Pedagang batu akik di depan Masjid Istiqlal. (Suara.com/Erick Tanjung)
Demam sampai suhu tinggi alias kegilaan pada batu akik sedang merambah di masyarakat seluruh Nusantara. Dari Aceh hingga Papua.
Hobi mengoleksi batu akik sebagai benda estetik bukanlah tindakan terlarang menurut hukum positif. Juga bukan tindak yang diharamkan agama. Mengoleksi batu akik merupakan bagian dari ikhtiar memburu kebahagiaan, yang menjadi salah satu hak asasi manusia.
Masalah mencintai batu akik baru muncul ketika kecintaan itu melampaui batas dan menyebabkan seseorang berusaha memperoleh batu indah itu dengan menghalalkan segala cara.
Adakah penggemar batu akik yang melampaui batas kewajaran dan kewarasan? Ada. Itu terbukti dengan adanya perusakan batu nisan mendiang maestro tari Bagong Kusudiharjo. Diduga ada orang yang mengambil bagian nisan itu dengan menggunakan martil. Nisan itu diduga bisa digunakan bahan mentah pembuatan cincin akik.
Atas perusakan nisan sang ayahanda itu, seniman Butet Kertarajasa dengan nada kebapakan mengajak sang perusak nisan untuk eling dan waspada.
Butet mengatakan, bersenang-senang dengan batu akik boleh-boleh saja. Tapi ya lakukan semua itu dengan akal sehat, dengan waras.
Butet sendiri pengoleksi batu akik. Dia punya koleksi sejumlah cincin akik yang diperoleh dari sejumlah daerah atau luar negeri. Tapi kalau harganya terlalu mahal, Butet tak memaksakan diri untuk membelinya walaupun sangat tertarik dengan batu akik bersangkutan.
Maraknya kegandrungan masyarakat pada batu akik bisa dipandang dari sudut positif sebagai upaya peningkatan transaksi produk ekonomi kreatif. Batu akik merupakan upaya pemberian nilai tambah pada batu yang semula hanya berupa bongkahan cadas di kali atau perut bumi, yang diolah lewat tangan perajin kreatif terampil menjadi mata cincin atau leontin yang mengandung estetika kelas wahid.
Ada yang harganya cuma lima puluh ribu per buah hingga jutaan rupiah untuk yang eksotis dan langka. Jenisnya pun bermacam-macam seperti safir, mirah delima, kecubung, dan kalimaya.
Ada penyuka akik yang hanya memiliki sebuah tapi mahal dan dipakai di jari manis sehingga tampak anggun menawan bagi pemakainya. Ada juga yang mempunyai lebih dari lima buah dan semuanya berukuran besar segede biji nangka dengan harga relatif murah, digunakan di setiap jari tangannya. Pemakai yang demikian ini pasti mengingatkan orang pada pelawak Tessy yang menjadi anggota grup lawak Srimulat.
Di sepanjang toko yang berderet di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, misalnya, berderet mobil bak menjual bongkahan bahan mentah batu akik. Penjualnya datang dari berbagai kota.
Salah seorang pemilik mobil bak yang menjajakan bongkahan akik mentah yang bernama Sumanjaya Jufri dari Rangkasbitung, Banten, mengatakan, dia mencari bahan mentah batu akik itu dari berbagai daerah hingga Palangka Raya. Dengan modal puluhan juta, pria beranak dua itu mengaku bisa menangguk untung dari penjualan bongkahan batu akik. Namun dia tak mau menyebut nilai nominalnya.
Sumanjaya mengaku makin hari makin banyak pesaingnya yang berjualan batu akik dengan menggunakan medium mobil bak.
Dia mengatakan, menggeluti batu akik sebetulnya dilakukan sebagai upaya melanjutkan usaha keluarga. Almarhum ayahnya lah yang memulai usaha itu. Dia juga mengatakan bahwa kegemaran masyarakat pada batu akik bersifat musiman. Ada pasang-surutnya.
Mengoleksi batu akik, buat sebagian konsumen, mempunyai beberapa tujuan: bisa untuk kesenangan pribadi, tapi bisa juga untuk mencari untung. Bagi kelompok ini, cincin akik miliknya akan dilepas jika ada orang lain berminat dan bersedia membeli dengan harga yang lebih dari harga belinya.
Namun, bagi konsumen batu akik yang tak mau melepas cincin kesayangannya, berapapun tawaran yang diajukan, dia akan tetap mempertahankannya.
