Sejak masih remaja, Miranti Serad Ginanjar memang sudah mencintai batik. Saat masih duduk di bangku SMP di Semarang Jawa Tengah, Miranti tak hanya suka mengenakan kain batik. Ia juga sudah belajar membatik, meski belum mempelajari batik secara mendalam.
Dan ini berlanjut hingga ia menikah dengan Adang Ginanjar, seorang perwira polisi. Perempuan yang biasa disapa Mira ini tak segan untuk menularkan kesukaannya pada batik dan membatik pada sesama istri polisi yang tergabung dalam Bhayangkari.
Namun pertemuannya dengan kurator batik asal Jerman bernama Rudolf G. Smend pada 2005 lah yang mengubah jalan ibu satu anak ini. Rudolf yang juga memiliki sebuah galeri di Koln, Jerman 'membuka' hati Mira pada keindahan batik Kudus.
"Saat itu saya baru tahu, betapa tinggi nilai batik Kudus," ujarnya.
Tak hanya motif rumit yang butuh teknik tinggi dalam pengerjaannya, batik Kudus saat itu juga seolah menjadi barang langka. Para kolektor batik di Eropa haus memburunya, dan tak segan merogoh kocek hingga 20.000 dolar AS atau lebih dari Rp200 juta untuk mendapatkan sehelai kain batik Kudus.
Sejak itu Mira, yang sejak muda diajar ayahnya, Suwarno M Serad untuk mencintai batik, terdorong untuk menggali lebih dalam tentang batik Kudus. Secara khusus ia meluangkan waktu untuk mengunjungi galeri batik di sejumlah negara Eropa. Dan ia tak menyangka bagaimana orang-orang luar itu begitu mengagumi batik Kudus.
Dari para kolektor itulah, Miranti juga baru tahu bagaimana sulitnya mendapatkan batik Kudus. Saat itu Kudus yang lebih dikenal sebagai kota kretek hanya menyisakan beberapa perajin batik, yang usianya sudah tak bisa dibilang muda. Salah satunya adalah ibu Niamah yang darinya, Mira banyak mendengar kisah bagaimana roda kerajinan batik Kudus dijalankan di masa lalu.
Selama lebih dari dua dekade, batik Kudus bisa dikatakan mati suri. Sejak 1980 industri batik Kudus yang banyak ditemukan di Kudus kulon, tepatnya di desa Langgar Dalem cenderung menurun. Perkembangan batik cetak yang jauh lebih murah, membuat konsumen batik Kudus berpaling.
Di sisi lain tumbuhnya industri membuat kaum muda di Kudus, lebih memilih menjadi buruh pabrik karena menjanjikan penghasilan yang lebih pasti. Pekerjaan membatik pun mulai ditinggalkan.
"Tak banyak yang mau berbulan-bulan mengerjakan batik, dengan pembeli yang belum tentu ada. Menjadi buruh pabrik lebih menjanjikan," Mira mengisahkan apa yang ditemuinya saat itu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!
-
Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo