Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 17 Juli 2021 | 06:55 WIB
Ilustrasi hoaks, berita bohong (Pixabay)

1. Satire atau parodi

Informasi yang dibuat untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang, biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Satir umumnya dibuat tanpa maksud untuk mengelabui orang yang melihatnya karena hanya bersifat sindiran.

Namun, bagi yang tidak memahami gaya bahasa ini dapat terkecoh dan menganggap informasi yang dilihatnya sebagai sebuah kebenaran, terutama ketika yang menyampaikannya tidak secara jelas menyatakan bahwa informasi tersebut satir.

2. Konten yang menyesatkan

Penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu. Biasanya informasi ditampilkan dengan menghilangkan konteksnya untuk menggiring persepsi publik agar sesuai dengan keinginan pembuat informasi tersebut.

3. Konten tiruan

Informasi yang dibuat mirip dengan aslinya dengan tujuan untuk mengelabui publik, seperti situs web yang dipalsukan agar pengunjungnya tertipu dan menganggap situs tersebut adalah situs aslinya.

4. Konten palsu

Konten baru yang 100 persen salah, sengaja dirancang dan dibuat untuk mengelabui pembacanya. Pembuatan konten palsu ini dapat dilatarbelakangi oleh berbagai tujuan, baik keuntungan finansial, propaganda, maupun kepentingan politik, sehingga berpotensi menyesatkan dan bahkan membahayakan masyarakat.

Baca Juga: Cegah Remaja dari Hoaks Vaksin Covid-19 di Medsos, Begini Saran IDAI

5. Koneksi yang salah

Ketika judul, gambar atau keterangan tidak mendukung konten yang sebenamya. Salah satu contohnya adalah metoda click bait, membuat judul atau gambar yang mengundang orang untuk mengklik tautan yang tersedia dengan bentuk yang provokatif, menarik dan sensasional, padahal kontennya sendiri tidak 'seheboh' judulnya.

6. Konten yang salah

Ketikan konten yang asli disampaikan dalam konteks yang salah, dimana sebuah informasi (tulisan, gambar atau video) yang benar ditempatkan dalam konteks yang tidak sesuai aslinya.

7. Konten yang dimanipulasi

Informasi yang asli dimanipulasi dengan tujuan menipu. Bisa jadi hanya sekedar iseng, tetapi bisa juga bertujuan untuk memprovokasi, menyebarkan propaganda, maupun untuk kepentingan politik.

Cara terhindar dari berita hoaks

Agar hoaks dapat ditekan tingkat penyebarannya, kita harus dapat menjadi warganet yang cerdas, yang dapat berpikir kritis ketika menerima sebuah informasi dan tidak tergesa untuk menyebarkannya.

Jika kita menerima sebuah informasi, maka informasi tersebut perlu disaring terlebih dahulu. Yang pertama adalah dengan mencari tahu apakah informasi tersebut benar atau tidak, jika tidak benar maka dapat dikatakan bahwa informasi tersebut adalah hoaks.

Jika benar pun jangan langsung disebarkan, tetapi ditelaah apakah informasi tersebut memberikan manfaat jika kita sebarkan. Jika memang bermanfaat, harus pula dipikirkan apakah informasi tersebut memang perlu untuk disebarkan.

Dan jika memang dirasa perlu disebarkan, pikirkan lagi apakah harus disebarkan sekarang juga atau tidak ada kepentingan yang mendesak.

Untuk mengetahui apakah sebuah informasi itu hoaks atau bukan, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti mencari di situs pencari fakta, mencarinya di google, menggunakan apliaksi Hoax Buster Tools dan lain sebagainya.

Load More