''Tidak semua orang menyadari bahwa guyonan yang dilontarkan berpotensi seksis,'' kata Defirentia One, Program Development Officer dan Staf Peneliti Pusat Pengembangan Sumberdaya untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan Rifka Annisa dikutip dari DewiKu.com.
Kata One, dalam lingkungan masyarakat yang patriarkis, budaya seksis secara tidak sadar memicu orang untuk bertindak diskriminatif, bahkan melakukan kekerasan terhadap jenis kelamin tertentu yang dianggap lebih lemah. Umumnya, perempuan sangat rentan menjadi korban.
''Ketika budaya patriarki masih kuat, guyonan seksis akan dianggap hal biasa. Pelecehan dan kekerasan cenderung diwajarkan, dimaklumi, tidak dianggap penting, bahkan diabaikan,'' ujar One.
One mengatakan, cara berpikir seksis itu berbahaya. Jadi misalnya saat ada perempuan mengalami pelecehan, respon pelaku atau orang di sekitarnya malah menganggap itu hal biasa. Si perempuan malah lebih mungkin disalahkan atas dasar perilaku atau cara berpakaian, termasuk menganggap korban bertindak berlebihan karena melaporkan pelecehan yang dialami.
Dalam hal ini, millenials punya bahasa sederhana tapi sayangnya sudah terlalu sering menyesatkan: baperan. Korban dianggap terlalu emosional dan tidak asik untuk diajak bercanda karena terlalu mudah terbawa perasaan.
Saat korban merasa terancam dan mencoba asertif memprotes tindakan si pelaku, dia cuma bakal 'ditenangkan' dengan mengatakan bahwa itu bukan pelecehan, melainkan hanya bercanda dan kesalahpahaman belaka.
''Apapun kalau sampai menyakiti orang lain dan membuat orang tersebut tidak bisa melangsungkan hidup secara nornal karena tekanan psikis, fisik, atau sosial, dan lainnya, itu sudah masuk ranah kekerasan,'' tegas One.
Belajar asertif terhadap guyonan seksis
Menghadapi orang yang melontarkan guyonan seksis, bisa lewat konfrontrasi langsung dengan menyampaikan protes kepada pelaku. Katakan bahwa ucapan si pelaku tidak pantas, mengganggu, menyakiti, dan merendahkan diri kita. Jika perlu, bilang pada pelaku untuk meminta maaf.
Baca Juga: Agar Tak Ada Lagi Kasus Audrey, Sosiolog : Tanamkan Nilai Anti Kekerasan
Meski begitu, One pun memahami itu bukan hal mudah. Sering kali ada relasi kuasa yang menjadi penghalang.
''Mungkin kita bisa lebih asertif dan berani bertindak jika yang dihadapi adalah sebaya atau orang yang selasi kuasanya tidak timpang. Namun jika itu atasan, orangtua, atau senior, mungkin kita akan berpikir dua kali saat ingin bertindak,'' tutur One.
Walau demikian, kita juga bisa melatih diri sendiri untuk tetap asertif dan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelecehan, termasuk guyonan seksis. Cobalah untuk mengungkapkan keberatan dan ketidaknyamanan yang dirasakan dengan tetap peka terhadap situasi.
Nah, masih ingat dengan si perempuan yang jadi obyek guyonan seksi karena rambutnya masih setengah basah? Ada beberapa kalimat yang menurut One sah-sah saja untuk dikatakan kepada para pelaku. Salah satunya dengan bertanya, ''Bisa dijelaskan apa maksudnya mengatakan hal norak seperti itu?''
Saling menghargai dan berempati
Apakah hanya perempuan yang menjadi obyek guyonan seksis dan pelecehan? Tentu saja tidak. Lelaki juga bisa. Semakin timpang relasi kuasanya, baik itu secara gender, usia, jabatan, status sosial, maupun ekonomi dan lainnya, hampir dipastikan pihak yang lebih rendah posisinya akan menjadi objek paling rentan.
One memaparkan, dalam budaya patriarki, laki-laki seolah ditempatkan dalam struktur hierarkis dengan kriteria tertentu, seperti 'sangat laki-laki' dan 'kurang laki-laki'. Jika ada laki-laki yang tidak mampu mencapai kriteria ideal yang dikonstruksikan, dia pun rentan menjadi objek guyonan seksis, pelecehan, bahkan kekerasan.
Bagaimanapun, kuncinya adalah saling menghargai, berempati, dan tidak merendahkan orang lain. ''Karena kita tidak ingin kejadian yang buruk tersebut menimpa diri kita, ya jangan melakukan itu pada orang lain. Setiap orang berhak hidup nyaman, tanpa gangguan, dan kekerasan,'' kata One kemudian.
Saat korban berusaha bersikap asertif, jangan sekali-kali disepelekan. Dampak guyonan seksis sangat mungkin tidak sesederhana yang kita pikirkan. Saat korban melapor, berarti dia membutuhkan perlindungan dan dukungan. Bahkan, mungkin saja ada bukan hanya guyonan seksis yang mengganggunya, melainkan sudah terjadi pelecehan lain.
Psikolog anak dan remaja, Erna Marina Kusuma, pernah menyampaikan saran yang terdengar klasik tapi memang paling krusial. Menyebut korban baperan benar-benar bukan pilihan.
''Yang penting itu hargai perasaannya, hargai ketakutannya, dan hentikan kata-kata yang menyalahkan korban kekerasan seksual, sekarang,'' ujarnya.
Senada dengan Erna, One juga mengungkapkan, ''Yang perlu diingat juga adalah agar korban tidak menyalahkan diri sendiri. Tidak ada tindak pelecehan maupun kekerasan apapun yang dibenarkan.''
Jadi sudah tahu dong bagaimana buruknya bercandaan yang mengandung guyonan seksis bisa melukai hati perempuan, dan hal itu termasuk kekerasan verbal lho.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Sepeda Lipat Ukuran 20 Inch untuk Usia Berapa? Ini 4 Pilihan Terbaik Sesuai Tinggi Badan
-
Mengapa Fashion Berkelanjutan Masih Sulit Diakses Sebagian Konsumen?
-
Jejak Karier dan Harta Kekayaan Syah Afandin Bupati Langkat yang Kena OTT KPK
-
3 Kacamata Anti UV Stylish dengan Review Bintang Lima, Harga Murah Frame Bisa Dilipat
-
5 Parfum di Alfamart yang Tahan Lama Menurut Review Pembeli, Mulai Rp30 Ribuan
-
4 Sepatu Lari SPECS Terlaris di Shopee, Ini Plus dan Minusnya Menurut Pembeli
-
Reboisasi Tak Selalu Menambah Pasokan Air, Mengapa Iklim Jadi Faktor Penentu?
-
Mengenal Pendekatan Baru untuk Mendapatkan Tidur yang Lebih Nyenyak
-
Inspiratif! Bagaimana Tiga Pelajar SD Ini Raih Nilai Sempurna di Olimpiade Matematika Nasional?
-
4 Sepeda Road Bike Rp2 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Gowes Jarak Jauh