Ada beberapa pemakai cincin batu akik yang yakin bahwa batu akik bisa punya nilai magis, dan sedikit banyak mengandung unsur klenik. Misalnya, apa yang disebut batu akik kecubung pengasihan, diyakini sanggup membuat pemakainya mempunyai aura yang menimbulkan rasa kasihan dari orang yang berada di dekatnya.
Ada juga batu akik yang diyakini dapat mendatangkan hoki rezeki bagi pemakainya. Batu akik yang jenis inilah yang oleh pemakainya tak akan dilepas walaupun dihargai mahal oleh penawarnya.
Bagi kalangan agamawan, keyakinan terhadap batu akik yang punya daya magis seperti itu tentunya tidak dianjurkan. Itu bisa dipersepsikan sebagai menuhankan batu akik. Pada titik inilah seruan Butet Kertarajasa punya relevansi: mari bersenang-senang dengan batu akik. Tapi jangan sampai melampaui batas.
Batu akik cukup dikagumi karena keindahannya. Misalnya batu akik yang memancarkan kemilau ketika dipakai dalam kegelapan. Ini jelas bukan masalah batu akik itu punya kekuatan gaib, tapi karena memang jenis batunya yang bisa berkilau ketika berada di ruang kegelapan.
Batu akik tak beda dengan benda seni seperti lukisan atau keramik antik yang mengandung segi estetik pada dirinya. Benda keramik atau lukisan, beda dengan batu akik, tak pernah diyakini punya daya magis pada dirinya.
Untunglah, orang-orang yang menuhankan batu akik makin terkikis karena semakin banyaknya penggemar batu akik masa kini yang terpelajar. Tingkat rasionalitas mereka menampik ilusi tentang daya magis akik.
Tampaknya, ajakan Butet untuk bersenang-senang dengan batu akik secara waras juga bisa dipakai dalam perspektif antiklenik semacam itu. (Antara)
Hobi mengoleksi batu akik sebagai benda estetik bukanlah tindakan terlarang menurut hukum positif. Juga bukan tindak yang diharamkan agama. Mengoleksi batu akik merupakan bagian dari ikhtiar memburu kebahagiaan, yang menjadi salah satu hak asasi manusia.
Masalah mencintai batu akik baru muncul ketika kecintaan itu melampaui batas dan menyebabkan seseorang berusaha memperoleh batu indah itu dengan menghalalkan segala cara.
Adakah penggemar batu akik yang melampaui batas kewajaran dan kewarasan? Ada. Itu terbukti dengan adanya perusakan batu nisan mendiang maestro tari Bagong Kusudiharjo. Diduga ada orang yang mengambil bagian nisan itu dengan menggunakan martil. Nisan itu diduga bisa digunakan bahan mentah pembuatan cincin akik.
Atas perusakan nisan sang ayahanda itu, seniman Butet Kertarajasa dengan nada kebapakan mengajak sang perusak nisan untuk eling dan waspada.
Butet mengatakan, bersenang-senang dengan batu akik boleh-boleh saja. Tapi ya lakukan semua itu dengan akal sehat, dengan waras.
Butet sendiri pengoleksi batu akik. Dia punya koleksi sejumlah cincin akik yang diperoleh dari sejumlah daerah atau luar negeri. Tapi kalau harganya terlalu mahal, Butet tak memaksakan diri untuk membelinya walaupun sangat tertarik dengan batu akik bersangkutan.
Maraknya kegandrungan masyarakat pada batu akik bisa dipandang dari sudut positif sebagai upaya peningkatan transaksi produk ekonomi kreatif. Batu akik merupakan upaya pemberian nilai tambah pada batu yang semula hanya berupa bongkahan cadas di kali atau perut bumi, yang diolah lewat tangan perajin kreatif terampil menjadi mata cincin atau leontin yang mengandung estetika kelas wahid.
Ada yang harganya cuma lima puluh ribu per buah hingga jutaan rupiah untuk yang eksotis dan langka. Jenisnya pun bermacam-macam seperti safir, mirah delima, kecubung, dan kalimaya.
Ada penyuka akik yang hanya memiliki sebuah tapi mahal dan dipakai di jari manis sehingga tampak anggun menawan bagi pemakainya. Ada juga yang mempunyai lebih dari lima buah dan semuanya berukuran besar segede biji nangka dengan harga relatif murah, digunakan di setiap jari tangannya. Pemakai yang demikian ini pasti mengingatkan orang pada pelawak Tessy yang menjadi anggota grup lawak Srimulat.
Di sepanjang toko yang berderet di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, misalnya, berderet mobil bak menjual bongkahan bahan mentah batu akik. Penjualnya datang dari berbagai kota.
