Suara.com - Alih-alih menjaga kenikmatan sendiri secara ketat di kamar tidur pada malam yang sepi, ternyata Anda yang gemar masturbasi harus (juga) berpikir untuk melakukannya saat sedang bekerja.
Dikenal sebagai masturbation break, psikolog percaya ini bisa menjadi cara bagus untuk mengatasi stres pada pekerjaan.
Masturbasi di kantor, katanya, dapat dijadikan 'hobi' yang merupakan bentuk pelarian dari atasan yang terus-menerus membuat Anda stres.
Psikolog Mark Sergeant, seorang dosen psikologi di Nottingham Trent University, mengajukan saran kontroversial tersebut dalam sebuah artikel untuk Metro awal tahun ini. Dia mengatakan kepada situs web bahwa ini akan menjadi 'sangat efektif di tempat kerja' dan menganggapnya sebagai 'cara yang bagus untuk menghilangkan ketegangan'.
Namun ternyata, klaim Sergeant didukung oleh Dr Cliff Arnall, seorang pelatih hidup yang berbasis di Hay-on-Wye, Wales. "Saya akan mengharapkan sebuah kebijakan masturbasi untuk menghasilkan fokus yang lebih, kurangnya agresi, produktivitas lebih tinggi, dan lebih banyak tersenyum. Tentu saja istirahat masturbasi karena kebosanan atau pelarian akan meningkatkan fokus kerja," tambahnya dilansir Daily Mail.
Tapi para psikolog juga memiliki kekhawatiran pada mereka yang cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai klimaks. Ini dikarenakan hal tersebut bisa menyebabkan frustrasi.
Sementara itu, ia juga menunjukkan fakta bahwa masturbasi bisa membuka keseluruhan perilaku seksual yang tidak pantas di tempat kerja. Ini terjadi setelah para ilmuwan pada Desember 2013 mengungkapkan bahwa masturbasi dapat menangkal sejumlah penyakit.
Periset di University of Sydney menemukan bahwa melakukan kesenangan diri dapat mencegah sistitis, diabetes dan bahkan kanker prostat. Mereka juga menemukan bahwa 94 persen laki-laki mengaku melakukan masturbasi, sama seperti 85 persen perempuan.
NoFap, sebuah kelompok anti-seks online, didirikan setelah sebuah penelitian 2003 menemukan bahwa laki-laki yang tidak melakukan masturbasi selama tujuh hari memiliki kadar testosteron lebih tinggi. Namun Medical Daily melaporkan bahwa bukti itu langka dan testosteron dapat juga dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Berita Terkait
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Detik-detik Bandit Lampung Utara Tewas Usai Tembak 3 Polisi
-
Bagaimana Cara Memakai Krim Kelly agar Cepat Putih? Ini 4 Langkahnya
-
Warga Mentawai Jadi Terdakwa karena Jual Internet Starlink, Ini Kata Menkomdigi
-
3 Rekomendasi Hai Dryer yang Tidak Merusak Rambut, Watt Kecil
-
4 Moisturizer Lokal di Bawah Rp50 Ribu, Bantu Cerahkan Kulit dan Samarkan Noda
-
Pencuri Motor Ojol Wanita Disabilitas di Medan Ditangkap, Kaki Ditembak
-
Dua Anak Luka Bakar, Ini Detik-detik Mencekam Kebakaran Rumah di Pajang Solo
-
Pegang Info Vital, Ferry Boboho Dilindungi LPSK di Kasus Febrie karena Ada Potensi Ancaman!
-
Review Silo Season 2: Misteri Pintu Besi dan Kebohongan Massal Penguasa!
-
Pesawat TNI AL Keluar Landasan di Bandara Sultan Hasanuddin, Runway Ditutup