Suara.com - Sastrawan Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 yang akan diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penolakan Eka dilandasi oleh sikap pemerintah yang menurutnya belum melindungi sastra dan kebudayaan secara maksimal.
Dalam postingannya di akun Facebook pribadinya, Eka menyebut penyitaan buku oleh aparat dan minimnya perlindungan pada industri perbukuan menjadi alasan utama menolak pemberian anugerah tersebut.
"Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis (bahkan siapa pun?) atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan. Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar," tulisnya, dalam postingan tertanggal 9 Oktober 2019.
Eka menceritakan bahwa ia dihubungi oleh staf Kemendikbud dua bulan lalu. Eka diminta melakukan wawancara profil sebagai pemenang Anugerah Kebudayaan, dan mendapatkan hadiah uang Rp 50 juta.
Besaran hadiah tersebut sempat membuatnya heran, mengapa jumlah hadiahnya jauh lebih kecil daripada atlet di Asian Games 2018 kemarin? Sebagai informasi, peraih medali emas di Asian Games 2019 mendapatkan Rp 1,5 miliar, dan peraih perunggu memperoleh Rp 250 juta.
"Seserius apa Negara memberi apresiasi kepada pekerja sastra dan seni, dan pegiat kebudayaan secara umum?" tanya Eka.
Pertanyaan dan kegelisahan ini terus dirasakannya hingga surat resmi datang. Eka, yang merasa sastra selalu di-anak tiri-kan, semakin resah ketika mengingat dosa-dosa yang dilakukan negara kepada kebudayaan.
"Beberapa waktu lalu kita tahu, beberapa toko buku kecil digeruduk dan buku-buku dirampas oleh aparat. Kita tahu, itu kasus yang sering terjadi, dan besar kemungkinan akan terjadi lagi di masa depan. Bukannya memberi perlindungan kepada perbukuan dan iklim intelektual secara luas, yang ada justru Negara dan aparatnya menjadi ancaman terbesar," kata penulis noval Cantik Itu Luka ini.
Ia juga menulis tentang cerita dari industri perbukuan yang semakin tidak berdaya menghadapi pembajakan buku. Masalah lain seperti pajak buku yang terlalu mahal, dan perlindungan kebabasan bereksi juga dirasakan Eka harus menjadi perhatian serius.
Baca Juga: HUT ke 263, Yogyakarta Memanusiakan Manusia Lewat Kebudayaan
Hal-hal ini yang akhirnya membuat Eka mempertanyakan komitmen negara untuk melindungi seniman dan penulis. Dengan kesadaran itu, ia pun dengan tegas menolak pemberian Anugerah Kebudayaan 2019.
"Di luar urusan hadiah, ada hal-hal mendasar seperti itu yang layak untuk membuat saya mempertanyakan komitmen Negara atas kerja-kerja kebudayaan. Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan," tulisnya.
"Dengan kesadaran seperti itulah, beberapa hari lalu saya membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan tersebut, bahwa saya memutuskan tidak datang pada tanggal 10 Oktober 2019 besok, dan bahwa saya menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019," kata Eka.
Eka juga mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf kepada pihak-pihak yang sudah merekomendasikannya sebagai penerima Anugerah Kebudayaan.
"Saya tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan Negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan, bahkan cenderung represif. Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
Terkini
-
Harga Setara Motor, Sepeda Listrik Ini Punya Jarak Tempuh 96,5 Km
-
Urutan Skincare Wardah Lightening Pagi dan Malam yang Benar agar Wajah Cerah Maksimal
-
7 Parfum Aroma Mint yang Bikin Fresh Seharian, Lokal hingga Brand Mewah
-
Kapan Mulai Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026? Ini Jadwal Berpuasa di Bulan Dzulhijjah
-
Berapa Harga Ella Skincare? Ini Daftar Harga Produk dan Treatment 2026
-
6 Sepatu Volly Terbaik Selain Mizuno dengan Outsole Anti Slip dan Bantalan Super Nyaman
-
Reapply Sunscreen Perlu Cuci Muka Dulu atau Tidak? Begini Anjuran Dokter
-
Lebih Afdol Kurban Sapi atau Kambing? Perhatikan 3 Aspek Ini Agar Ibadah Lebih Maksimal
-
Berapa Harga Sepeda Lipat 20 Inci? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes Nyaman
-
5 Cushion SPF 50 Ini Jadi 'Tameng' Matahari Terbaik untuk Wajah, Praktis!