Suara.com - Ajang Pameran Flora dan Fauna (Flona) 2017, menyajikan banyak pilihan menarik sebagai alternatif wisata masyarakat Jakarta. Selain kehadiran stan jual-beli yang menjajakan berjenis tumbuhan serta hewan, ada juga stan-stan unik yang dibuat khusus sebagai sarana edukasi pengunjung.
Salah satunya, stan Taman Margasatwa Ragunan. Dalam stan berkonsep hutan di tengah kota tersebut, pengunjung dapat melihat belasan hewan liar "mantan" penduduk Ragunan yang dipajang untuk dipamerkan.
Beberapa binatang, seperti harimau Sumatera, harimau Benggala, basuari, buaya, hingga Anoa satu-persatu di tempatkan di dalam stan tersebut. Eits, jangan takut dulu. Karena semua hewan buas tersebut sudah dalam keadaan mati dan diawetkan.
"Di sini binatang-binatangnya sudah diawetkan tetapi tidak boleh disentuh, tapi kalau untuk foto-foto, boleh," ucap salah satu staf Taman Margasatwa Ragunan bagian mamalia, Yesfi, saat ditemui Suara.com.
Proses pengawetan binatang-binatang tersebut, menurut Yesfi, memakan waktu hingga berbulan-bulan. Banyak dari mereka meninggal dunia karena faktor usia atau sakit. Di stan tersebut misalnya, ada gajah yang masih kecil kemudian sakit dan meninggal dunia.
Meski begitu, tak semua binatang yang mati akan diawetkan oleh pihak pengelola Ragunan. Kata Yesfi, stan Taman Margasatwa Ragunan sendiri dibuat sebagai sarana edukasi serta bagian dari promosi kebun binatang kepada masyarakat.
Sejak dibuka pada 21 Juli 2017 lalu, stan mencatat telah dikunjungi total oleh lebih dari dua ribu kunjungan. "Di samping masyarakat, banyak juga anak-anak sekolah," ungkapnya.
Stan Taman Margasatwa Ragunan akan ditutup berbarengan dengan ditutupnya ajang Pameran Flora dan Fauna pada 21 Agustus 2017 nanti. Jadi, selagi ada waktu, baiknya kamu dan keluarga segera kunjungi stan kebun binatang mini tersebut.
"Mengunjungi stan Taman Margasatwa Ragunan di Flona 2017 ini gratis tanpa dipungut biaya apapun," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
PSIS Kunci Raffinha, Mahesa Jenar Perkuat Misi Kembali ke Super League
-
Cashlez Kantongi Dana Rp237,2 Miliar dari Rights Issue, Siap Perluas Ekosistem Pembayaran Digital
-
Kobaran Api Kepung Hutan Gunung Jati
-
Deepfake AI Teror Mahasiswi PTN di Solo, Polisi Kantongi Profil Terduga Pelaku
-
Penjualan Semen SIG Tembus 18,27 Juta Ton, Naik 5,6% di Tengah Persaingan Ketat
-
Anggaran Militer Melejit Rp187 T, Kabinet Bayangan: Mau Perang dengan Korbankan Demokrasi?
-
Siap-Siap! Jatim Usulkan 2.100 Kursi CPNS 2026, Ini Bocoran Jadwalnya
-
IHSG dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur, Gubernur BI Buka Suara
-
Minat Investor Asing Akuisisi Bank Indonesia Masih Tinggi, Proses Merger BPR/BPRS Terus Bertambah
-
Menolak Punah: Komunitas Menjadi Benteng Utama Karya Musik dan Buku Indie