Suara.com - Menjaga dan melestarikan lingkungan alam sekitar bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan bergabung bersama Komunitas Peta Hijau. Komunitas Peta Hijau (KPH) merupakan gerakan publik di berbagai kawasan, yang memetakan wilayah dengan ikon-ikon Peta Hijau seperti tanaman maupun binatang.
Peta Hijau atau Green Map mulai diperkenalkan pada tahun 1994, oleh seorang warga New York Amerika Serikat, bernama Wendy Brower. Kini Peta Hijau telah menjadi gerakan global dalam mengidentifikasi potensi lokal melalui 170 ikon universal, dengan membuat peta hijau di lebih dari 775 kota yang tersebar di 60 negara di dunia, termasuk Indonesia.
"Ide Peta Hijau tercetus olehnya saat ia kebingungan mencari petunjuk arah tujuan ketika berkunjung ke Kebun Binatang Gembiraloka di Yogyakarta. Tidak adanya petunjuk dan bahasa yang tidak ia pahami, membuatnya berfikir untuk membuat ikon berupa bahasa gambar-gambar universal yang mudah dipahami orang awam, sepulangnya dari Jogja," cerita Niken Prawestiti, seorang relawan Komunitas Peta Hijau.
Di Indonesia, Peta Hijau mulai digagas oleh Marco Kusumawijaya. Lantas pada tahun 2000, Marco yang juga seorang arsitek menggandeng teman-temannya mulai membuat Peta Hijau Jakarta (PHJ). Awalnya ditandai dengan pembuatan Peta Hijau di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
"Ketika dimulai, PHJ bermaksud menyadarkan orang tentang kesalingketerkaitan antara alam dan gaya hidup. Ketika itu, orang belum yakin akan pemanasan bumi, gerakan atau komunitas hijau belum menjamur seperti sekarang," tambah Niken.
Tujuannya lainnya, tambah Niken, PHJ juga dibuat untuk meningkatkan kebiasaan hidup perkotaan yang sehat dan berkelanjutan, agar nantinya dapat membantu warga kota lain bisa lebih menyadari keberadaan serta interaksi antara sumber daya lingkungan dan kebudayaan.
Kegiatan utama PHJ adalah dengan melakukan pemetaan wilayah oleh masyarakat setempat untuk menggali potensi wilayah dan lingkungan tersebut.
"Umumnya, pemetaan diikuti oleh masyarakat awam dari berbagai latar belakang. Kami survey berjalan kaki, menjelajah wilayah bersama-sama mengamati apa yang dilihat selama perjalanan. Berjalan kaki membuat pengamatan menjadi lebih detail dan sensitif dalam menangkap kondisi wilayah," jelasnya lebih lanjut.
Setelah itu, kelompok survey PHJ mengadakan diskusi, bertukar pengalaman saat survey karena masing-masing orang pasti memiliki cerita yang berbeda-beda.
Data dari diskusi ini dicatat dan poin-poin yang ditemukan selanjutnya disepakati bersama. Apa saja yang masuk dalam peta dengan simbol 'ikon Peta Hijau'.
"Ikon-ikon ini ditafsirkan oleh kelompok survei melalui proses diskusi. Proses diskusi merupakan kesempatan untuk sukarelawan (sebutan para penggiat PHJ) untuk mengenal lebih baik lingkungan kotanya," kata dia.
sambil menambahkan hasilnya yang berupa peta menjadi dokumentasi penting dalam merekam kondisi suatu wilayah.
Sampai saat ini, PHJ telah memiliki sembilan edisi Peta Hijau dengan tema yang berbeda. Edisi 1 yang dibuat pada 2001 meliputi peta hijau di Kemang, edisi 2 Kebayoran Baru (2002), edisi 3 Menteng (2003), edisi 4 Kota Tua (2005), edisi 5 Jelajah Jakarta (Naik Transportasi) Hijau (2009), edisi 6 Kenali Situ Jakarta dan Sekitar (2009), dan edisi 7 100 Lokasi Hijau di Jakarta (2010), edisi 8 Keanekaragaman Hayati Jakarta (2011), dan yang terakhir edisi 9 Jakarta Dulu, Potret Kini (2011).
Berbasis pada semangat sukarela yang murni dan bersifat cair, siapapun boleh bergabung dengan PHJ. Bahkan, kata Niken, tak ada istilah anggota di komunitas ini. Yang ada hanyalah sukarelawan.
"Dalam setiap pemetaan yang dilakukan, kami mengajak orang setempat untuk berperan aktif, dengan harapan, orang lokal akan menjadi pionir perubahan lingkungannya. Atau seringkali, inisiasi muncul dari penghuni setempat yang punya kesadaran untuk lebih mengenali potensi lingkungannya dengan Peta Hijau," jelasnya.
Tidak hanya di Jakarta, Komunitas Peta Hijau juga aktif di kota-kota besar di Indonesia, seperti Yogyakarta, Malang, Surabaya, dan juga sempat menggeliat di Bandung, Banda Aceh, Makassar, Solo, dan Semarang.
Untuk ke depannya, PHJ berharap, dengan berbekal Peta Hijau warga dapat bersama menjelajahi dan mengenali lebih dekat potensi wilayahnya masing-masing sekaligus menyosialisasikan tempat-tempat ”hijau”, seperti kampung hijau, kampung tradisional, museum, tempat pertunjukan kesenian, hingga bangunan bersejarah, dan lain-lain.
"Semoga Peta Hijau dapat mengubah perilaku hidup masyarakat yang lebih sehat, bersih, hijau dan berbudaya," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Berapa Jumlah dan Siapa Saja Korban Pelecehan 16 Mahasiswa FH UI?
-
Bedak Tabur Apa yang Tahan Lama untuk Kondangan? Ini 5 Pilihannya agar Makeup Flawless
-
5 Sepeda Lipat Ukuran 24 untuk Harian, Kokoh dan Nyaman Mulai Rp800 Ribuan
-
Selain Grup Chat Mesum 16 Mahasiswa FH UI, Ini 15 Bentuk Kekerasan Seksual Lain yang Jarang Disadari
-
7 Sepeda Tangguh Tahan Banting, Sanggup Angkut Beban Hingga 150 Kg
-
Pilih yang Sesuai Kebutuhan, Ini Perbandingan Manfaat Asuransi All Risk vs TLO
-
Parfum HMNS Apa yang Wangi Tahan Lama? Cek 6 Rekomendasi Terbaiknya
-
5 Rekomendasi Moisturizer dari Brand Lokal untuk Mencerahkan Kulit
-
Physical vs Chemical Sunscreen, Mana yang Lebih Aman untuk Bumil? Cek 5 Rekomendasinya
-
Alasan Pelecehan Digital Mahasiswa FH UI Disebut Kekerasan Seksual