/
Selasa, 15 Agustus 2023 | 15:11 WIB
Ilustrasi gempa bumi (Suara.com)

Staf Stasiun Geofisika Kelas I Sleman Ayu K. Ekarsti menambahkan selain pemantauan melalui sensor, BMKG juga menyelidiki bagaimana aktivitas Sesar Opak melalui riset dengan sejumlah perguruan tinggi menggunakan studi tomografi, kajian seismisitas, pengamatan GPS, dan sejumlah metode lain.

Berdasarkan penelitian yang terus dilakukan BMKG, kata dia, hingga kini belum bisa dinyatakan adanya patahan baru di sekitar Sesar Opak yang membentang di sebagian Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Gunungkidul, dan sebagian wilayah Kota Yogyakarta. "BMKG sampai saat ini belum bisa memberikan statemen adanya patahan baru," kata dia.

Sebelumnya, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut mulai tampak adanya gejala peningkatan aktivitas kegempaan akibat Sesar Opak.

Menurut dia, mitigasi bencana besar dari Sesar Opak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus terus dilakukan, sebab sesar yang memiliki magnitudo tertarget M 6,6 dan sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust dengan magnitudo tertarget M 8,7 di selatan Jawa ini masih terus aktif.

"Jadi, tidak boleh berhenti upaya mitigasi dan pelatihan-pelatihan kepada masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah pesisir, karena ancaman tsunami juga menghantui selain gempa bumi," kata Dwikorita melalui siaran resmi BMKG.

Load More