Suara.com - Ketika seluruh dunia tengah direpotkan dalam menangani pandemi Covid-19, ada sejumlah negara yang tak memiliki kasus Covid-19 sama sekali hingga kini. Meski begitu, dampak pandemi Covid-19 tetap dialami oleh negara tersebut.
Hanya ada 10 negara anggota PBB yang tidak memiliki kasus Covid-19, yakni pulau-pulau di Samudera Pasifik yang terdiri dari Republik Palau, Mikronesia, Republik Nauru (negara mikro Mikronesia), Republik Kepulauan Marshall, Republik Kiribati, Kepulauan Solomon, Tuvalu, Negara Independen Samoa, Republik Vanuatu, dan Kerajaan Tonga.
Untuk menjaga kawasan pulau tetap terlindungi dari virus corona, mereka secara agresif menutup perbatasan wilayah. Dikutip dari Fox news, pembatasan paling ketat pada sektor pariwisata, di mana menjadi sumber ekonomi terpenting.
Meski begitu, langkah itu dinilai tepat dengan sementara waktu mengorbankan ekonomi untuk mencegah Covid-19. "Saya pikir mereka melakukan pekerjaan dengan baik," kata Brian Lee, salah satu pemilik hotel di Republik Palau, mengatakan kepada BBC.
Pemerintah setempat menutup secara fungsional perbatasan republik Palau sejak Maret. Namun, jika perbatasan Palau tidak kunjung dibuka, bahkan dengan dukungan keuangan negara, Lee berpikir mungkin harus menutup bisnisnya.
"Saya bisa tinggal selama setengah tahun lagi," kata Lee. Sebelum pandemi, Lee biasanya mendapatkan tingkat hunian 70 hingga 80 persen. Tetapi sekarang dirinya harus berjuang untuk membuat stafnya yang terdiri dari 20-an orang tetap sibuk.
Sementara itu di Kepulauan Marshall, pembatasan wilayah juga sangat berdampak buruk pada hilangnya berbagai pekerjaan. Kebanyakan di bidang perhotelan dan industri perikanan yang diperkirakan beberapa laporan kegiatan ekspor menurun hingga 50 persen.
Meski begitu, para ahli masih sepakat bahwa memprioritaskan kesehatan penduduk daripada kekayaan mereka adalah langkah yang tepat.
“Bahkan jika perbatasan tetap terbuka, pasar pariwisata utama mereka di Australia dan Selandia Baru tidak akan terbuka, karena mereka telah mengunci perbatasan juga,” ucap Jonathan Pryke, direktur program kepulauan Pasifik di sebuah kebijakan internasional independen.
Baca Juga: PBB: Bencana Generasi, Satu Miliar Anak Sekolah Terdampak Pandemi
"Jika pulau-pulau itu memilih untuk memprioritaskan ekonomi, mereka akan mengalami kondisi terburuk, krisis kesehatan dan krisis ekonomi," tambah Pryke.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
-
Toner Viva untuk Kulit Berminyak dan Berjerawat? Ini 3 Varian yang Banyak Diulas Bagus
-
Minum Susu Saat 1 Muharram Sunnah atau Bid'ah? Ini Penjelasan Buya Yahya
-
Baca Surat Yasin hingga Bermuhasabah, Ini 7 Amalan 1 Muharram yang Paling Dianjurkan
-
Doa Awal Tahun Muharram yang Dibaca Selepas Magrib di Malam Tahun Baru Hijriah
-
5 Tempat Wisata Legend di Jakarta yang Selalu Ramai Pengunjung
-
Minum Susu Putih Malam 1 Suro Baca Doa Apa? Ini Hukum Meminumnya saat 1 Muharram
-
Self-Love Bisa Dimulai dari Mandi, Harashta Haifa Pilih Aroma Sabun yang Bikin Mood Naik
-
Abel Cantika Pilih Busana Anak Bertema Karakter, Ini Manfaatnya bagi Tumbuh Kembang Si Kecil
-
4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian