Suara.com - Mesir merupakan salah satu negara Muslim yang dikenal konservatif. Belum lama ini, Mesir kembali memenjarakan lima influencer karena konten TikTok yang dianggap menyimpang.
Melansir South China Morning Post, pengadilan Mesir menuduh kelima inflluencer tersebut telah mempromosikan tindakan tidak senonoh dan perdagangan manusia.
Salah satu influencer yang dipenjara adalah Haneen Hossam, mahasiswi 20 tahun di Cairo University. Haneen Hossam memiliki sekitar satu juta followers di Tiktok.
Lewat video miliknya, Haneen Hossam dianggap telah mendorong perempuan muda untuk bertemu laki-laki lewat aplikasi TikTok. Haneen juga bersalah karena menerima bayaran sesuai jumlah pengikutnya.
Selain itu, ada pula influencer Mawada al-Adham yang dituduh mempublikasikan konten video dan foto tidak senonoh.
Mawada al-Adham adalah influencer TikTok dan Instagram yang memiliki 2 juta follower.
Sementara, tiga orang lainnya ditangkap karena telah membantu Haneen Hossam dan Mawada al-Adham dalam mengelola akun media sosial.
Ini bukan pertama kalinya Mesir memenjarakan influencer dan selebgram perempuan karena konten di media sosial.
Sebelumnya, penari perut Sama El-Masry dihukum penjara tiga tahun karena kontennya di TikTok dianggap terlalu seksi dan imoral.
Baca Juga: Kena Getahnya! Penyanyi Ini Positif Covid-19 Setelah Remehkan Virus Corona
Sementara, kelima influencer muda ini dihukum dua tahun penjara dan harus membayar denda 300.000 pounds Mesir atau sekitar Rp 275 juta.
Haneen Hossam sendiri pernah ditangkap pada April lalu karena salah satu videonya. Dalam video itu, Haneen mengajak perempuan lain bekerja sama membuat konten video untuk memperoleh uang.
Sayang, pihak berwenang menganggap video tersebut sebagai ajakan untuk menjual tubuh. Haneen pun ditangkap, tapi sempat dilepaskan lagi.
Penangkapan influencer perempuan muda di Mesir ini menuai kritikan dari aktivis HAM. Banyak yang menyebut penangkapan tersebut sebagai "pelanggaran atas kebebasan beropini dan berekspresi".
Di sisi lain, parlemen Mesir bersikeras meminta pemerintah untuk melarang aplikasi TikTok karena dianggap mempromosikan hal-hal tidak senonoh dan seksual.
Mesir sendiri telah mengesahkan hukum cybercrime pada tahun 2018 silam. Di bawah hukum tersebut, siapa pun yang mengunggah konten berbau kejahatan di media sosial dapat dipenjara dua tahun dan didenda 300.000 pounds Mesir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Bertabur Visual! Kenalan dengan 4 Cowok Idaman yang Rebutan Hati Roh Jeong Eui di Crushology 101
-
Prakiraan Cuaca Pekanbaru: Diguyur Hujan Ringan Hari Ini
-
Mangkrak 10 Tahun, Stadion Utama Sumbar Kini Kembali Bergeliat
-
Gus Yahya Klaim PBNU Tak Lagi Kejar Politik Elektoral, Kini Fokus Kawal Nilai
-
Meski Pendapatan Naik, Tapi Rugi WIKA Masih Rp1,48 Triliun
-
Rupiah Paling Lemah se-Asia Pagi Ini di Level Rp17.754/USD
-
Prabowo Kembali ke Jombang, Hadiri Penutupan Muktamar NU ke-35
-
Buruan Antre, Harga Emas Antam Masih Dipatok Rp2,67 Juta/Gram
-
Begini Strategi Rebranding Emiten Bank BCIC
-
3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship