Lifestyle / Food & Travel
Minggu, 09 September 2018 | 18:00 WIB
Festival Payung Indonesia 2018 di Candi Borobudur, Jawa Tengah. (Dok: Kemenpar)

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menjelajahi cita rasa sajian kuliner klasik Rasakala, yang meramu kembali kekayaan rasa yang digali kembali dari artefak sunyi Borobudur.

Malam hari, pengunjung diajak mendengarkan lantunan sunyi Ata Ratu dari Sumba Timur, Suara Semesta Ayu Laksmi dari Bali, dan kidung kontemporer dari Endah Laras.

Puncak acara, terdapat Anugerah Payung Indonesia untuk Syofyani Yusaf, maestro tari dari Padang, Ata Ratu maestro musik Jungga (alat musik tradisional Sumba Timur), dan Mukhlis Maman maestro musik Kuriding (alat musik tradisional Kalimantan Selatan).

Ketua Calendar of Event Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuty mengatakan, Festival Payung Indonesia 2018, yang diselenggarakan di kompleks Candi Borobudur diharapkan dapat mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitarnya.

“Dengan hadirnya beberapa negara peserta dari mancanegara dan berbagai kelompok budaya nasional, tentunya dapat lebih mengembangkan pariwisata Indonesia, khususnya Candi Borobudur," ujar Esthy.

Festival Payung Indonesia 2018 di Candi Borobudur, Jawa Tengah. (Dok: Kemenpar)

Penyelenggaraan Festival Payung Indonesia 2018 ini berbarengan dengan peringatan 70 tahun Kongres Kebudayaan 1948, yang diselenggarakan di Magelang. Pertemuan kebudayaan pertama yang bersejarah dihadiri oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, Panglima besar Soedirman, Ki Hajar Dewantara dan seluruh budayawan pada masanya.

“Kongres Kebudayaan yang dengan tegas mencanangkan bahwa kita berada dalam payung bersama Indonesia," cetusnya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengapresiasi pelaksanaan festival ini. Menpar mengatakan, banyak wisatawan mancanegara (wisman) kepicut untuk menyambangi atraksi-atraksi baru di Borobudur.

"Bila candi yang berada di Magelang ini sering menjadi tempat berbagai atraksi, bukan tak mungkin kawasan Borobudur akan semakin dipadati wisatawan," ujarnya.

Baca Juga: Warga Thailand Tertarik Wisata ke Candi Borobudur

Menurutnya, keberadaan atraksi akan semakin mengoptimalkan potensi Candi Borobudur, dimana area ini terbagi dalam empat Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Wilayah yang bersinggungan dengan Borobudur diantaranya Yogyakarta, Dataran Tinggi Dieng, Semarang, dan Solo.

“Kawasan Candi Borobudur sangat strategis dengan didukung dengan faktor 3A yang baik, yaitu Akses, Amenitas dan Atraksi. Pembentukan sentra meditasi ini semakin mengukuhkan atraksi kelas dunia yang dimiliki Borobudur,” tambahnya.

Load More