Salah seorang pemilik mobil bak yang menjajakan bongkahan akik mentah yang bernama Sumanjaya Jufri dari Rangkasbitung, Banten, mengatakan, dia mencari bahan mentah batu akik itu dari berbagai daerah hingga Palangka Raya. Dengan modal puluhan juta, pria beranak dua itu mengaku bisa menangguk untung dari penjualan bongkahan batu akik. Namun dia tak mau menyebut nilai nominalnya.
Sumanjaya mengaku makin hari makin banyak pesaingnya yang berjualan batu akik dengan menggunakan medium mobil bak.
Dia mengatakan, menggeluti batu akik sebetulnya dilakukan sebagai upaya melanjutkan usaha keluarga. Almarhum ayahnya lah yang memulai usaha itu. Dia juga mengatakan bahwa kegemaran masyarakat pada batu akik bersifat musiman. Ada pasang-surutnya.
Mengoleksi batu akik, buat sebagian konsumen, mempunyai beberapa tujuan: bisa untuk kesenangan pribadi, tapi bisa juga untuk mencari untung. Bagi kelompok ini, cincin akik miliknya akan dilepas jika ada orang lain berminat dan bersedia membeli dengan harga yang lebih dari harga belinya.
Namun, bagi konsumen batu akik yang tak mau melepas cincin kesayangannya, berapapun tawaran yang diajukan, dia akan tetap mempertahankannya.
Ada beberapa pemakai cincin batu akik yang yakin bahwa batu akik bisa punya nilai magis, dan sedikit banyak mengandung unsur klenik. Misalnya, apa yang disebut batu akik kecubung pengasihan, diyakini sanggup membuat pemakainya mempunyai aura yang menimbulkan rasa kasihan dari orang yang berada di dekatnya.
Ada juga batu akik yang diyakini dapat mendatangkan hoki rezeki bagi pemakainya. Batu akik yang jenis inilah yang oleh pemakainya tak akan dilepas walaupun dihargai mahal oleh penawarnya.
Bagi kalangan agamawan, keyakinan terhadap batu akik yang punya daya magis seperti itu tentunya tidak dianjurkan. Itu bisa dipersepsikan sebagai menuhankan batu akik. Pada titik inilah seruan Butet Kertarajasa punya relevansi: mari bersenang-senang dengan batu akik. Tapi jangan sampai melampaui batas.
Batu akik cukup dikagumi karena keindahannya. Misalnya batu akik yang memancarkan kemilau ketika dipakai dalam kegelapan. Ini jelas bukan masalah batu akik itu punya kekuatan gaib, tapi karena memang jenis batunya yang bisa berkilau ketika berada di ruang kegelapan.
Batu akik tak beda dengan benda seni seperti lukisan atau keramik antik yang mengandung segi estetik pada dirinya. Benda keramik atau lukisan, beda dengan batu akik, tak pernah diyakini punya daya magis pada dirinya.
Untunglah, orang-orang yang menuhankan batu akik makin terkikis karena semakin banyaknya penggemar batu akik masa kini yang terpelajar. Tingkat rasionalitas mereka menampik ilusi tentang daya magis akik.
Tampaknya, ajakan Butet untuk bersenang-senang dengan batu akik secara waras juga bisa dipakai dalam perspektif antiklenik semacam itu. (Antara)
Tag
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Kuburan atau Tambang Emas? Menyingkap Fenomena Saham Gocap di Bursa Indonesia
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
Terkini
-
5 Sepatu Skechers Paling Nyaman untuk Jalan Kaki, Cocok Dipakai Lansia
-
5 Sampo Herbal untuk Menebalkan Rambut Tipis Tanpa Transplantasi
-
5 Contoh Teks MC Acara Isra Miraj 2026 yang Mudah Dipahami dan Dipraktikkan
-
5 Lipstik Satin Lokal yang Cocok untuk Cool Undertone, Bikin Wajah Lebih Cerah
-
Tips Memilih Sepatu Jalan Nyaman untuk Orang Tua, Ini 5 Rekomendasi yang Gak Bikin Pegal
-
Benarkah Aurelie Moeremans Pernah Menikah dengan Roby Tremonti?
-
45 Tema Isra Miraj 2026 untuk Sekolah: Inspirasi Spiritual yang Relevan di Era Digital
-
Ramai Kasus Aurelie Moeremans, Bagaimana Tata Cara Menikah di Gereja Katolik?
-
5 Cat Rambut Uban yang Halal dan Wudhu Friendly, Lebih Alami dan Aman Buat Salat
-
Kronologi Kak Seto Dituduh Tak Tanggapi Aduan Ibu Aurelie Moeremans