Suara.com - Sampah rumah tangga menjadi jenis sampah terbesar di Indonesia, yang sebagian besar merupakan sampah organik. Dalam satu hari, ada 175 ribu ton sampah baru dari sektor rumah tangga. Dalam satu jam, rumah tangga di Indonesia menyumbang sampah sebanyak 7300 ton. Atau agar lebih jelas gambarannya, jika sampah dalam satu jam tersebut ditumpuk, maka tingginya dapat mencapai setengah tinggi Tugu Monas di Jakarta.
Dan salah satu cara untuk mengurangi sampah rumah tangga adalah dengan mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos. Lewat kutipan artikel Rumah.com, portal properti terdepan di Indonesia berikut ini, Anda dapat mengetahui cara membuat kompos untuk membantu menyuburkan tanaman di rumah.
Manfaat Kompos
Jika tidak dimulai dari Anda, semua sampah rumah tangga akan berakhir di TPA dan menyebabkan penumpukan sampah. Padahal, selain mudah, membuat pupuk kompos juga memiliki segudang manfaat, misalnya:
- Meningkatkan kesuburan tanah.
- Meningkatkan daya serap air pada tanah.
- Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
- Memperbaiki struktur dan kualitas tanah.
- Memperbaiki kualitas hasil panen.
- Membatasi pertumbuhan hama tanaman.
- Mengurangi tingkat kekasaran struktur tanah.
- Ramah lingkungan.
- Mengurangi jumlah sampah organik.
- Membantu pemerintah mengolah sampah rumah tangga.
- Mengurangi bau tidak sedap pada sampah.
- Melestarikan lingkungan.
Agar Anda tidak turut berkontribusi dalam meningkatnya limbah plastik, simak informasi yang dikutip dari artikel Rumah.com berikut ini.
Langkah 1: Memilah Sampah
Pisahkan dulu bahan-bahan yang bisa dijadikan kompos dan yang tidak bisa. Pengelompokannya dapat dilakukan seperti berikut ini:
- Sampah sisa makanan dari sayur-sayuran, kulit buah, dan daging
- Bumbu dapur yang sudah kedaluwarsa.
- Potongan kayu.
- Daun-daunan.
- Potongan rambut.
- Bulu hewan yang rontok.
- Debu belakang lemari es.
- Kotoran hewan peliharaan.
- Kertas bekas dan sampah tisu.
Langkah 2: Siapkan Bahan dan Alat
Berikut ini bahan dan alat yang Anda butuhkan untuk membuat kompos.
Bahan:
Sampah organik yang sudah dipilah. Anda bisa memotong-motong sampah organik seperti kulit buah dan bahan lainnya menjadi berukuran 1 – 2 cm. Hal ini untuk mempercepat proses pengomposan.
Baca Juga: Mudah Dilakukan, Ini Cara Atasi Sampah Organik di Rumah
Alat:
- Wadah besar, ember, atau tong yang dilengkapi penutup agar pupuk yang akan dibuat tidak terkontaminasi. Berikan lubang pada bagian bawahnya, lalu tempatkan di atas susunan batu supaya tidak menyentuh tanah secara langsung dan meminimalkan wadah agar tidak terkena air. Jika ingin sesuatu yang lebih simpel, kini telah tersedia organic compost bag yang dapat Anda temukan dengan harga terjangkau di marketplace.
- Sarung tangan.
Ingin tahu lebih detail soal lokasi rumah incaran Anda? Temukan informasi mendalamnya di https://www.rumah.com/areainsider Rumah.com.
Langkah 4: Pemrosesan
Setelah bahan dan alat yang dibutuhkan sudah lengkap, berikut ini langkah membuat pupuk kompos.
- Masukkan tanah secukupnya ke dalam wadah yang telah diisi dengan sampah organik. Ketebalannya bisa Anda sesuaikan dengan wadah dan jumlah sampah organik.
- Siram permukaan tanah menggunakan air secukupnya.
- Masukkan sampah organik yang sudah disiapkan ke dalam wadah. Ratakan sampah ke seluruh tanah dan usahakan agar ketebalan sampah setara dengan ketebalan tanah.
- Masukkan kembali tanah ke dalam wadah. Kali ini tanah berperan sebagai penutup sampah.
- Tutup wadah dengan rapat dan biarkan sekitar tiga minggu.
- Setelah itu, yang harus diperhatikan adalah memastikan wadah pembuat pupuk kompos tidak terkontaminasi oleh air hujan dan hewan serta wadah tidak boleh terpapar sinar matahari.
Langkah 5: Pematangan
Setelah proses penguraian, Anda perlu menunggu paling sedikit 3-6 minggu, tetapi ada juga yang menunggu hingga 3 bulan untuk hasil yang lebih maksimal. Apabila setelah 3-6 minggu sampah organik tidak mengeluarkan bau busuk dan hanya bau tanah, maka pupuk kompos Anda siap digunakan untuk bercocok tanam.
Ciri-ciri pupuk kompos Anda memiliki kualitas yang baik adalah memiliki warna cokelat tua hingga hitam seperti tanah, memberikan efek yang baik saat digunakan di tanah, tidak larut dalam air, tidak berbau, dan suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
5 Serum Lokal untuk Mencerahkan Wajah, Bye-Bye Kulit Kusam dan Noda Hitam
-
5 Parfum Wangi Minyak Telon, Aromanya Lembut dan Bikin Tenang
-
5 Mesin Cuci Front Loading Langsung Kering Tanpa Jemur, Baju Bisa Langsung Dipakai
-
5 Zodiak Paling Hoki Soal Keuangan dan Karier pada 13 April 2026
-
5 AC Portable Mini Watt Kecil untuk di Kamar: Angin Semriwing, Anti Ribet Pemasangan
-
7 Mesin Cuci 2 Tabung yang Awet dan Hemat Listrik, Cucian Cepat Kering dan Bersih Maksimal
-
Pilah Sampah dari Sumber, Jalan Nyata Jakarta Tekan Timbulan hingga Tuntas
-
Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir
-
Kemenekraf Dukung IDD Pavilion Tembus Dunia, Target Ubah Citra Indonesia Jadi Pusat Desain Global
-
Bagaimana Cara agar Cushion Tidak Luntur Saat Berkeringat? 7 Tips Makeup Tahan Lama di Cuaca Panas