/
Selasa, 27 Desember 2022 | 16:40 WIB
Fajar SadBoy menangis (Suara.com)

Suara Joglo - Buat kalian kawula muda yang putus cinta dan patah hati, jangan anggap enteng persoalan anda. Segeralah move on dan cari obatnya. Jangan sampai menangis berlarut-larut meniru si Fajar SadBoy.

Ternyata, soal patah hati ini ada kajian ilmiahnya. Bahkan penelitian ini telah dipublikasikan dalam Journal of Neurophysiology yang khusus meneliti dampak dari patah hati. Dan ternyata dampak ini jarang diketahui orang.

Putus cinta ini bisa dialami siapa saja, bisa cewek atau cowok. Efeknya memang menyakitkan dan bisa berdampak pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Dan ini bukan situasi yang mudah, meski sebenarnya keadaan ini akan membaik seiring berjalannya waktu.

Nah, berikut ini dampak yang mungkin terjadi saat kamu mengalami putus cinta dan patah hati dikutip dari berbagai sumber:

Respons Fight or Flight

Tubuh akan mengeluarkan respons fight or flight ketika seseorang patah hati. Respons ini mengaktifkan sistem saraf simpatetik dalam otak yang menstimulasi kelenjar adrenalin dan memicu produksi hormon katekolamin guna menyiagakan tubuh untuk mengambil tindakan.

Masalahnya adalah, ketika produksi hormon ini muncul di saat tubuh tidak membutuhkannya justru berdampak negatif pada tubuh. Di antaranya menyebabkan sesak napas, badan pegal-pegal, penumpukan lemak dalam tubuh, dan hilangnya nafsu makan.

Sakit dan Kecewa Berat

Journal of Neurophysiology menyebutkan, berpisah dengan orang yang kamu sayangi merangsang otak untuk mengirimkan sinyal rasa sakit ke seluruh tubuh. Proses tersebut menimbulkan berbagai gejala putus cinta dan patah hati, seperti rasa sakit, sedih, marah, dan kecewa. 

Baca Juga: Jokowi Beri Bansos, Iriana Bagi-bagi Kaos dan Perlengkapan Sekolah di Pasar Baru Subang

Putus cinta dan patah hati bisa menyebabkan sakit kepala, hilangnya nafsu makan, dan susah tidur. Saat putus cinta, kadar hormon bahagia dalam tubuh menurun (dopamin dan oksitosin), tetapi kadar hormon stres meningkat (kortisol).

Munculnya Jerawat dan Rambut Rontok

Sebuah studi tahun 2007 menyebutkan bahwa stres (termasuk akibat putus cinta) adalah salah satu faktor penyebab munculnya jerawat. Stres dapat menyebabkan kerontokan rambut. 

Alasannya karena produksi hormon akibat stres bisa melonggarkan folikel rambut secara bertahap, menyebabkan helaian rambut rontok saat disisir atau keramas.

Pada beberapa kasus, stres akibat putus cinta bisa memicu trikotilomania, yaitu tindakan mencabut rambut dari kulit kepala. Jika dibiasakan, trikotilomania bisa menyebabkan kerontokan rambut hingga kebotakan.

Sindrom Patah Hati

Load More