Lepas dari kontroversi itu, menarik untuk mengungkap siapa sebenarnya yang disebut orang Indonesia? Apakah semata-mata dilihat dari keturunan, asal usul, pola migrasi hingga relasi kawin yang dapat diketahui dari data genetik DNA? Atau dari unsur non-genetik, seperti sejarah, etnografi, arkeologi, paparan lingkungan dan sebagainya.
Menurut Prof. Herawati Soepolo PhD, periset di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang kini kerap dipertanyakan adalah seberapa Indonesia seorang warga Indonesia?
"Jika melihat dari pernyataan Agnez Mo yang mengatakan ia memiliki campuran darah Tionghoa, Jepang dan Jerman, jelas memang kebetulan nenek moyang dia tidak ada yang misalnya berasal dari Jawa atau Sumatera atau Sulawesi. Jadi tidak ada yang salah dengan pernyataan itu karena sebelumnya sudah ada pernyataan bahwa ia berasal dari Indonesia yang sangat beragam dan betapa ia memang minoritas tetapi merasa diterima, meskipun ia merasa tidak seperti yang lain," jelas Prof Herawati.
Lebih jauh Prof Herawati menjelaskan betapa dari hasil analisa atas data genetik DNA sekitar tiga ribu orang Indonesia dari 13 pulau dan 80 komunitas, lalu membandingkannya dengan data non-genetik, tim di Eijkman selama beberapa tahun, akhirnya dapat menentukan sejarah keberadaan orang di 13 pulau besar di Indonesia, mulai dari waktu kedatangan, pola migrasi hingga relasi kawin.
‘’Saya kan mempelajari apa yang disebut manusia Indonesia karena kita berbeda, kita negara kepulauan, negara maritim. Dulu, dengan sulitnya transportasi dan terisolasinya pulau-pulau dulu, membuat orang-orang yang berada di sana lebih nyaman tinggal di pulau mereka saja dan tidak pernah kemana-mana. Indonesia sendiri setelah diperiksa dengan DNA yang diturunkan dari ibu – yang berarti migrasi perempuan, dan DNA yang hanya diturunkan laki-laki kepada anak laki-lakinya – berarti migrasi laki-laki; menyatakan bahwa ada gelombang migrasi pertama ke kepulauan nusantara sekitar 50-60 ribu tahun lalu yang berasal dari Afrika, melalui dua rute : India Selatan dan sebagainya ke paparan Sunda karena Jawa-Kalimantan-Sulawesi masih jadi satu, dan rute lainnya lewat ke Nusa Tenggara hingga ke Australia,"
Prof Herawati melanjutkan, "Gelombang migrasi kedua sekitar 30-10 ribu tahun lalu datang dari Asia Tenggara Daratan, yang waktu itu masih jadi satu. Gelombang migrasi ketiga dari Taiwan, turun dari Tiongkok Daratan ke Filipina hingga ke nusantara dan masuk ke Madagaskar, Polinesia, dll dan membawa bahasa yang sekarang kita pakai. Gelombang migrasi terakhir adalah jaman sejarah, yaitu bagaimana pedagang-pedagang itu memberi kontribusi genetiknya kepada manusia Indonesia. Jadi apa “isi” orang Indonesia? Apakah kita hanya berasal dari satu gelombang migrasi saja, sehingga bisa mengatakan saya “murni” Cina Daratan, atau apa. Ternyata dari teknologi terbaru tidak demikian adanya,’’ ungkapnya.
Prof Herawati baru-baru ini mengadakan pameran ‘’Asal Usul Orang Indonesia’’ di Jakarta, mengatakan teknologi terbaru untuk mengetahui asal usul sesungguhnya itu tidak saja diperlukan untuk mempelajari struktur populasi di Indonesia, tetapi juga mempelajari pola penanganan penyakit.
‘’Struktur populasi di Indonesia diperlukan untuk penanganan penyakit. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman khan memang bekerja dalam bidang kedoktera, jadi akhirnya memang ke soal itu. Kemudian menarik orang karena mereka jadi sadar dengan apa yang dimiliki," lanjutnya.
Orang Indonesia yang asal usulnya beragam, Ternyata sejak awal sangat toleran.
Baca Juga: Cut Tari Segera Nikah Lagi, Hotman Paris Sentil Agnez Mo
Yang menarik juga, ujar Hera, penelitian itu membuktikan bahwa orang Indonesia yang asal usulnya beragam itu sejak awal merupakan sosok yang toleran.
“Pertanyaannya kan apakah mereka yang datang ke suatu pulau, lalu menggeser kelompok yang sudah lama ada, menimbulkan pertentangan, perpecahan dan perang? Ternyata tidak. Yang terjadi dan terbukti justru pembauran, peningkatan rasa toleran. Mereka justru kawin dan saling beradaptasi. Tetapi mengapa kini hal itu tidak terjadi dan muncul rasa intoleransi?"
"Itu jelas karena lingkungan. [Bukan genetikanya?] Sampai sekarang tidak ada bukti tentang itu. Semuanya dilahirkan murni, tetapi tergantung dari tempatnya. [Seperti anak baru lahir yang diibaratkan sebagai kertas putih ya Bu, tergantung bagaimana orangtua ingin mewarnainya?] Betul. Orangtua dalam konteks ini adalah lingkungannya," tegas Prof Herawati seperti mengutip VOAIndonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
3 Zodiak Beruntung Secara Finansial Minggu Depan 18-24 Mei 2026
-
6 Arti Mimpi Kecelakaan Mobil, Apakah Sebuah Pertanda Buruk?
-
5 Zodiak yang Hubungan Asmaranya akan Membaik Pekan Depan
-
Bibir Pecah-Pecah Saat Haji? Ini 5 Lip Balm Terbaik untuk Cuaca Ekstrem saat Ibadah Haji
-
5 Pilihan Pelembab Wajah Tanpa Alkohol dan Parfum yang Aman Dipakai saat Ibadah Haji
-
3 Moisturizer Shinzui untuk Mencerahkan Wajah dan Pudarkan Noda Hitam
-
Cari Serum Anti Aging Lokal yang Bagus? Ini 5 Pilihan Aman Mulai Rp23 Ribuan
-
4 Rangkaian Skincare Shinzu'i di Indomaret untuk Cerahkan Wajah, Mulai Rp30 Ribuan
-
6 Sabun Cuci Muka Purbasari untuk Wajah Kusam, Harga di Bawah Rp30 Ribuan
-
3 Bedak Padat Purbasari yang Bisa Samarkan Noda Hitam di Wajah Berminyak