/
Senin, 10 Juli 2023 | 13:01 WIB
Ilustrasi buku literasi finansial (Pixabay/StockSnap)

Literiasi digital masyarakat Indonesia masih rendah lantaran infrastruktur telekomunikasi belum merata, kata Mohammad Haerul Amri.

“Jangankan kawasan pulau terluar, daerah kelahiran saya, Karawang, yang hanya berjarak sekitar 60 Km dari Monas Jakarta, sinyal masih susah,” kata anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Amri dalam Rapat Panitia Kerja (Panja) Peningkatan Literasi dan Tenaga Perpustakaan Komisi X DPR RI.

Gus Amri, sapaan akrab Haerul Amri, mengatakan, rendahnya literasi di Indonesia menjadi sorotan dunia internasional.

The United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebut minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

Bahkan, lanjut Gus Amri, hasil Asesmen Nasional 2021 menunjukkan Indonesia mengalami darurat literasi. Sebab, satu dari dua peserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi.

Legislator NasDem dari Dapil Jawa Timur II (Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, dan Pasuruan) itu mengatakan, rendahnya literasi itu merupakan tanggung jawab bersama, termasuk kementerian/lembaga terkait.

“Kita tidak bisa menyalahkan satu lembaga saja. Jadi ini sekaligus sebagai otokritik kita,” imbuhnya.

Untuk itu, Sekjen Garda Pemuda NasDem itu berharap semua kementerian dan lembaga saling bersinergi untuk bersama-sama mengatasi darurat literasi tersebut.

“Saya mengapresiasi rapat kerja seperti ini. Mudah-mudahan tidak ada egosektoral dan egokomisi demi perbaikan bangsa ini ke depan,” tukas Gus Amri.

Baca Juga: 3 Alasan Harus Nonton Lies Hidden In My Garden, Semua Karakter Bikin Curiga

Load More