Menelisik Keunikan Desa Bawomataluo
Menaiki 77 anak tangga menuju Desa Bawomataluo, menjadi ritual yang harus dilakukan untuk melihat Desa Bawomataluo, Teluk Dalam, Nias Selatan.
Desa ini berusia sekitar 300 tahun dengan bangunan rumah dari batu dan rangka pohon tua yang disusun tanpa paku serta semen ini.
Rumah Adat Desa Bawomataluo merupakan rumah adat Nias yang masih kokoh dan terjaga kekhasannya tanpa perombakan modernisasi seperti rumah pada umumnya di zaman sekarang.
Rumah adat Nias tersebut bahkan sudah memasuki berusia ratusan tahun dan masih ditempati oleh keturunan penduduk pertama desa tersebut.
Desa Bawomataluo dibuka untuk wisatawan lokal hingga mancanegara, wisatawan yang datang tentu karena tertarik bangunan tua yang ada di sini.
Rumah besar atau Omo Sebua yang masih utuh tersebut berada di tengah perumahan penduduk desa Bawomataluo. Sebuah keunikan tersendiri melihat Omo Sebua yang merupakan rumah adat terbesar di sana dengan 60 tiang dan beberapa diantaranya merupakan tiang kayu bulat yang sangat besar.
Uniknya, Martinus Muarata Fao, keturunan Raja Keenam Loehe Fao yang membangun rumah tersebut, menuturkan kayu-kayu tersebut didatangkan dari pulau Telo dan pulau-pulau lainnya di sekitar pulau Nias dengan cara dihanyutkan dan ditarik dengan kereta peluncur.
Rumah raja ini dibangun oleh 40 pekerja ahli, dan menghabiskan masa empat tahun untuk merampungkannya. Selama empat tahun itu, tiap harinya dua ekor babi disediakan untuk makan para pekerja. Dan puncaknya, 300 ekor babi dihidangkan saat rumah raja ini selesai dibangun.
Seluruh taring babi saat peresmian rumah adat dalam pesta adat yang digelar saat tidak disia-siakan, melainkan dijadikan pajangan di ruang singgasana raja.
Baca Juga: Ubud Bali Ditetapkan Sebagai Destinasi Gastronomi Dunia
Melihat Tradisi Lompat Batu Tinggi
Tradisi lompat batu tinggi menjulang hingga 2,10 meter masih dilestarikan oleh pemuda di Desa Bawamataluwo. Tradisi ini juga sempat mencuri perhatian pada tahun 90 an hingga diabadikan dalam gambar uang seribu pada tahun itu di Indonesia.
Namun, hilangnya peredaran uang seribu tersebut tidak memudarkan minat wisatawan untuk melihat tradisi tersebut.
Tradisi yang biasa disebut fahombo batu adalah tradisi asli suku Nias di Desa Bawamataluo yang sudah dikenal di Indonesia maupun mancanegara ini masih fenomenal hingga tarif melihat aksi pemuda setempat melompati batu pun dibandrol Rp 200 ribu sekali lompatan.
Tradisi ini dilakukan pada zaman dulunya untuk latihan perang para pemuda suku Nias.
Jika ada seorang pemuda yang berhasil melewati batu ini sang pemuda kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya ketika ada konflik atau perang di zaman dulunya.
Pulau Asu, Surganya Surfing
Pulau Asu di Nias Pulau Asu, yang berada di Kecamatan Sirombu, Nias Barat, juga menjadi destinasi surfing para surfer dunia.
Ketinggian ombak bisa mencapai 4-5 meter di bulan Purnama, dan sekitar 3 meter di musim-musim tertentu.
Pulau Asu menjadi destinasi wisatawan yang ingin jauh dari rutininas alias kehidupan kota dan keramaian. Sebab, pengunjung pulauditawarkan keprivasian seperti berada di pulau milik pribadi. Jarak rumah penduduk satu dengan penduduk lainnya bisa hingga 100 meter, lossmen (penginapan) satu dengan penginapan lainnya bisa sampai 1 kilometer.
Gimana? Seru kan destinasi wisata di Nias. Jadi jangan lewatkan objek wisata di atas jika mengunjungi Pulau Nias di Sumatera Utara.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Makin Sulit Dipadamkan, Sumber Air Mulai Jadi Masalah
-
Viral Tukang Cukur di Rancabungur Dimarahi Karena Belum Pasang Bendera, Ini Kata Camat
-
Bintang-bintang Legendaris Liga Inggris akan Saling Berhadapan di GBK, Catat Waktunya
-
Yenti Garnasih Bongkar Indikasi TPPU Febrie dan Luruskan Istilah Kriminalisasi
-
Polisi Temukan Bukti Permulaan, Kasus Kematian Sutrimo Naik ke Tahap Penyidikan Pidana
-
Kita Cari! Bahar bin Smith Geruduk The Sounds Project Buru Pelaku Hafalan Quran Hadiah Miras
-
Konvoi Usai Menang Futsal Berujung Petaka, 9 Pelajar Diamankan Polisi di Solo
-
Polresta Cirebon Sita 6.964 Butir Obat Keras Ilegal, Tiga Pengedar Ditangkap
-
Kolaborasi Kampus dan Industri Dinilai Penting untuk Bangun Kota Berkelanjutan
-
Mahasiswa Tersangka Tabrak Lari di Bandung Mengemudi dalam Kondisi Mabuk