Suara.com - Dalang harus bisa memasuki jiwa masyarakat agar berbagai pesan tentang nilai-nilai kehidupan yang diusung melalui pementasan wayang sampai kepada masyarakat.
Hal itu diungkapkan oleh kata dalang kondang dari Kota Surakarta Ki Manteb Sudarsono di Borobudur, Sabtu (28/3/2015).
"Dalang harus bisa masuk ke hati masyarakat. Dia harus bisa 'ngemong rasa' (mengelola perasaan) masyarakat. Dalang netral, dia seniman yang menjadi milik bangsa, bukan milik partai," katanya.
Manteb mengatakan hal itu saat sarasehan pedalangan yang diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Magelang di Gandok Sawitri, kompleks Pondok Tingal Borobudur, Kabupaten Magelang, Jateng, sekitar 500 meter timur Candi Borobudur.
Ia menilai sejumlah dalang saat ini memiliki kemampuan dan keterampilan memainkan lakon wayang yang lebih baik ketimbang para dalang kategori usia tua.
Akan tetapi, lanjutnya, mereka masih harus banyak belajar penjiwaan tentang kehidupan seorang dalang dan beragam karakter serta kisah pewayangan.
"Harus memiliki kemauan untuk terus menerus belajar supaya makin kuat dalam penjiwaan. Belajar apa saja, termasuk belajar tentang situasi negara, tahu politik dan situasi kehidupan aktual bangsa dan negara," katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengemukakan pentingnya dalang untuk tidak terpaku kepada pakem pewayangan, seperti gaya Solo, Yogyakarta, Kedu dan Banyumasan, namun mengembangkan kreativitas dalam pementasan agar menarik perhatian masyarakat.
Jika seorang dalang tidak terpaku pakem pakeliran, katanya, dia bisa laku mendapat tanggapan di berbagai daerah dengan masyarakat yang berlatar belakang beragam.
Namun, ia juga mengharapkan para dalang untuk tidak merasa puas jika laris mendapat tanggapan di berbagai tempat karena dia harus terus menerus belajar mengembangkan kemampuan dan memperkuat penjiwaan terhadap dunia pewayangan.
Ia mengatakan sikap percaya diri sebagai hal penting dimiliki seorang dalang agar tidak merasa canggung oleh penonton yang dari kalangan pejabat.
"Orang 'mayang' (mendalang) seperti mencangkuli tegalan sendiri dan sawah kita sendiri dengan panenan untuk diri sendiri. Percaya diri, tidak ragu-ragu memainkan wayang," katanya pada sarasehan yang diikuti para dalang dari Kabupaten Magelang dan sejumlah daerah lainnya, seperti Kendal dan Banjarnegara.
Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno dan budayawan Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sutanto Mendut, juga hadir pada kesempatan itu.
Ketua Pepadi Kabupaten Magelang, Muhyat mengatakan jumlah dalang yang terdata di organisasi itu, sekitar 60 orang. Mereka yang tersebar di 21 kecamatan di Kabupaten Magelang tersebut, terdiri atas kategori dalang muda sekitar 15 orang, dalang dewasa 30 orang dan dalang tua 15 orang.
"Sarasehan ini penting untuk mengembangkan kemampuan dan memperluas wawasan para dalang, karena umumnya mereka menjadi dalang karena turun temurun dan belajar secara autodidak, hanya sedikit yang menjadi dalang karena belajar di pendidikan formal," katanya.
Pada kesempatan itu, ia menyebut sejumlah nama dalang di Kabupaten Magelang yang pada era 1950-1970, kondang hingga di luar daerah setempat, seperti Ki Joyo Kandar (Borobudur) dan Ki Cermo Karsono (Muntilan). (Antara)
Berita Terkait
-
Beli Lokal Bikin UMKM Naik Kelas, Penjualan Melompat 51%
-
Rayakan HUT RI, KAI Kasih Diskon 17% Tiket KA dan Tarif Rp8
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?