
MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah Bukan Rp300 Triliun, Ini Pertimbangannya
-
Cushion ESQA Oksidasi atau Tidak? Cek Kelebihan dan Review Pengguna sebelum Membeli
-
Tanding di Berlin, Tim Indonesia Ramaikan Piala Dunia Basket Putri 2026
-
Siapa Saja Peraih ESG Award 2026? Intip Daftar Emiten dan Investor Paling Berdampak di RI
-
Dikurung sebab Berbahaya, Dicintai sebab Berbeda: Juliette dalam Shatter Me
-
Melebihi Target, 4.000 Orang Registrasi Festival Yacht Gratis di Benoa
-
Baru Debut Langsung Nyekor, Aksi Striker Timnas Garuda Bikin Juara Belanda Gigit Jari