- Timnas Futsal Indonesia akan menghadapi Iran di final Piala Asia Futsal 2026 di Jakarta, sebuah pencapaian bersejarah pertama bagi Indonesia.
- Iran merupakan tim kuat dengan 13 gelar juara, dan secara historis selalu mengalahkan Indonesia dalam pertemuan Piala Asia Futsal.
- Pelatih Indonesia menilai Iran berada di bawah tekanan besar untuk menang, berbeda dengan Indonesia yang dapat bermain lebih bebas.
Suara.com - Timnas Futsal Indonesia akan menghadapi tantangan besar saat bertemu Iran di final Piala Asia Futsal 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, Sabtu (7/2/2026) malam WIB.
Laga ini menjadi momen paling bersejarah bagi futsal Indonesia karena untuk pertama kalinya Garuda mampu melangkah hingga partai puncak.
Sebelumnya, pencapaian terbaik Timnas Futsal Indonesia hanya mampu menembus babak perempat final dalam ajang bergengsi tersebut.
Namun, sejarah pertemuan memperlihatkan bahwa Indonesia kalah telak secara head to head dari Iran di Piala Asia Futsal.
Iran dikenal sebagai kekuatan dominan dengan torehan 13 gelar juara dari total 17 edisi turnamen.
Sementara empat gelar lainnya berhasil diraih Jepang, menjadikan dominasi Iran nyaris mutlak di level Asia.
Rekor pertemuan Indonesia kontra Iran juga mencerminkan betapa sulitnya menaklukkan raksasa Asia Barat tersebut.
Pertemuan pertama terjadi pada fase grup Piala Asia Futsal 2004, ketika Indonesia kalah telak dengan skor 3-13.
Delapan tahun berselang, kedua tim kembali berjumpa di fase grup Piala Asia Futsal 2012 dan Iran menang 5-1.
Baca Juga: Jadwal dan Link Streaming Final Piala Asia Futsal 2026: Timnas Indonesia Cetak Sejarah
Pertemuan terakhir berlangsung pada Piala Asia Futsal 2022, di mana Indonesia harus mengakui keunggulan Iran dengan skor 0-5.
Tiga kekalahan beruntun tersebut menunjukkan jurang kualitas yang cukup lebar di antara kedua tim.
Meski demikian, kondisi kini berbeda karena Indonesia tampil luar biasa sepanjang turnamen 2026.
Keberhasilan menyingkirkan Jepang di semifinal membuktikan bahwa Garuda telah berkembang pesat.
Pelatih Hector Souto menilai Iran justru berada dalam tekanan besar karena tradisi juara yang melekat kuat.
Menurutnya, Iran adalah tim yang wajib menang, sementara Indonesia bisa bermain lebih lepas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 HP Murah Baterai 7000 mAh, Tahan hingga 2 Hari dengan Performa Kencang
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- Rumah Lansia 82 Tahun Dieksekusi PN Jakbar Meski Masih Sengketa
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja
-
Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet
-
Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah
-
Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik
-
IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung
-
5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau
-
Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026
-
Kredit Macet Hantui Industri Pinjol
-
Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru
-
Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung