- Kemenperin sedang membahas insentif mobil listrik dengan Kemenkeu, tanpa keputusan final mengenai skema atau besaran.
- Kemenperin mendorong penjualan mobil nasional mencapai target 850 ribu unit pada 2026 untuk perbaikan industri.
- Insentif LCGC tetap 3 persen PPnBM sesuai program LCEV yang berlaku hingga tahun 2031 sesuai Perpres.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan kebijakan insentif mobil listrik masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hingga kini, belum ada keputusan final terkait skema maupun besaran insentif yang akan diberikan.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, mengatakan pembahasan insentif dilakukan seiring dengan upaya pemerintah mendorong penjualan kendaraan bermotor nasional pada 2026 dengan target 850 ribu unit.
“Tahun lalu realisasinya sekitar 803 ribu unit. Tahun ini kami menargetkan 850 ribu unit, dan Kemenperin sudah bersurat ke Kementerian Keuangan untuk membantu industri otomotif agar penjualannya membaik,” ujarnya di JIEXPO Kemayoran, Jumat (6 Februari 2026).
Lebih lanjut, ia menyebut saat ini usulan insentif mobil listrik masih berada di Kemenkeu dan belum dapat dipastikan kapan keputusan akan diambil.
“Masih dalam pembahasan di Kemenkeu. Ditunggu saja, mudah-mudahan segera ada jawabannya,” katanya.
Terkait insentif kendaraan hybrid pun, Setia menegaskan kebijakannya masih sama dan belum mengalami perubahan.
Sementara untuk segmen Low Cost Green Car (LCGC), pemerintah masih mempertahankan insentif berupa tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 3 persen yang masuk dalam program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV).
“Untuk LCGC masih ada program LCEV dengan PPnBM 3 persen. Program ini kan berjalan sampai 2031 sesuai dengan Perpres,” ujarnya.
Sebagai informasi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menetapkan target penjualan mobil nasional sebesar 850.000 unit pada 2026, seiring kondisi pasar otomotif domestik yang dinilai masih cukup menantang.
Baca Juga: Pemerintah Harapkan IIMS 2026 Jadi Katalis Pemulihan Industri Otomotif
Berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil secara wholesales atau dari pabrik ke diler pada 2025 tercatat sebanyak 803.687 unit, turun 7,2 persen dibandingkan capaian 2024 yang mencapai 865.723 unit.
Sementara, penjualan mobil dari diler ke konsumen (retail sales) pada 2025 mencapai 833.692 unit atau turun 6,3 persen dibandingkan 889.680 unit pada 2024.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Skutik Terlaris New Honda BeAT Makin Mewah Lewat Sentuhan Desain Premium
-
Cara Praktis Percantik Kendaraan di Jakarta Fair 2026 Lewat Produk Diton
-
Spesifikasi Yamaha R7: Motor yang akan Dipakai di Moto3 Mulai 2028
-
Nongol di Dealer, Harga Rasa LCGC: Intip SUV Terbaru Renault yang Sekaliber Toyota Raize
-
Yamaha Gear Ultima Buktikan Skutik Kompak Bisa Tangguh di Jalur Perkotaan Maupun Pedesaan
-
Kenaikan Harga BBM Diklaim Tak Berikan Dampak Terhadap Penjualan Mobil Premium
-
Yamaha R15 Paket Hemat Harga Tak Sampai 30 Juta, tapi Joknya Nyambung
-
Andalkan Autopilot, Mobil Listrik Xiaomi Pecah Rekor Sirkuit
-
Hyundai Ioniq 5 Setara BYD Apa? Kini Harganya Lebih Murah 150 Jutaan
-
Gebrakan BMW Indonesia Rilis Tiga Mobil Kencang untuk Pecinta Adrenalin