Suara.com - Danny Jarvis, seorang pelatih bola yang diakui. Ia menyenangkan, mandiri dan mencintai pekerjaannya. Ia juga penderita cerebral palsy yang membuatnya harus selalu duduk di atas kursi roda. Di usianya yang menginjak 32 tahun ia masih perjaka, satu hal yang tak lazim di Inggris. Hingga kesempatan itu menghampirinya saat ia berada di Amsterdam, Belanda.
Dan di pengalaman pertama itu, hati Jarvis diliputi dengan rasa khawatir, karena sebelumnya tak seorangpun mengajarinya tentang hal yang satu ini.
Kisah Jarvis ini, mengusik Jennie Williams, seorang managing director sebuah lembaga pengumpulan dana untuk kaum disable di London, Inggris. Ia pun mulai mencari tahu tentang pendidikan seks bagi kaum difabel. Dan ia menemukan hanya sedikit sekali tersedia pendidikan seks bagi kaum difabel. Belakangan memang ada program televisi dan film yang menerangkan bagaimana bercinta di atas kursi roda. Tetapi secara umum pendidikan seks bagi kaum disable masih terabaikan.
Laporan sebuah lembaga amal untuk kaum difabel, Leonard Cheshire, juga menyebut hampir 50 persen kaum difabel tidak mendapatkan pendidikan seks di sekolah mereka. Di sisi lain, mereka juga jarang terhubung dengan situasi sehari-hari di mana orang normal bisa belajar mengenai masalah ini. Kaum difabel juga kurang mendapat kesempatan untuk mengenal tubuh mereka sendiri.
Seperti yang dituturkan Jarvis, saat pertama kali mimpi basah ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga merasa mendapat tekanan dari teman-temannya. Sementara sang ibu mengaku kesulitan untuk membahas hal ini. "Di sekolah ia mendapat anggapan, lawan jenis tak akan suka bercinta dengan seseorang yang duduk di atas kursi roda," ujarnya.
Menurut Williams kaum disable sering merasa terpinggirkan untuk urusan seks. "Banyak orang mengira mereka tidak memiliki gairah seks seperti halnya anak-anak," ujarnya. Padahal mereka juga memiliki dorongan itu, tetapi banyak yang tidak tahu apa seks itu.
Kenyataan ini membuat pendidikan seks bagi kaum difabel menjadi penting, terutama pada perempuan. Karena mereka bisa berisiko hamil. Pendidikan seks, tidak hanya bisa menghindarkan mereka dari kehamilan yang tak diinginkan, juga kemungkinan tertular penyakit menular seksual, serta kemungkinan menjadi korban pelecehan seksual. (The Guardian)
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
Terkini
-
6 Shio Paling Banyak Cuan Pada 3 Januari 2026
-
5 Rekomendasi Body Spray untuk Atasi Jerawat Punggung, Mulai dari Rp 70 Ribuan
-
5 Sunscreen untuk Pria yang Nggak Bikin Wajah Abu-Abu, Nyaman Dipakai Harian
-
7 Vitamin Penambah Nafsu Makan untuk Dewasa Paling Ampuh, Harga Mulai Rp9 Ribuan
-
5 Sepatu Nike Ori Diskon hingga 75 Persen di JD Sports, Harga Promo Jadi Rp300 Ribuan
-
Waspada! Ini 12 Gejala Super Flu pada Anak, Virus Mulai Merebak di Indonesia
-
5 Calming Spray untuk Atasi Jerawat Meradang saat Aktivitas di Luar
-
5 Rekomendasi Walking Shoes Lokal Murah 2026: Mulai Rp100 Ribuan, Cocok Buat Gaji UMR
-
5 Pasta Gigi Murah untuk Memutihkan Gigi, Cocok untuk yang Suka Ngopi dan Merokok
-
Cara Menulis Surat Izin Tidak Sekolah karena Sakit yang Benar, Dilengkapi Contoh Siap Pakai