Suara.com - Nama Okky Madasari melesat setelah meluncurkan novel kontroversial berjudul "Maryam", lima tahun lalu. Niat hati menceritakan sisi kemanusiaan dalam setiap konflik, Okky malah didakwa sebagai sosok yang mendukung kelompok tersebut.
Novel-novel peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa 2012 itu mengangkat tema-tema yang bisa dikatakan tidak populer. Misalnya, pada "Maryam", berkisah tentang orang-orang yang terusir karena iman. Perempuan bertutup kepala ini memfokuskan ceritanya pada pada sosok Maryam, seorang perempuan penganut Ahmadiyah asal Lombok yang mengalami diskriminasi dan penderitaan karena keluarganya terusir dari kampung halamannya.
Ketika ditemui Suara.com dalam gelaran Asean Literary Festival 2017, Okky bercerita bagaimana dalam membuat karya, komentar negatif dan protes merupakan satu hal yang biasa.
Namun, perempuan yang kini tengah mengikuti acara Iowa Writing Program di Amerika Serikat mengaku terkejut karena masih mendapat protes keras dari karyanya yang dirilis lima tahun lalu, "Maryam".
"Sekadar protes, sekadar ketidaksetujuan, itu biasa sekali. Hanya yang membuat saya bertanya kepada diri sendiri juga, tahun 2017 saja masih seperti ini. Berarti dari perspektif saya sebagai penulis, saya belum berhasil mewarnai pola pikir generasi muda Indonesia," kata novelis yang telah menerbitkan lima karya novel, dan satu cerpen tersebut.
Okky yang juga merupakan inisiator sekaligus Program Director ASEAN Literary Festival (ALF), mengaku tetap 'memantau' penulis-penulis muda dan karya-karya mereka. Pemilik akun Twitter @OkkyMadasari ini juga merasa takjub dengan peran media sosial yang ia anggap berhasil mengangkat banyak karya sekaligus penulis baru yang berbakat.
Masalahnya, menurut Okky, metode ini membuat beberapa orang berkarya karena hanya 'kepingin' dan terjebak pada segi kuantitas, yang penting menghasilkan karya.
"Tantangannya adalah bagaimana agar tidak terjebak pada kondisi, ah yang penting ada, yang penting terbit. Peran kita memang harus saling memberi ruang, melalui diskusi, saling bertukar pikiran, agar yang muda-muda ini juga bisa tumbuh pemikiran kritisnya, bisa melihat masalah sosial," ungkapnya.
Meski begitu, sebagai seorang penulis, Okky tidak menampik adanya tekanan yang datang dari diri sendiri jika terlampau lama tak menelurkan sebuah karya. Setelah menerbitkan buku berjudul "Pasung Jiwa" pada 2013, Okky sempat mengambil jeda selama tiga tahun.
Baca Juga: Perempuan Ini Sukses Bikin Marissa Haque Cintai Tas Lukisnya
Waktu-waktu seperti itulah, Okky merasa gelisah dan ada tekanan agar lekas menelurkan karya terbaru. Hingga akhirnya pada 2016, Okky berhasil pecah telur dan merilis novel "Kerumunan Terakhir" pada 2016.
Sebagai seorang penulis yang banyak mencurahkan sisi lain perempuan, Okky mengaku terkejut jika pernikahan yang dijalaninya dengan jurnalis Abdul Khalik sejak Desember 2008 merupakan momen yang berhasil "membebaskannya".
Perempuan kelahiran Magetan, di kota kecil Gunung Lawu itu mengaku berbeda dengan teman-temannya yang memiliki pandangan feminisme, menikah, menurutnya sebagai momentum pembebasan dan bukan menjadi alat yang memasungnya dalam berkarya.
"Saya menikah Desember 2008, mulai menulis 2009. Suami saya memberi ruang seluas-luasnya. Dia adalah sosok yang mewarnai intelektualitas saya, pembaca pertama tulisan-tulisan saya, dan orang pertama yang yakin bahwa tulisan saya layak diterbitkan," jawab perempuan kelahiran 30 Oktober, 32 tahun silam.
Ke depannya, Okky akan menghadapi tantangan baru. Tantangan tersebut adalah menulis suatu karya yang bisa dinikmati oleh anak-anak, termasuk anaknya kelak yang kini sudah berusia tiga tahun, Mata Diraya.
"Saya berpikir bagaimana supaya ketika dia SD, dia bisa baca karya ibunya. Novel-novel saya sebelumnya terbilang dewasa. Masa harus menunggu dia SMP dulu baru bisa baca karya ibunya, Entrok atau Pasung Jiwa? Jadi, ini oleh-oleh dari perjalanan ke Atambua, NTT ketika dikirim Badan Bahasa selama 10 hari. Saya bawa Mata Diraya juga saat itu. Saya diminta untuk menulis cerita tentang daerah perbatasan. Di luar itu, saya akan menuliskan novel dengan karakter utama anak umur 12 tahun. Ini tantangan besar untuk saya, membuat novel yang bernilai tapi bisa dibaca siapa saja," ujarnya.
Berita Terkait
-
Perempuan Ini Sukses Bikin Marissa Haque Cintai Tas Lukisnya
-
Elysabeth Ongkojoyo, Pejuang Hak Perokok Pasif
-
Gara-gara Asma, Inge Prasetyo Wakili Indonesia di Ironman Dunia
-
Begini Cara Istri Stand Up Comedian Ini Sebarkan "Virus" Sains
-
Perempuan Ini Pebulutangkis Dunia yang Putar Haluan Jadi Psikolog
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
-
Obsesi Epstein Bangun 'Pabrik Bayi' dengan Menghamili Banyak Perempuan
Terkini
-
5 Shio Paling Mujur dan Hoki Besok 5 Februari 2026, Cek Apakah Kamu Termasuk!
-
Urutan Skincare Malam untuk Usia 40 Tahun ke Atas agar Kulit Tetap Kencang
-
Tempat Curhat Ternyaman, Ini 6 Zodiak yang Dikenal Paling Jago Jadi Pendengar
-
Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
-
Trik Skin Prep agar Foundation Tidak Cakey di Kulit Bertekstur, Rahasia Makeup Mulus Seharian!
-
5 Body Mist Supermarket yang Aromanya Mirip Parfum Jutaan Rupiah
-
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
-
Essence dan Serum, Apa Bedanya? Begini Urutan Pakai yang Benar agar Hasil Maksimal
-
Jelang Ramadan 2026, Sajadah hingga Kurma Diserbu
-
5 Rekomendasi Exfoliating Toner AHA BHA yang Aman untuk Pemula, Efektif Hempas Kulit Mati