Pengamat politik Burhanudin Muhtadi mengatakan proses pemilihan ketua umum partai politik bisa diawasi langsung oleh aparat penegak hukum.
Polisi, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Kejaksaan, kata Burhanudin, sudah seharusnya memiliki keinginan untuk masuk ke dalam proses "demokratisasi" internal kepartaian.
"Seharusnya kan ini menjadi ranah buat penegak hukum untuk masuk ke dalam so called 'demokratisasi' internal kepartaian kita. Seharusnya kalau misalnya KPK, kejaksaan, polisi punya keinginan untuk membersihkan partai kita," kata Burhanudin dalam pernyataannya, dikutip Liberte Suara, Selasa (1/8/2023).
"Mereka juga ikut nongkrongi, mengawasi, proses-proses pemilihan ketua umum partai-partai," sambungnya.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia itu menilai, parpol hanya akan menjadi wadah untuk praktik korupsi jika politik transaksional tidak ditindak oleh lembaga penegak hukum.
"Ini justru menjadi titik masuk ya buat lembaga penegak hukum untuk komit melakukan proses pengawasan monitring sekaligus yang tadi saya sebut memastikan demokratisasi internal kepercayaan kita bisa berjalan," ungkapnya.
Menurut Burhanudin langkah pengawasan lembaga penegak hukum penting demi memastikan proses demokrasi yang sehat dalam tubuh parpol terus berjalan. Apalagi ini sudah eranya reformasi yang kerap disandingkan dengan terbukanya proses demokrasi.
"Tapi sayangnya partai politik sebagai instrumen penting demokrasi seringkali gagal mendemokrasikana dirinya sendiri termasuk dalam proses pemilihan ketua umum," tutur dia.
"Harusnya kan mereka memberikan contoh kalau betul bahwa demokrasi itu tumbuh di sistem kepartaian kita," tukas Burhanudin.
Baca Juga: Berani Berseteru dengan Banyak Orang, Nikita Mirzani Akui Sosok Ini Bisa Bikin Nyalinya Ciut
Untuk diketahui, mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) mengatakan modal untuk menjadi seorang ketua umum partai setidaknya membutuhkan Rp600 miliar.
"Karena Golkar itu suka ketuanya itu pimpinan negara, saya tertinggi waktu itu, ongkos hampir kecil sekali. Kalau sekarang Anda mau jadi Ketua Golkar jangan harap kalau Anda tidak punya modal 5-600 miliar," kata JK dalam sebuah paparan, dikutip Liberte Suara, Selasa (1/8/2023).
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim
-
Kebakaran Lahan Meluas ke Pemukiman, BPBD Cianjur Minta Warga Waspadai Puntung Rokok
-
140 Titik di Banten Darurat Air Bersih
-
Gurita Pungli Dinas ESDM Jatim: Kabid Geologi Jadi Tersangka, Peras 217 Pemohon
-
Buka 31 Formasi Jabatan, Bupati Bogor Jamin Proses Seleksi ASN Transparan dan Bebas Orang Dalam